<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430</id><updated>2011-12-31T12:09:17.952+07:00</updated><category term='pikiran jernih'/><category term='serpihan bangsa'/><category term='serpihan reformasi'/><category term='serpihan di KPU'/><title type='text'>borderless...</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>42</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-8303126833751235189</id><published>2011-01-04T12:10:00.004+07:00</published><updated>2011-01-04T12:14:06.537+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan reformasi'/><title type='text'>kenaikan kelas rakyat di 12 tahun reformasi...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/TSKsIQZQrOI/AAAAAAAAAQ4/Pt9nlgsnzbc/s1600/kemajuan%2Bekonomi%2Breformasi.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 126px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/TSKsIQZQrOI/AAAAAAAAAQ4/Pt9nlgsnzbc/s320/kemajuan%2Bekonomi%2Breformasi.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558194147968462050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa reformasi 1998 merupakan salah satu milestone kehidupan Indonesia baik sebagai bangsa pun bernegara. Momentum tersebut memiliki peluang membuat percepatan kemajuan Indonesia. Kepemimpinan nasional yang saat itu dianggap sebagai penghambat kemajuan pun berganti. Kepemimpinan di orde reformasi kemudian bergulir dengan cukup cepat. Ada Habibie, Gus Dur, Megawati dan kini SBY. Keempat pemimpin negara ini menjalankan roda nusantara dalam rentang waktu 12 tahun. Bagaimana kemajuan yang telah dicapainya?. Menilai sekilas dapat mengaburkan dan cenderung emosionil. Menghirup lebih dalam dengan melakukan penelusuran sederhana akan mendapatkan sketsa sederhana. Pertanyaan kuncinya, Adakah perbedaan signifikan kenaikan kelas ekonomi masyarakat yang dicapai selama 12 tahun reformasi ?. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan data statistik harian Kompas, 03 Januari 2011, sangat menarik. Indonesia disandingkan dengan sesama negara yang memiliki penduduk besar di dunia, yaitu China. Bagaimana menurut teman ?.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-8303126833751235189?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/8303126833751235189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=8303126833751235189' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/8303126833751235189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/8303126833751235189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2011/01/kenaikan-kelas-rakyat-di-12-tahun.html' title='kenaikan kelas rakyat di 12 tahun reformasi...'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/TSKsIQZQrOI/AAAAAAAAAQ4/Pt9nlgsnzbc/s72-c/kemajuan%2Bekonomi%2Breformasi.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-8997726955893659999</id><published>2011-01-03T13:38:00.004+07:00</published><updated>2011-01-03T14:57:30.093+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Cukupkah hanya dengan PPLB ?.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/TSGBMgxCNoI/AAAAAAAAAQw/Y7pcSAfKq6c/s1600/DSC08763.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/TSGBMgxCNoI/AAAAAAAAAQw/Y7pcSAfKq6c/s320/DSC08763.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557865467105916546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perbatasan kini menjadi salah satu trending-topic dalam agenda KIB Jilid 2. Pendekatan keamanan (sangat) perlahan berubah menjadi pendekatan kesejahteraan. Di Kalbar sendiri, setelah lama hanya dengan satu PPLB di Entikong, digagas pembukaan 3 PPLB lainnya, yaitu di Aruk, Kab. Sambas; PPLB Badau, Kab. Kapuas Hulu dan PPLB Jagoi Babang di Kab. Bengkayang. Pukul 11.00, tanggal 01-01-2011, telah diresmikan PPLB (Pos Pemeriksanaan Lintas Batas) di Aruk (Indonesia)-Biawak (Malaysia). &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan PPLB ini diharapkan dapat mempercepat upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar PPLB. Maka, tak salah bila PPLB menjadi salah satu solusi percepatan pembangunan masyarakat di perbatasan sebagaimana terjadi di daerah Entikong. Nyaris pandangan ini secara konsep dan realita sekelebat demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila kita melihat perkembangan masyarakat di daerah Entikong, maka pemerintah perlu hati-hati untuk cukup puas hanya dengan PPLB serta sarana fisik pendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Cukup Hanya PPLB&lt;br /&gt;Bagi Ara (30), pemuda di Jagoi Babang, pembukaan PPLB bermakna matinya roda perekonomian masyarakat lokal yang selama ini menjadi pemain kecil ekonomi perbatasan dengan pemain besar yang memiliki back kuat. "tengoklah bang, bile ada PPLB, apa bisa warga bebas seperti ini dengan motor bolak-balik membawa barang dagangan ke Serikin, Malaysia?". Ujarnya. "kalau dah ade PPLB, hanya pemain-pemain besar saja yang bisa leluasa bermain. tengoklah di Entikong" ungkapnya menggugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang keseharian warga di sekitar Jagoi Babang dan Kecamatan Seluas pada umumnya telah terbiasa lalu lalang membawa berbagai barang dagangan. Bahkan dari Pontianak juga ada. Salah satunya Sirajuddin (57). Warga Banjar Serasan, Kec. Pontianak Timur ini setiap minggu pulang pergi berjualan ke Pasar Serikin, Malaysia. Ia telah 8 tahun berjualan di Pasar Serikin. Sebelumnya ia berjualan di Pasar Entikong, Indonesia. Namun karena semakin hari keamanan di sekitar Pasar Entikong, berangsur pedagang pindah ke Pasar Serikin, Malaysia. "saye dolok bedagang di Entikong, tapi lama-lama sepi, orang ramai pindah ke sini". ungkap Sirajuddin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirajuddin dan Ara melihat program pemerintah nyaris tak menjawab kebutuhan masyarakat. Pasar yang dibangun di Entikong dengan harapan membuat lebih baik justru tak berfungsi. PPLB yang ada di Entikong terbukti menjadi sarana lalu lintas darat perdagangan perempuan terbesar antar negara di Indonesia. Selain Pasar di Entikong, Pemerintah tengah membangun Pasar di daerah Seluas dengan harapan pedagang di Pasar Serikin pindah ke Indonesia dan warga Malaysia masuk ke Indonesia untuk berbelanja. Sirajuddin pesimis dengan rencana tersebut, "sulit rasanya orang Malaysia mau datang ke tempat kita. disini (pasar serikin) keamanan terjamin dan daerah mereka sendiri. Saya sendiri belum taulah nanti akan nempati pasar itu ape ndak" ujar Sirajuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya mempersoalkan kepastian hukum yang tak sungguh-sungguh ditegakkan. Ara justru khawatir, bila PPLB yang sedang diperjuangan untuk daerah Jagoi Babang akan berdampak mematikan warga lokal Seluas yang selama ini bergantung hidupnya dengan perdagangan di daerah perbatasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan kesejahteraan yang didengungkan oleh pemerintah tak cukup hanya sebatas PPLB. Lebih jauh lagi membuka diri mendengarkan aspirasi serta mencermati kondisi yang ada pada masyarakat sekitar perbatasan secara ekonomi dan budaya mutlak dibutuhkan. Sudah saatnya diterapkan pendekatan pembangunan berbasis komunitas yang utuh melihat masyarakat perbatasan tidak semata-mata dari sisi ketertinggalan sarana, namun dari sisi kekuatan ekonomi lokal yang telah ada serta tata-nilai yang sudah berkembang. Sehingga semangat membangun perbatasan tidak akan memarjinalkan masyarakat perbatasan atau justru menghancurkan mereka. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-8997726955893659999?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/8997726955893659999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=8997726955893659999' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/8997726955893659999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/8997726955893659999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2011/01/cukupkah-hanya-dengan-pplb.html' title='Cukupkah hanya dengan PPLB ?.'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/TSGBMgxCNoI/AAAAAAAAAQw/Y7pcSAfKq6c/s72-c/DSC08763.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-3154949881256268588</id><published>2011-01-03T09:47:00.006+07:00</published><updated>2011-01-03T13:36:54.511+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Sinyal HP di Tiang SD di Perbatasan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/TSFt8pfuiFI/AAAAAAAAAQo/bMrAfTfuAOQ/s1600/tiang%2Bsinyal%2BHP%2Bdi%2BSD%2Bperbatasan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/TSFt8pfuiFI/AAAAAAAAAQo/bMrAfTfuAOQ/s400/tiang%2Bsinyal%2BHP%2Bdi%2BSD%2Bperbatasan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557844303850408018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Daerah perbatasan identik dengan ketertinggalan. Isu memajukan daerah perbatasan belakangan ini kerap terdengar kencang. Pemerintah pun membahasnya dan Presiden telah mengeluarkan Kepres membentuk Badan Pengelola Perbatasan. Harapannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan agar halaman depan Negara ini sedap dipandang tetangga.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman pernah menulis di media nasional tentang perbatasan dengan ungkap, “satu daratan, dua peradaban”. Ungkapan tersebut menggambarkan betapa jauhnya perbedaan kehidupan masyarakat Indonesia dan Malaysia di Pulau Kalimantan. &lt;br /&gt;Selain infrastruktur dan akses moda transportasi, sarana komunikasi seluler pun barang mahal dan langka di daerah perbatasan. Bukan HP-nya yang mahal dan langka, namun sinyal. Di salah satu perkampungan wargadi daerah Saparan, Kec. Jagoi Babang, Kab. Bengkayang contohnya. Tak mudah untuk mendapatkan sinyal HP. Tentunya ini bukan salah perusahaan telekomunikasi Indonesia yang tak memperhatikannya. Pengalaman berikut didapat saat melakukan monitoring program pendidikan Dompet Ummat di daerah Perbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan mendapatkan sinyal tak membuat warga Saparan menyerah, termasuk para Guru di SD 05 Saparan. “sinyal HP disini susah didapat, kita harus usaha ekstra” ujar Jaka, salah satu guru di SD 05 Saparan. “tapi disekolah kita ada tiang sinyal” lanjut Jaka. Di lokal SD 05 Saparan, sinyal rupanya hanya ada di satu tiang ruang guru. Pun caranya mengaksesnya terbilang unik. Untuk setiap Guru yang ingin menelpon dengan HP, harus memasukkan HP-nya ke satu kantong plastik yang dipaku di bagian tengah tiang kayu ruang guru tersebut. Ketika menggunakannya harus menempelkan kuping ke HP yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastic tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mencoba menelpon di sekitar tiang tersebut tanpa memasukkan HP kedalam plastic tidak ada sinyal. Namun ketika HP saya masukkan ke dalam plastik dan coba menelpon keluar, dapat mengaksesnya. &lt;br /&gt;“yang menemukannya salah satu guru kita. Dia penasaran dan ketika HP iseng-iseng ditempel ke kayu ini dapat sinyal. Akhirnya agar mudah menelpon, kita paku dan beri plastik sebagai tanda dan tempat yang ada sinyal HP”.  Ujar Jaka. &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-3154949881256268588?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/3154949881256268588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=3154949881256268588' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/3154949881256268588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/3154949881256268588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2011/01/sinyal-hp-di-tiang-sd-di-perbatasan.html' title='Sinyal HP di Tiang SD di Perbatasan'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/TSFt8pfuiFI/AAAAAAAAAQo/bMrAfTfuAOQ/s72-c/tiang%2Bsinyal%2BHP%2Bdi%2BSD%2Bperbatasan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-9068455782210766235</id><published>2011-01-03T09:44:00.002+07:00</published><updated>2011-01-03T09:46:16.332+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Zakat Maal Yang Membunuh</title><content type='html'>Dari mustahik menjadi muzakki !. Ungkapan yang secara normatif kerap didengungkan tokoh Ummat, pengusaha besar, petinggi negeri dan daerah. Hingga katakanlah Ahmad, seorang muzakki Dompet Ummat mengeluhkan kepedulian yang membunuh. Kepedulian yang membunuh dimaknai Ahmad dengan pamer kebajikan yang sesaat menyentuh hati. Membagi zakat maal secara massal dan tunai  untuk kaum tak berpunya yang masih kuat dan dapat bekerja adalah sebabnya.” Secara niat sudah tepat, namun caranya itu justru membenamkan mustahik lebih dalam ke lembah kemiskinan. Setiap tahun dengan menengadahkan tangan mendapatkan uang. Tanpa bekerja !”. ungkap Ahmad menyampaikan keresahannya. “bila dana sebesar tersebut dikelola dengan kegiatan yang memandirikan, maka dalam jangka panjang mungkin akan lahir muzakki-muzakki baru” lanjutnya. Dan diri ini hanya bisa terdiam mendengarnya. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ungkapan Ahmad tersebut mewakili sejumlah pandangan kalangan yang berkeinginan agar dengan potensi ummat yang ada, dapat terbangun kemandirian. Niat yang baik tanpa melakukannya dengan cara yang efektif, kerap berdampak negatif. Maka, jangan heran bila mengemis dan meminta-minta kini menjadi bisnis tersendiri. Hadir juga fenomena proposal kemiskinan yang dibuat secara fiktif namun cukup meyakinkan. Fenomena ini akan terus terjadi manakala diperlihara oleh Ummat. Seorang tokoh pegiat zakat menyebutnya dengan pameran kebijakan. Aktifis LSM mengatakannya dengan program sinterklas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, produktifitas yang berbuah kemandirian akan terbunuh. Wajar bila Inah, seorang buruh cuci pakaian rumahan mengikuti jejak Siti yang menjadi peminta-minta. Inah dan Siti tinggal berdekatan di salah satu sudut kota Pontianak. Hanya dengan meminta-minta, Siti bisa mendapat Rp. 30.000 – 50.000 per hari di ramadhan. Sedangkan Inah, harus mencuci pakaian dan tetap menjaga puasanya, hanya mendapat Rp. 150.000 per bulan atau Rp. 5.000 per hari. Maka, jangan heran bila pengemis terus bertambah. Bisa jadi mereka yang awalnya hanya ikut-ikutan meminta-minta di ramadhan akan masuk zona nyaman mengemis. Maka, kehadiran kampong pengemis di Kota Pontianak dan sekitarnya tinggal menunggu waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladan mengelola kemiskinan dengan pendekatan produktif telah dicontohkan Rasulullah. Pada satu hari datang seorang badui miskin meminta makanan kepada Nabi. kemudian Nabi bertanya: “barang apa yang engkau miliki di rumah?”. “Di rumah kami ada bejana besar yang kami pakai untuk makan, minum dan mencuci, dan sebuah hambal (sejenis tikar/terpal) yang sebagian kami pakai sebagai tikar dan sebagian lagi kami jadikan selimut, dan selain dua barang itu tidak ada lagi ya Rasulullah,” kata Badui tersebut. Oleh Rasulullah kedua barang tersebut dilelang kepada para sahabat dan terjual dua dirham. “satu dirham belikan makanan untuk keluargamu dan satu dirham lainnya belikan kapak dan bawalah kapak itu kepadaku”.  perintah Nabi. Beberapa saat kemudian Badui miskin itu datang kepada Nabi membawa kapak, lalu Nabi mengambil sepotong kayu dan langsung membelahnya untuk memberikan contoh kepada Badui tersebut. Selanjutnya Nabi bersabda “dengan kapak ini pergilah engkau mencari kayu untuk dijual, aku tidak ingin melihat kamu selama lima belas hari.” Maka setelah lima belas hari, Badui miskin itu datang dengan pakaian yang lebih bagus dan menenteng makanan yang cukup banyak. Dengan wajah berseri Nabi bersabda “bekerja semacam itu lebih baik bagimu dari pada meminta-minta yang kadang-kadang engkau diberi dan tidak jarang engkau diusir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah indahnya bila masyarakat yang berkemampuan (muzakki) di Kota Pontianak dan Kalbar dapat menyalurkan zakat maalnya secara produktif. Memang tidak ada kewajiban untuk menyalurkan zakat maal kepada satu tempat. Bila muzakki memiliki keahlian dan menyalurkan langsung dengan mencontoh Rasulullah merupakan kebaikan. Selain kewajiban terpenuhi, sunnah pun didapat. Bila kesulitan, tak salah bila menyalurkannya ke lembaga zakat yang ada. Sejumlah lembaga zakat telah hadir dengan semangat memberi pilihan kepada para muzakki. Tinggal muzakki melihat lembaga zakat yang dipercayanya. Dompet Ummat salah satunya. Didirikan tahun 2001, memiliki fokus untuk mengentaskan mustahik menjadi muzakki. Berbagai program pendidikan dan ekonomi telah dan akan terus dilakukan. Tak sedikit diantara mustahik yang menerima penyaluran program dari Dompet Ummat kini telah mandiri, bahkan menjadi donatur. Insya Allah Dompet Ummat didedikasikan menjadi lembaga nirlaba milik masyarakat Kalbar. Sejak tahun 2007, laporan keuangan telah teraudit dengan hasil WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dan dana terkelola pada tahun 2009 sebesar Rp. 1,6 Milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ramadhan dua tahun lalu, 15 September 2008, H. Syaikon, seorang pengusaha sukses di Pasuruan membagikan sebagian rejekinya secara tunai kepada ribuan orang di sekitar tempat tinggalnya. Niat H. Syaikon mulia, berbagi peduli. Namun dengan pendekatan yang keliru. Niat baik tersebut berbuah musibah. 20 orang tewas di hari itu karena zakat. Semoga tradisi berzakat maal membunuh tak lagi terulang. Baik membunuh secara fisik, maupun yang membunuh kemandirian kaum fakir miskin. &lt;br /&gt;Wallahu A’lam Bisshowab.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-9068455782210766235?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/9068455782210766235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=9068455782210766235' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/9068455782210766235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/9068455782210766235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2011/01/zakat-maal-yang-membunuh.html' title='Zakat Maal Yang Membunuh'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-4648482990566960953</id><published>2011-01-03T09:35:00.004+07:00</published><updated>2011-01-03T09:41:49.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Entrepreneur Desa</title><content type='html'>(Akselerasi pembangunan desa/daerah tertinggal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun desa seolah semakin sulit dan rumit, terlebih desa di daerah tertinggal. Mindset ketakberdayaan mereka di daerah tertinggal menghasilkan cara pandang memposisikan mereka sebagai daerah yang nyaris (bahkan tidak sama sekali) tak memiliki kemampuan. Maka, beragam program yang dikucurkan ke daerah-daerah tersebut dominannya identik dengan kegiatan non ekonomi. Kalaupun dikembangkan kegiatan ekonomi bertumpu dari cara pandang bahwa masyarakat di daerah tertinggal tidak memiliki keberdayan ekonomi. Maka, intervensi program yang dilakukan mentargetkan membangun kultur wirausaha. Dengan demikian paradigma program yang dilakukan adalah pelayanan dan pemberdayaan. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang diatas hingga kini menjadi mainstream kebijakan pemerintah dan pihak lain yang terlibat dalam sektor nirlaba. Terlebih memang faktanya, sangat banyak kemiskinan di masyarakat dan daerah tertinggal yang membutuhkan intervensi layanan dan pemberdayaan. Dengan intervensi tersebut, diharapkan tingkat kerentanan masyarakat miskin tidak semakin dalam dan terbangun potensi kemandiriannya.&lt;br /&gt;Untuk percepatan pengentasan kemiskinan, sudah saatnya dibangun pendekatan alternative seiring dengan semakin tumpulnya pendekatan mainstream. Pendekatan alternative ini dibangun dari dua prinsip tentang kemiskinan. Pertama, kemiskinan itu bukanlah karena ketiadaan sumber daya, melainkan karena ketidakmampuan mengelola sumber daya yang ada. Kedua, nasib suatu masyarakat ditentukan oleh masyarakat itu sendiri. Maka upaya mengurangi kemiskinan pun sejatinya bergantung pada masyarakat itu sendiri.. Dua prinsip ini secara akademis dibangun dengan mazhab Ilmu Ekonomi Berbasis Kenyataan (Reality Based Economy) yang pernah popular hingga abad 19 dan kini ditinggalkan. Dengan dua prinsip tersebut, diretas satu pendekatan baru dalam pembangunan ekonomi di desa atau daerah tertinggal. Salah satunya adalah pendekatan ekonomi yang bertumpu pada pelaku ekonomi lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Entrepreneur Desa&lt;br /&gt;Bila kita memperhatikan kehidupan di pedesaan atau sejumlah desa yang berdekatan, disetiap desa termasuk daerah tertinggal, selain banyak masyarakat yang tak memiliki keberdayaan atau miskin, terdapat segelintir masyarakat yang menjadi pelaku utama ekonomi di desa. Sebagian dari mereka menjadi induk-semang dari warga yang kurang. Biasanya mereka memiliki toko, pengumpul hasil pertanian/perkebunan masyarakat sekitar, pemilik sawah atau kebun hingga perintis dan pemilik usaha kerajinan khas di desa tersebut. Karakteristik mereka umumnya berasal dari keluarga yang secara kultural memiliki akses pada kemajuan pembangunan. Mereka terdidik (baik karena tempaan pengalaman hidup maupun secara formal karena sekolah atau kuliah), memiliki jiwa sosial/kepedulian yang tinggi serta menjadi bagian dari opinion leader. Seiring perkembangan kemajuan teknologi informasi, ada dua kelompok entrepreneur desa, yaitu kalangan tua yang belum friendly dengan teknologi informasi dan kalangan muda yang telah friendly dengan teknologi informasi. Selain karakteristik tersebut, kekuatan utama para entrepreneur desa tentulah mental mandiri dan pekerja keras.&lt;br /&gt;Para entrepreneur desa ini memiliki peran vital dalam roda pembangunan desa, tidak hanya dalam perekonomian. Mereka menjadi opinion leader dalam bidang pendidikan, sosial, budaya bahkan politik. Bersama dengan itu, mereka juga menjadi “filter” terhadap nilai atau budaya yang tidak baik untuk desanya. Peran sebagai agen perubah menjadi signifikan karena keberadaannya dipandang lebih dan kerap menjadi tempat bertanya masyarakat awam. Karenanya, peran entrepreneur desa biasanya juga memegang posisi kultural, politis atau pemerintahan desa yang memadai di tingkat lokal. Mulai dari kepala desa, guru, tokoh agama, tokoh politik dan tokoh pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemitraan Three in One&lt;br /&gt;Pembangunan ekonomi lokal berbasis pada sumber daya lokal tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam lokal atau kearifan lokal, namun juga bersinergi dengan para entrepreneur lokal. Dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya, mereka menjadi kelompok yang dapat diharapkan untuk mengembangkan perekonomian desa secara akseleratif. Ditangan mereka yang telah terbukti “berbuat” secara mandiri, tentunya memiliki ide, gagasan, kalkulasi ekonomi hingga cara serta pendekatan untuk memajukan desanya.&lt;br /&gt;Langkah sinergi entrepreneur desa dapat dilakukan dengan sejumlah pendekatan, salah satu formulanya adalah kemitraan three in one (3 in 1). Ada tiga bentuk intervensi yang dapat dilakukan pemerintah dengan bertumpu pada kekuatan entrepreneur desa guna meningkatkan kemampuan ekonomi desa atau daerah tertinggal. &lt;br /&gt;Pertama, memfasilitasi pengembangan skala ekonomi usaha individu para entrepreneur desa. Dukungan ini bisa dalam bentuk alih teknologi atau penerapan teknologi tepat guna, pemberian pembiayaan usaha yang menumbuhkan, menguatkan sebaran usaha atau bentuk lainnya. Tujuannya adalah dengan berkembang usahanya, akan berdampak bagi masyarakat sekitarnya. Dukungan yang diberikan secara spesifik dapat saja dilakukan untuk usaha-usaha tertentu milik para entrepreneur desa yang terkait dengan peningkatan taraf hidup warga sekitar atau memiliki multiplier-effect. &lt;br /&gt;Kedua, membuat forum entrepreneur desa. Forum ini menjadi sarana mempertemukan antar entrepreneur desa yang difasilitasi dengan tujuan menjadi forum tukar wawasan, jaringan, sinergi usaha antar sesama entrepreneur desa. Dengan forum ini dapat pula dicapai peluang-peluang pengembangan usaha bersama sebagai bentuk peningkatan daya saing entrepreneur desa. Dalam forum ini, sebaiknya difasilitasi oleh orang-orang yang telah memiliki pengalaman sukses mengelola program ekonomi pedesaan. Kecakapan fasilitator memegang peran penting untuk ikut mengembangkan kapasitas para entrepreneur desa yang bertukar pikiran dan gagasan. Pembahasan dalam forum ini bukan sebagaimana pembahasan program pembangunan umumnya atau memberi pembinaan pemberdayaan. Melainkan membicarakan pengembangan bisnis masing-masing. Keluaran aktifitas forum ini akan meningkatkan efisiensi usaha, memperluas usaha serta meningkatkan skala usaha dengan pendekatan learning by doing. Dengan forum dan pendekatan ini, setiap anggota forum memiliki potensi percepatan pengembangan usaha sesuai dengan kapasitas usaha yang dimilikinya. &lt;br /&gt;Ketiga, pemerintah dapat membentuk semacam gugus tugas mitra yang akan fokus dalam pengembangan entrepreneur desa ini. Khusus daerah tertinggal perlu menjadi perhatian. Para entrepreneur desa yang tumbuh di daerah tertinggal memiliki kecenderungan daya saing personal yang lebih tinggi karena tempaan alam yang tertinggal. Pada daerah tertinggal justru keberadaan entrepreneur desa ini menjadi mitra strategis. Gugus tugas mitra menjalankan fungsi mendukung pengembangan usaha para entrepreneur desa sesuai dengan kondisi khas daerah tertinggal. Secara umum, dapat dilakukan pengelompokkan gugus tugas mitra berdasarkan geografisnya. Misalkan, daerah pesisir, daerah pegunungan, daerah perbatasan. Dengan demikian anggota gugus tugas mitra memiliki kompetensi yang sesuai dengan karakteristik daerah tertinggal yang didukungnya.&lt;br /&gt;Dengan tiga bentuk intervensi yang meningkatkan taraf hidup para entrepreneur desa tersebut, mereka harus memiliki komitmen melakukan fungsi-fungsi sosial ekonomi untuk masyarakat disekitarnya. Katakanlah mereka memerankan diri menjadi pemberdaya masyarakat miskin atau entrepreneur sosial. Sesuatu yang mungkin telah mereka lakukan sehari-hari. Pewajiban ini dimaksudkan sebagai bagian integral dari ketiga intervensi tersebut. Dengan kapasitasnya, para entrepreneur desa yang berkomitmen melakukan kerja-kerja entrepreneur sosial tersebut akan menjadi mentor yang efektif untuk membantu warga mereka sendiri. Mereka memahami pendekatan yang tepat untuk warganya. Mereka telah memiliki kompetensi entrepreneur yang tumbuh seiring dengan kearifan lokal. Mereka juga memiliki kepedulian atas warganya. Maka, melibatkan mereka akan memangkas program pemberdayaan dengan biaya tinggi. Dengan meningkatnya usaha warga atau kemampuan ekonomi masyarakat di daerahnya, berdampak pada peningkatan denyut perekonomian desa semakin maju. Tentunya juga akan berdampak bagi mereka para Entrepreneur Desa dan pada akhirnya roda perekonomian desa akan meningkat secara nyata. Wallahu a’lam bisshowab.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-4648482990566960953?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/4648482990566960953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=4648482990566960953' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/4648482990566960953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/4648482990566960953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2011/01/entrepreneur-desa.html' title='Entrepreneur Desa'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-2743359462111188147</id><published>2010-04-22T22:06:00.000+07:00</published><updated>2010-04-22T22:07:29.904+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Jangan Mati PNS-preneur</title><content type='html'>Deru perubahan semakin cepat, tiada dapat dihindarkan. Mengelola perubahan bermuara pada tujuan dari setiap aktor perubah. Bisa untuk kepentingan pribadi sang aktor, kepentingan kelompoknya dan dapat pula untuk kepentingan publik.  Sedikit, bahkan sangat sedikit yang berorientasi kepentingan public secara nyata. Dalam konteks bernegara, paska 1998, salah satu agenda perubahan yang kerap dijanjikan tapi lebih sering alpa untuk dilakukan adalah reformasi birokrasi. Elit politik dan birokrat sering dan fasih membicarakan, baik jelang pemilukada hingga dalam pidato atau sambutan dihadapan rakyat. Namun tidak demikian bagi Neni dan Toro. Keduanya adalah sedikit dari anak negeri yang dapat diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Neni, 31 tahun, pegawai negeri yang bekerja di satu puskesmas. Keberadaannya disenangi dilingkungan kerjanya. Banyak pasien yang memilih diobati olehnya. Tangannya dingin, menurut bahasa orang tua setempat yang artinya bila pasien ditangani, merasa nyaman dan cepat sembuh. Layaknya puskesmas, setiap hari terdapat anak-anak yang diobati atau dibawa orangtuanya untuk berobat. Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Neni muncul ide, dia mulai berinisiatif membuat taman bermain  anak-anak di puskesmas tersebut. Aneh, namun bukankah sekarang kebaikan kerap dianggap aneh. Dia mengajak teman-temannya membawa boneka, mobil-mobilan serta mainan anak-anak yang bisa digunakan untuk taman bermain anak. Neni membuat taman bermain anak di puskesmas. Neni bekerja dengan total sebagai PNS. Tidak hanya bekerja, namun ia berkreasi sesuai kompetensinya. Tidak hanya memulai, Neni terus merawat puskesmasnya hingga akhirnya mendapat predikat sebagai puskesmas terbaik di Kotanya, bahkan meraih juara ketiga nasional untuk pelayanan prima. Buat Neni predikat juara tersebut tidak membuatnya bangga, baginya ini adalah wujud dari panggilan hati. Disaat banyak PNS membawa pulang beragam barang negara ke rumah, Neni justru membawa barang-barangnya ke kantor. Kini Neni tengah melanjutkan studi, ia mendapat beasiswa dari salah satu perguruan tinggi negeri. Meski terseok karena tidak 100% biaya dipenuhi dan pemdanya sendiri tiada memberi subsidi. &lt;br /&gt;Sementara Toro, 32 tahun, adalah mantan aktifis mahasiswa dengan pribadi yang resah. Tahun 1998 dirinya ikut dalam aksi-aksi reformasi yang berbuah perubahan. Sebagai aktifis, dirinya kerap bertemu pejabat, birokrat dan politisi. Usai kuliah, pilihan hidup menghadang. Keresahan dengan kultur birokrasi semakin kuat. Beberapa kali lowongan PNS diabaikan, hingga ia memutuskan untuk ikut. Toro bertekad tidak akan mencari jalan atau melayani oknum birokrat yang minta suap sebagai pelicin kelulusan. Ia berprinsip, untuk hasil baik harus dengan proses baik. Ia pun lulus… kini dijalaninya amanah sebagai PNS golongan III. Setiap hari ia tekun kerja layaknya PNS lain. Namun ia punya sikap, dimulai dari dirinya komit untuk bekerja bersih dan kreatif. Kreatifitasnya berbuah kepercayaan. Ia menjadi pegawai yang diandalkan di bagiannya. Bahkan rekan sekerja dilain bagian kadang meminta bantuannya. Ia kreatif memecahkan kebekuan birokrasi di tingkat bawah. Toro meyakini, bekerja sungguh-sungguh akan berbuat prestasi. Mengenai penghargaan, dirinya tak memusingkan. Baginya, Sunnatullah memiliki logikanya sendiri dan bukankah Tuhan tidak diam. Godaan senantiasa mengalir, namun komitmen akan sikap hidupnya berbuah kesabaran dan orient asi prestasi. Toro meyakini masa depan Bangsa Indonesia akan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhnya PNS-Preneur&lt;br /&gt;Kohor adalah istilah yang dipopulerkan Rhenald Kasali (RKS) dalam buku Membidik Pasar Indonesia yang dibuatnya tahun 1998. Konsep kohor (Cohort) mengacu pada Sosiaolog Norman Ryder. Menurut definisi ini, sebuah Cohort adalah suatu kelompok yang terdiri dari berbagai individu yang membentuk semacam suatu angkatan atau generasi. Nasib seseorang bisa berbeda-beda, tetapi sebagai sebuah cohort, merupakan suatu kumpulan yang bergerak beriringan dengan emosi dan memori yang sama. (RKS: 1998, 314). RKS mengelompokkan Kohor di Indonesia menjadi 6 kelompok (Perintis, Kemerdekaan, Tritura, Perang Dingin, Komputer dan Internet). Buku fenomenal tersebut sukses dengan serangkaian roadshow ke 10 kota di Indonesia tahun 1999. Dalam roadshownya, RKS langsung mempraktikkan keampuhan teori Kohornya dengan cemerlang, kreatif dan sederhana. Dengan menggunakan sejumlah lagu dari tahun 70-an, 80-an hingga 90-an, dapat terkelompok masing-masing generasi perang dingin, computer dan internet. Menurut RKS, Kohor Internet adalah generasi terakhir yang memiliki karakteristik lebih terbuka, lebih demokratis, lebih bebas mengkritik, materialistis, orang tua double income dan berorientasi pada investasi SDM. Kohor ini lahir setelah tahun 1970. &lt;br /&gt;Neni dan Toro adalah fenomena baru dari anak negeri yang kini muncul ditengah situasi semakin korupnya birokrasi. Keduanya relative berusia sama. Usia yang ketika dirinya kuliah berada pada suasana perubahan. Saat ketika keduanya menjadi mahasiswa terjadi reformasi. Bermula dari krisis moneter, tuntutan perubahan mengemuka di seantero negeri. Sejumlah kerusuhan melanda dan puncaknya Soeharto menyatakan mundur dari jabatan Presiden tanggal 21 Mei 1998 setelah menjabat Presiden selama 32 tahun. Peristiwa tersebut akan selalu diingat dan memberi bekas bagi seluruh rakyat Indonesia, peristiwa yang melahirkan Kohor baru. Karakteristik kohor reformasi tentunya mengalami sedikit perbedaan dengan karakteristik kohor internet. Pengelompokkan kohor internet berdasarkan perkembangan internet. Sedangkan dampak reformasi menghasilkan satu generasi baru yang salah satunya menginginkan kehidupan bernegara yang bersih, berorientasi prestasi dan secara nyata melayani.&lt;br /&gt;Iklim publik yang menginginkan tata kelola pemerintahan yang semakin baik, pengaduan beragam kasus mal-praktik dalam penerimaan PNS yang terbongkar, semakin transparan dan terbukanya proses penerimaan PNS adalah bagian dari tumbuh suburnya kehidupan birokrasi yang lebih baik. Neni dan Toro adalah dua dari ribuan PNS baru yang diterima bukan karena mereka anak pejabat atau pun karena melakukan suap. Mereka anak-anak negeri yang memilih menjadi PNS untuk mengabdi dengan nilai entrepreneur.  &lt;br /&gt;Sejatinya inilah momentum pemerintah mengambil kebijakan reformasi birokrasi 100%. Efektifitas reformasi birokrasi yang bila dilakukan secara jelas, tegas dan berjangka dengan ukuran-ukurannya akan memupuk tumbuhkembangnya kohor PNS-Preneur sebagai tulang punggung masa depan Indonesia. Karena mereka sungguh menjadi bagian resah dari anak-anak muda Indonesia akan tata kelola pemerintahan yang korup. Pada mereka masih terdapat asa untuk menjadikan negeri ini lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PNS-Preneur, Akankah Mati Muda?&lt;br /&gt;Hari-hari terakhir ini public dicuri perhatiannya oleh sosok Gayus Tambunan, usia 30 tahun, PNS di Depkeu golongan IIIA yang memiliki tabungan sekitar 25 Milyar rupiah. Keberadaanya mengejutkan banyak kalangan. Terlebih nyatanya Gayus masih muda dan menjadi bagian dari Kohor PNS-Preneur. Entahlah bagaimana akhir dari kasus Gayus. Jelasnya ini menunjukkan betapa mesin birokrasi negeri ini masih buruk dan korup. &lt;br /&gt;Kasus Gayus merupakan pintu masuk untuk melakukan review tata kelola birokrasi secara radikal. Terlebih sebaran informasi yang bergerak sangat cepat yang memungkin aliran partisipasi publik tumbuh menjadi suara rakyat secara nyata. Selain karena faktor perkembangan berbagai bentuk jejaring sosial seperti facebook, twitter dan lainnya, sejatinya yang berlangsung adalah keinginan yang kuat dari masyarakat yang semakin resah dengan masih mudahnya ditemui beragam mal-praktik birokrasi.&lt;br /&gt;Namun di kantor-kantor pemerintahan, masih cukup banyak anak negeri yang memilih mengabdi menjadi PNS. Neni dan Toro ingin berbuat dengan segenap ide, kreasi serta karya untuk masyarakat. Neni dan Toro ingin melayani masyarakat dengan sungguh-sungguh. Neni, Toro dan generasi mereka yang memilih menjadi PNS kini tengah berkarya meski iklim kerja belum berubah secara signifikan. &lt;br /&gt;Jelas sudah kini tengah juga berlangsung tarik-menarik antar kelompok reformis dan status-quo di kalangan PNS. Keberpihakan dari elit dan pemimpin negeri menjadi kunci, semoga PNS-Preneur tidak mati.&lt;br /&gt;Abi Nizar, &lt;br /&gt;Tepi Kota Ampera, 28 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-2743359462111188147?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/2743359462111188147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=2743359462111188147' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/2743359462111188147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/2743359462111188147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2010/04/jangan-mati-pns-preneur.html' title='Jangan Mati PNS-preneur'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-5357133487973271878</id><published>2010-02-22T12:27:00.002+07:00</published><updated>2010-02-22T12:38:38.820+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Balada Negeri Anti Entrepreneur</title><content type='html'>Kamis pagi awal januari 2010 menjadi special bagi Alex. Ia baru saja memasang plang nama usahanya di pinggir Jalan raya utama kotanya. Bengkel Handphone Alex, demikian tertulis diplang nama kiosnya dari bahan vinyl dengan disain yang cukup menarik. Semangat, karena impiannya membuka kios handphone sejak tahun 2007 itu akhirnya berwujud. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 14px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;Alex tahun 2007 berkesempatan ikut pelatihan teknisi ponsel selama satu minggu. Usaha tambal ban terpaksa harus ditinggalkan. Ia berkorban untuk meningkatkan keterampilan diri. Tekadnya jelas, ingin hidup lebih baik. Lepas pelatihan, Alex magang satu tahun bersama teman-temannya alumni pelatihan di Bengkel Handphone Ummat Mandiri. Di Kios ini kedua jenis usaha dilakoninya, teknisi ponsel dan tambal ban.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 14px; "&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Namun kegembiraan Alex yang hanya tamat SMP tersebut sirna keesokan harinya. Selembar surat dari Pemerintah Daerah diterimanya dari pegawai kelurahan. Isinya tentang undangan rapat sosialisasi rencana pelebaran Jalan tempat kiosnya berada. Alex diundang karena letak kiosnya dipinggir jalan yang masuk dalam rencana pelebaran jalan. Intinya kios alex akan digusur bersama ratusan bangunan sejenis di sepanjang jalan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Usai membaca surat tersebut, ia melihat sekeliling Kiosnya. Baru kemarin hatinya mulai mantap menatap masa depan. Dengan adanya dua usaha, tahun 2010 Alex berencana untuk menikah. Sempat limbung dirinya, tak menyangka ujian-Nya datang begitu cepatnya. Kiosnya terbilang sederhana, bahkan cukup sederhana untuk sebuah toko penjual pulsa dan service ponsel. Bangunan itu bermodalkan dua jutaan, sebagian dari kayu bekas yang dikumpulkannya dan modal dua jutaan tersebut hasil tabungan dari usaha sebelumnya, menambal ban. Bagi Alex, segala upaya dilakukannya untuk dapat bertahan dan mengembangkan diri dengan cara halal tentunya. Waktu luangnya selain usaha tambal ban dan service ponsel, digunakan menjadi relawan beberapa organisasi nirlaba. Ia mewakili generasinya, gaul tapi tak lupa untuk membangun kemandirian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Lepas ikut sosialisasi di Kantor Kelurahan membuat goyah dirinya. Tak ada ganti rugi atas bangunan kiosnya. Alasannya cukup sederhana, karena toko Alex tidak punya IMB, ijin usaha, NPWP dan segala ijin sehingga digolongkan sebagai PKL !!!.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Paradoks Kebijakan Entrepreneur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Disatu sisi pemerintah gencar menggaungkan ajakan menjadi entrepreneur. Milyaran dana digelontor melalui berbagai program pada sejumlah instansi. Mulai dari departemen perindustrian dan perdagangan, departemen pendidikan, BUMN menyuarakannya. Harapannya tumbuh akseleratif entrepreneur – entrepreneur baru yang dapat menguatkan perekonomian masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Ada dua iIroni, Pertama, Alex dan ribuan pedagang kaki lima di ratusan kabupaten/kota yang dapat dipastikan tak pernah tersentuh gaung gerakan mengentrepreneurkan masyarakat ala pemerintah adalah pelaku ekonomi yang turut menopang fundamen ekonomi nasional di sector riil. Namun nyaris setiap minggu ada berita pembongkaran lapak PKL, ricuh antara Satpol PP dengan sejumlah PKL di hamper di seluruh kabupaten/kota. Pertanyaannya, mengapa pemerintah membunuh hajat hidup mereka?. apakah PKL tidak dapat dikategorikan sebagai entrepreneur?. Bukankah Negara ini selamat dari krisis ekonomi tahun 1997 salah satunya ditopang oleh ribuan PKL yang tahan terhadap krisis?. Konon katanya penggusuran PKL bagian dari Letter Of Intent yang ditandatangani Soeharto (Presiden RI ketika itu) dengan Michael Camdessus (Pimpinan IMF wilayah Asia Pasifik). Almarhum Cak Nur di satu kesempatan menjelaskan, Pak Harto yang Ndeso (dari Desa) pada akhirnya dikalahkan oleh Michael Si Orang Desa (Come Dessuu). Istilah PKL sendiri dihadirkan oleh Penjajah Belanda kepada para pedagang pinggir jalan saat itu ukuran kiosnya sekitar lima kaki. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Kedua, Almarhum Prof. Mubyarto pernah mengatakan bahwa dalam pendidikan kita (di Fakultas Ekonomi hamper di seluruh Indonesia), telah terdapat kekeliruan. Pandangan Profesor ekonomi kerakyatan tersebut juga senada diungkap sejumlah pakar ekonomi dan pendidikan. Bila ditelaah terdapat setidaknya dua kekeliruan, yaitu orientasi pendidikan hanya di kawasan eropa semata serta terfokus pada system perekonomian pasar atau mainstream perekonomian dunia sekarang. Bukan pula rahasia, betapa dunia pendidikan kita nyaris tanpa visi, apalagi bila dikaitkan dengan entrepreneur. Seorang Pedagang grosiran tersenyum pahit saat menjemput anaknya akibat ditegur sang Guru anaknya, “Pak, tolong Iqbal jangan disuruh jualan disekolah yah!!!”. Iqbal, murid kelas 4 SD terbilang aktif dan kreatif dikelasnya. Beberapa minggu terakhir Iqbal sibuk berjualan di sekolahnya. Pada saat istirahat atau guru belum masuk kelas, ia menjajakan sebagian barang dagangan Sang Ayah yang ada dirumah. Sang Ayah yang hanya tamatan SLTA pun tak pernah menyuruh, namun melarang kegiatan positif tersebut adalah tabu baginya. Terlebih Iqbal senang dan riang melakoninya. Iqbal adalah bibit entrepreneur dan larangan Gurunya dapat membunuhnya. Sang ayah bingung untuk menjawab teguran sang Gutu. Ia tak bisa berkata-kata kecuali hanya diam dan sedikit mengangguk dengan wajah pahit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sedangkan Iyan, pelajar SMP terpaksa berhenti jual Koran karena dianggap orang tuanya memalukan. “memangnya bapak dan mama tidak mampu membiayaimu sekolah sampai kamu harus jualan Koran !?”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Dan ACFTA pun Berlaku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Masyarakat Tionghoa dikenal kuat menanamkan jiwa dan praktik entrepreneur dengan sejak kecil mengajarkan anak-anaknya berdagang. Seiring dengan perubahan jaman, Pemerintah Tionghoa sungguh-sungguh menyiapkan masyarakatnya untuk bersaing ditingkat global. Jangan heran ketika ACFTA dimulai, beragam produk murah siap membanjiri Pasar Indonesia, bahkan sebelum 01 Januari 2010. Tanah Abang dan pada banyak tempat dengan mudah ditemui produk Tionghoa. Sementara pemerintah sibuk berdalih ketimbang beraksi. Ironisnya, Sang Presiden justru melempar tanggung jawab dengan, “penandatanganan ACFTA bukan Saya…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Pemerintah Tionghoa kini siap panen, sebagai buah keberpihakan yang nyata. Beragam aturan memudahkan warganya untuk berusaha sampai melakukan ekspor. Ribuan home industry yang terorganisir terus bertambah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sebegitu kuatnya dukungan pemerintah Tionghoa untuk mengembangan warganya ber-entrepreneur hingga menghasilkan keunggulan usaha masyarakat Tionghoa secara signifikan. Faisal Basri menceritakan di satu sesi kuliahnya, “…harga produksi penganan Ting-Ting di Indonesia lebih mahal dari produksi di Tionghoa…”. Sampai disini terlihat biasa. Kemudian Faisal Basri menguraikan maksudnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Proses produksi penganan Ting-Ting di Tionghoa dimaksudnya bukanlah Ting-Ting asal Tionghoa, melainkan di produksi di Tionghoa. Kacangnya dari Indonesia dibawa ke Tionghoa. Setelah selesai produksi, kacang yang telah berubah menjadi penganan Ting-Ting dibawa kembali masuk ke Indonesia. Nah, harga produksi tersebut masih lebih murah daripada kacang hasil tani Indonesia tersebut di produksi menjadi Ting-Ting di Indonesia sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Menjadi Entrepreneur di Negeri Anti Entrepreneur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Alex hingga kini tak menyerah, ia tengah merencanakan pindah toko dengan modal yang tersisa. Gelora entrepreneur Alex sama dengan ribuan PKL yang sering lapak dan tempat usahanya dibongkar karena merusak keindahan dan melanggar aturan tak pudar. Mereka terus bekerja, mereka tak ingin menjadi pengangguran yang semakin hari semakin banyak yang bertitel S1. Mereka ingin pantang menyerah karena inging mandiri. Merekalah entrepreneur sejati. Hari-hari ini Alex terus bekerja. Dirumahnya kini Ia memperbaiki ponsel ditemani radio tua yang tengah menyajikan lagu-lagu Melayu-Malaysia. Di depan rumahnya terpampang plang nama, Bengkel Handphone Alex. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sementara Iqbal kecil kini tak lagi berdagang karena larangan Gurunya, hari-harinya di sekolah kini hanya bermain dan menjadi konsumen makanan dan minuman dari luar pagar sekolahnya. Sedangkan pemerintah terus “serius” menggaungkan entrepreneur dan ekonomi kreatif. Entahlah apa makna entrepreneur bagi mereka. Mungkin mereka masih tersibukkan merayu China agar mau menunda ACFTA. Dan sayup sayup terdengar dari lagu Melayu-Malaysia dari radio disudut rumah Alex. “…kuberpegang pada janji, tercipta antara kita dulu…”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-5357133487973271878?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/5357133487973271878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=5357133487973271878' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5357133487973271878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5357133487973271878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2010/02/balada-negeri-anti-entrepreneur.html' title='Balada Negeri Anti Entrepreneur'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-6000327927694696176</id><published>2009-09-06T19:33:00.003+07:00</published><updated>2009-09-06T19:38:06.313+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Cukuplah Nizar...</title><content type='html'>Nizar kami panas mulai hari Sabtu, 22 Agustus 2009 siang, pikir kami mungkin karena Uminya puasa sehingga ASInya kurang baik. Panasnya meninggi dan sambil diberi ASI, kepala Nizar dikompres. Akhirnya kami putuskan untuk keesokan harinya Umi nizar tidak puasa (Islam memberi kelonggaran untuk ibu menyusui untuk tidak berpuasa) dan full memberi ASI. Ada juga yang mengatakan bila anak mau tumbuh gigi atau pintar, kadang badannya panas .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 23 Agustus 2009, pagi hari sekitar pukul 09.00 Wib kami pergi ke apotik terdekat untuk membeli tempra karena panas nizar tak kunjung turun dan sejumlah makanan bergizi untuk Umi Nizar. Hari itu Umi Nizar tidak puasa dan full memberikan ASI sambil terus makan-makanan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nizar kami panas mulai hari Sabtu, 22 Agustus 2009 siang, pikir kami mungkin karena Uminya puasa sehingga ASInya kurang baik. Panasnya meninggi dan sambil diberi ASI, kepala Nizar dikompres. Akhirnya kami putuskan untuk keesokan harinya Umi nizar tidak puasa (Islam memberi kelonggaran untuk ibu menyusui untuk tidak berpuasa) dan full memberi ASI. Ada juga yang mengatakan bila anak mau tumbuh gigi atau pintar, kadang badannya panas .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 23 Agustus 2009, pagi hari sekitar pukul 09.00 Wib kami pergi ke apotik terdekat untuk membeli tempra karena panas nizar tak kunjung turun dan sejumlah makanan bergizi untuk Umi Nizar. Hari itu Umi Nizar tidak puasa dan full memberikan ASI sambil terus makan-makanan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 24 Agustus 2009, rasa syukur terpanjat pagi itu karena esok hari Nizar genap berusia 5 bulan. Meski dua hari sebelumnya badannya sempat panas tinggi, hari ini sudah turun, sejumlah bagian badannya pun telah dingin. Pikiran kami positif, mungkin ini hasil ikhtiar Umi-nya secara terus-menerus terus menerus memberi ASI dengan konsekwensi harus makan banyak dan bergizi. Mulai dari lidah buaya, sari kurma, habbassauda, vermint dan yogurt jambu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 25 Agustus 2009, pagi hari tersebut serasa Indah, Nizar genap berusia 5 bulan dan seperti biasanya, pagi itu kami bermain bersama, meski kondisinya masih lemah. Saya keluar rumah pukul 06.30 Wib karena ada janji menemui seorang Teman. &lt;br /&gt;Sekitar pukul 08.00 Wib, Umi Nizar membawa buah hati kami ke Puskesmas terdekat untuk periksa kesehatannya sekalian juga memeriksa adik kami, Lene (Usia 20 tahun) yang juga mengalami panas tinggi (bahkan lebih tinggi) dari Nizar. Di Puskesmas tersebut Nizar dibawa ke bagian Ibu dan Anak untuk periksa, sekalian timbang badan Nizar. Oleh petugas di bagian tersebut, kami diarahkan untuk langsung diperiksa oleh Dokter Umum yang bertugas. Oleh Dokter Umum tersebut sejumlah bagian tubuh Nizar dipegang dan ditanya olehnya apakah Nizar ada batuk dan pilek. Umi Nizar menyatakan tidak ada, karena memang Nizar tidak batuk dan pilek. Pada kesempatan itu, Umi Nizar juga menyampaikan bahwa panasnya Nizar sudah mulai dari hari sabtu dan hari minggunya sudah diberi Tempra. Dokter memberikan masukan untuk banyak diberi ASI dan kembali lagi apabila kondisi Nizar dalam 2 hari kedepan masih lemas. Lene adik kami juga diperiksa hal yang sama. Malam itu Nizar kembali agak rewel, namun tetap mau diberi ASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 26 Agustus 2009, pukul 06.30 Wib rencana saya mau berangkat keluar karena ada janji pukul 07.00 Wib memberi materi pada satu pertemuan kecil. Namun seperti biasanya, sebelum turun, saya sempatkan diri untuk melihat dan memegang badan Nizar dan karena sebagian badannya dingin sementara sebagian lagi badannya panas, akhirnya kami putuskan untuk membawanya ke RS swasta di Pontianak. Pikiran kita waktu itu ingin cek darah dan mendapatkan gambaran atas kondisi Nizar yang masih belum pulih. &lt;br /&gt;Sampai di RS tersebut, Nizar langsung kami masukkan ke UGD dan ditangani oleh dokter jaga dan perawat. Saya sampaikan sejumlah kekhawatiran saya atas kondisi tubuhnya. Oleh pihak RS dikatakan apa yang saya sampaikan tidak demikian. Tidak lama kemudian tes darah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa kemudian badan Nizar sedikit kejang dan diberi obat anti kejang. Kemudian sejumlah tindakan dilakukan, pemasangan infus, cek darah, pasang oksigen dan lainnya. Bersamaan proses tersebut hasil cek darah menyebutkan trombosit Nizar 48 dan disebutkan Nizar positif DBD. Tentunya kami kaget dengan hasil ini. Betapa tidak, saya beberapa minggu lalu sudah membersihkan parit dan sejumlah genangan air di Kompek bersama-sama tetangga dan sungguh menjaga Nizar dari hal tersebut. Dokter yang menanganinya menyatakan ini harus dirawat serta dilakukan sedot cairan dari mulut kemudian dipindahkan ke hidung. Kemudian beberapa saat, pihak rumah sakit menyarankan ke kami sebaiknya Nizar dibawa ke RS yang ada perawatan ICU dan kami pun berusaha mencari RS yang memiliki fasilitas tersebut. Setelah dapat dan akan dibawa, saya pun mengurus semua administrasinya, termasuk Ambulance. Ketika masuk ke dalam ruang UGD hati saya terenyuh, sejumlah tenaga pihak rumah sakit tengah melakukan pompa semacam nafas buatan. Kondisi Nizar semakin buruk. Kami berdua lantas berdo’a, tak kuasa menahan sedih, air mata yang awalnya turun tertahan kini deras. Beragam tindakan dilakukan dan semakin banyak obat masuk ke dalam tubuh Nizar. Dari jarak 5 meter kammi terus perhatikan kondisi Nizar semakin memburuk, hati ini tak kuasa sedih melihatnya, ditengah do’a2x kami memohon kesembuhan dan pertolongan-Nya, terucap ungkapan tawakkal dalam hati, “Ya… Allah, berilah yang terbaik untuk Anak saya ini….” Tepat pukul 10.53 Wib, tenaga medis menyatakan Nizar tak tertolong… dan sore hari lepas sholat Ashar, Jamaah Masjid Miftahul Huda (baik warga sekitar, sahabat dan keluarga) mensholatkan anak kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan rintih saat jelang sholat ashar pun berhenti ketika kami mengantar jenazah Nizar ke TPU di Danau Sentarum. Suasana alam mendung, tapi tak hujan sepertinya mengerti akan duka ini. Malam itu juga, Lene adik kami, dibawa ke RS yang sama untuk periksa darah dan trombositnya 109. Malam harinya adik kami tersebut kami berikan sejumlah obat tradisional dari bahan jambu biji merah, pocari sweat, buavita dan angkak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 27 Agustus 2009, pagi hari, saya bertemu sahabat wartawan yang baik. Kami sempat dialog dan sedikit saya paparkan kronologis tersebut. Ia pun menyampaikan, kondisi yang saya alami pernah terjadi tahun lalu. Seorang warga mengirim surat pembaca yang melampiaskan kekecewaan penanganan di salah satu puskesmas. Ketika itu disebutkan anaknya tidak apa-apa, namun kemudian setelah di periksa di RS, diketahui anak tersebut terkena DBD dan kondisinya tidak lagi tertolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 29 Agustus 2009, Pagi hari, kondisi lene dengan diberi sejumlah makanan/obat tersebut sudah pulih. Sekitar pukul 09.00, Bu Sal (teman Ibu saya) datang ke rumah, disela bincang-bincang ringan sambil menunggu Ibu saya keluar, teman Ibu saya mengatakan, “Anak saya juga panas kemarin, tapi sudah di bawa ke puskesmas, hasilnya ini panas biasa…..”, belum selesai ucapan Bu Sal habis saya langsung menyela “….kalau kondisinya 2 hari lagi belum membaik dibawa lagi ya bu..”. Teman ibu saya agak terkejut, “kok tahu dokternya bilang begitu?”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengan hati-hati menjelaskan dan menyarankan untuk langsung melakukan tes darah sebagai langkah lebih sahih untuk mengetahui kondisi anaknya. Niat teman Ibu saya bertamu dengan Ibu saya pun urung dan Ia langsung pulang untuk membawa anaknya tes darah. Semoga anak Bu Sal sekarang dalam kondisi baik saja…. Cukuplah Nizar yang mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Ladang - Sintang, 31 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Paparan ini dibuat dengan harapan, layanan kesehatan di Pontianak semakin lebih baik lagi.Kami yakin, apa yang dialami Nizar pada akhirnya adalah takdir dari-Nya dan Insya Allah kami menerima sebagai ujian dengan penuh ketabahan, ikhlas, meningkatkan keimanan kami dan mengambil hikmah terbaik untuk hari esok yang lebih baik. kami pun Insya Allah akan semakin intensif terlibat dalam kerja-kerja layanan pencegahan dan pengobatan penyakit DBD yang telah kami rintis sejak tahun 2007, khususnya untuk Saudara kita yang kurang beruntung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DBD, penyakit yang Pertama kali “hadir” tahun 1975 di Kota Pontianak ini, harapan kami mendapat perhatian super-serius, layaknya H1N1 dan HIV/AIDS, karena nyata keberadaannya dan hadir setiap tahun mendera masyarakat di Pontianak. Mohon do’a, saat ini kami semakin serius merintis sejumlah langkah berbasis partisipasi public untuk penanganan DBD, yang telah kami lakukan mulai sebulan lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Nizar, tunggu Abi dan Ummi di SANA yah Nak…”&lt;br /&gt;Wallahu a’lam Bisshowab.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-6000327927694696176?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/6000327927694696176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=6000327927694696176' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/6000327927694696176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/6000327927694696176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/09/cukuplah-nizar.html' title='Cukuplah Nizar...'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-5714202434045093596</id><published>2009-05-04T05:24:00.002+07:00</published><updated>2009-05-04T05:48:10.920+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Ayah</title><content type='html'>kemarin nizar akikah-an.&lt;br /&gt;menyiapkannya bukan mudah, karena memang buanyakkkkk keinginan n harapan + ide2 dari seantero rumah. Tapi satu sisi diproses itu terselit hati berkata, "Yan, elo udah jadi Ayah". wooowwww, sekelebat diri membiarkan uraian-uraian hati mengisi relung otak, menyegarkan pikiran ttg seorang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ini amanah, ingatku di tanggal 25 Maret 2009, saat nizar hadir. Imam Ali berkata, " didiklah anakmu untuk masanya nanti". dan kini akupun berkalkulasi, seperti apa masanya nizar nanti, shg tepat menyiapkan proses pendidikan sesuai jamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelebat hadir pula ingatan itu, 28 Agus 1984.... Ayahku meninggal!!!. saat dimana hari-hari berikutnya adalah masa separuh kasihku hilang.... saat dimana kemudian segenap tawa n canda yg dominan hadir berganti duka n nestapa. meski aku yakin Allah pasti Adil dan akhirnya akupun menyadari keadilan-Nya. Bagaimana mestinya ku bersikap n mensikapinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang wajahnya, serasa hidup ini semakin berharga n bermakna, ia menjadi peneguh diri, bahwa setiap dari kita akan mempertanggungjawabkan amanah yg diterima. dan kini, hari-hari kedepan, aku perlu memikirkan memberi yg terbaik dan tepat untuknya. ini bukan kemudian bicara terbaik = termahal. sesuatu yg mendominasi terkait pendidikan n pemenuhan kebutuhan anak. mindset ini telah berhasil kuhindari. aku yakin pendidikan terbaik itu bukan dimana ia nanti sekolah, dimana ia ikut playgroups, dst... tp lebih tepat bagaimana sikap kita sehari-hari selalu memberi yg terbaik kepadanya. terbaik kepadanya juga berarti terbaik untuk mantan pacarku hehehe. Belajar membangun cara pandang yang utuh akan keluarga, bukan parsial memang tidak mudah, terlebih di tengah beragam model hidup yang semakin kompleks. Keterbukaan, kejujuran dan kasih sayang sebagai bentuk realisasi amanah pada orang rumah adalah tiga kata kunci sepertinya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups, saatnya bercengkerama lagi dengannya :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-5714202434045093596?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/5714202434045093596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=5714202434045093596' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5714202434045093596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5714202434045093596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/05/menjadi-ayah.html' title='Menjadi Ayah'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-4103970236592678765</id><published>2009-03-29T15:09:00.002+07:00</published><updated>2009-03-29T15:14:46.378+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>amanah itu bernama M. Nizar Asyshiddiqie</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/Sc8toCjAPbI/AAAAAAAAANg/p0JEe6kkH8k/s1600-h/25032009454.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/Sc8toCjAPbI/AAAAAAAAANg/p0JEe6kkH8k/s400/25032009454.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318519850849549746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/Sc8tIRwDa6I/AAAAAAAAANY/OeRLXeGvlY4/s1600-h/25032009450.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/Sc8tIRwDa6I/AAAAAAAAANY/OeRLXeGvlY4/s400/25032009450.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318519305175002018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Rabu, 25 Maret 2009, pukul 14.20 Wib, Berat 3 Kg, Panjang 49 Cm, di Klinik Cahaya Ibu..... amanah itu hadir.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-4103970236592678765?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/4103970236592678765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=4103970236592678765' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/4103970236592678765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/4103970236592678765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/03/amanah-itu-bernama-m-nizar-asyshiddiqie.html' title='amanah itu bernama M. Nizar Asyshiddiqie'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/Sc8toCjAPbI/AAAAAAAAANg/p0JEe6kkH8k/s72-c/25032009454.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-8263694563262501059</id><published>2009-03-21T14:16:00.002+07:00</published><updated>2009-03-21T15:17:51.554+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Menyoal Modernisasi Pasar Tradisional</title><content type='html'>Serpihan pembangunan dengan jargon modernisasi kini telah menjadi bagian dari denyut pembangunan, baik nasional maupun lokal/daerah. Modernisasi hmmmm..... top of mind akan istilah ini adalah sosok Koentjaraningrat. Pas semester 1 kuliah tahun 1993, di mata kuliah Ilmu Budaya Dasar waktu itu terurailah butir-butir pemikiran doi disampaikan pak pandil. Dosen yang sangat sederhana alias bersahaja di kampus biru. isu saat itu adalah Modernisasi-Westernisasi-Pembangunanisasi (MWP).&lt;br /&gt;Terlepas dari tali temali MWP, deru perubahan di berbagai titik berkembang dan indikator sepertinya dominan pada aspek materi/fisik, salah satunya kasus Pasar Tradisional. dari MWP itu, sepertinya Modernisasi menjadi kata kunci yang sepertinya mengalami pembiasan makna. Secara merata hampir di seluruh Indonesia, penanganan Pasar Tradisional yang diidentikkan dengan modernisasi adalah betonisasi atau Mal-isasi tempat pasar tradisional.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pembiasan makna ini menjadi "darurat" untuk dicermati karena menyangkut banyak hal dan nilai. Pertama, nasib pedagang informal di pasar tradisional yang jumlahnya secara akumulasi se-Indonesia cukup signifikan; Kedua, nasib supplier yang sebagian besar juga pedagang, petani n nelayan tradisional; Ketiga, pembeli yang juga dominan kalangan orang awam atau orang-orang biasa; Keempat, kebersahajaan Indonesia sebagai bangsa yang mayoritas dihuni oleh orang-orang biasa akan pupus....&lt;br /&gt;Dengan 4 hal tersebut, menjadi menarik untuk ditinjau secara kritis deru pembangunan yang tengah berjalan. Terlebih kini nyaris miskin diskursus yang dapat berbahaya bila tidak dikembangkan dan dijaga perkembangannya. Manakala dunia ide mati, maka mekanisme check n balances dalam pembangunan akan dominan pada dunia materi dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah maraknya korupsi, proses pembangunan semakin mengarah ke basis tawar menawar harga, bukan tawar menawar prioritas pensejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melihat beberapa hasil modernisasi pasar tradisional di sejumlah tempat, baik di jawa maupun kalimantan, sepertinya modernisasi memang sebatas dimaknai dengan upaya merubah image pasar yang becek n semrawut ke pasar yang ber-ac n ditata. Abai dengan modernisasi perilaku pedagangnya, bahkan pada beberapa tempat modernisasi pasar tradisional mengarah kepada penggusuran pedagang pasar tradisional secara "elegan" dan "sistematis" yang tidak memerlukan bantuan satpol PP atau polisi, melainkan menggunakan mekanisme ekonomi, yaitu harga pintu atau harga sewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernisasi pasar tradisional yang diniatkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan perbaikan nasib pedagang pasar tradisional menjelma menjadi pembunuh pedagang-pedagang informal yang selama ini dapat survive. Kadang ketika proyek modernisasi akan dilakukan, para pedagang dikumpulkan dan diberi sosialisasi. tentunya sulit berharap logik-bisnis pedagang menerima, kadang mereka terbius dengan maket pasar bila sudah dibangun dan seterusnya. Ada juga yang asal main bangun n pedagangnya diminta pindah dan diprioritaskan untuk menempati tempat semula bila mampu membayarnya hahahahhhaaaaaaaaaaaaa..... Mantap, bukankah ini mirip praktik bisnis John Perkins yang menulis buku ‘Confessions of an Economic Hit Man’. Nah, bila tanda-tandanya sama, maka yang sebagian tengah berjalan sekarang adalah penghancuran bangunan ekonomi tidak hanya dalam skala nasional, tp justru sudah memasuki ceruk-ceruk pembangunan. Maka, bukankah yang akan terjadi adalah kehancuran perekonomian nasional. Wowwwww, sepertinya kalkulasi ini terlalu jauh yah :(.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencontoh Pertamina&lt;br /&gt;Pertamina adalah salah satu organisasi bisnis made in indonesia yang tampaknya dapat melakukan transformasi diri dengan lebih tepat lewat slogan PASTI PAS. betapa tidak, semakin hari, kita dapat dengan mudah menemukan SPBU Shell, Petronas, dll. Pertamina tidak gopoh bersikap, justru berhasil cermat bersikap dalam konteks persaingan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kaitannya dengan pasar tradisional?. jelas sangat kuat dapat dicontoh apa yang dilakukan oleh pertamina. Sudah banyak dikeluhkan oleh pengunjung pasar tradisional akan timbangan para pedagang pasar tradisional serta kadang sikap berdagang yg kurang marketable. Mulai dari hanya menggunakan celana pendek tanpa baju, tangan yang kurang bersih dan sejenisnya. Nah... ini maksudnya sisi modernisasi yang hilang atau abai dari perhatian pemerintah. Aspek layanan dari para pedagang tersebut. Disinilah pentingnya pendampingan skill marketing para pedagang secara tepat yang merupakan akar masalah. Coba kita andai-andai, kegelisahan banyak kalangan akan nasib pedagang pasar tradisional dan perilakunya dikomunikasikan dan para pedagang diberi sentuhan marketing, akankah pasar tradisional kita sekotor dan sesemrawut sekarang???. (bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-8263694563262501059?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/8263694563262501059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=8263694563262501059' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/8263694563262501059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/8263694563262501059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/03/menyoal-modernisasi-pasar-tradisional.html' title='Menyoal Modernisasi Pasar Tradisional'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-5147244537505249593</id><published>2009-03-01T15:40:00.005+07:00</published><updated>2009-03-01T21:05:59.874+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Tsunami zakat Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/SapLMAeULYI/AAAAAAAAANI/nmQuACC06Fc/s1600-h/LAWAN.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 143px; height: 96px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/SapLMAeULYI/AAAAAAAAANI/nmQuACC06Fc/s400/LAWAN.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308137780467215746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita hari Jum'at/27 Februari 2009 menyentak dan mengejutkan kita, khususnya stakeholder zakat Indonesia karena Menteri Agama menyatakan dalam pertemuan dengan para wakil daerah di Gedung DPD. Beliau memaparkan salah satu agenda kedepan adalah pengelolaan zakat hanya oleh BAZ saja. Pertanyaannya LAZ di apakan ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah klaim BAZNAS menghimpun dana hampir 800 M yang membuat SBY berniat melakukan tasyakuran bila BAZNAS dapat menghimpun 1 Triyun itu pada kenyataannya lebih 75% dana ZIS tersebut dihimpun oleh LAZ, bukan BAZNAS sendiri. Nah, lantas, apakah SBY dibohongi oleh........ ?. atau bagaimana yah ?.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Wacana zakat dikelola negara memang menjadi salah satu pilihan dari sejumlah alternatif. Tapi anehnya, ketika pengelolaan zakat tak dilirik dan tidak "gemuk" waktu dimana LAZ belum berkembang, kalangan di Depag memposisikan zakat sebagai kegiatan ujung alias nomor dua, nomor satu tentunya HAJI dunk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika pada aktivis LAZ se Indonesia dan di daerah2 berhasil secara "berjamaah" membangun kepercayaan publik ala Civil Society, tiba-tiba mereka membentuk BAZNAS baru di tahun 2000... hmmm, sebelumnya kemana saja ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, ketika sekarang BAZNAS tidak maksimal (lha wong baru berbuat), yang disalahkan "ini gara-gara ada LAZ, jadi BAZNAS tak bisa maksimal" wahhhhh.... aneh bin lumrah. Dari berbagai sisi menjadi kewajaran bila BAZNAS belum maksimal, namun yang aneh kok justru disalahkan "gara-gara LAZ?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm, ketika anak-anak muda Indonesia tengah melakukan langkah kecil di tanah kering mulai menuai kepercayaan, Menteri Agama berniat membubarkannya ?. Bayangkan, ribuan mustahik yang tengah dilayani pada berbagai program se Indonesia mau dikemanakan ?. bersamaan dengan itu, apakah ribuan muzakki lantas serta merta mau pindah berdonasi ke BAZ ?. Haruskah sejumlah program pemberdayaan yang masterpiece made in Amil Zakat Indonesia terhapus seketika, Rumah Sakit Gratis, LKC, Pemberdayaan ekonomi, layanan pendidikan gratis dan lainnya. Bahkan sejumlah LAZ telah menuai kepercayaan bukan hanya ditingkat lokal, bahkan sampai Internasional... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, Bapak Menteri Agama tengah merencanakan bencana.... Tsunami zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-5147244537505249593?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/5147244537505249593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=5147244537505249593' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5147244537505249593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5147244537505249593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/03/tsunami-zakat-indonesia.html' title='Tsunami zakat Indonesia'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/SapLMAeULYI/AAAAAAAAANI/nmQuACC06Fc/s72-c/LAWAN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-7092049316095928722</id><published>2009-02-27T12:46:00.000+07:00</published><updated>2009-02-27T12:47:26.788+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Membuat Satu Titik Kecil</title><content type='html'>“Yan, ini ada zakat fitrah untuk lebaran dari teman-teman kakak di kantor ini….” Ujar seorang wanita kantoran berkulit agak hitam manis, rambut ikal sebahu dengan busana kantoran. Di sebelahnya, seorang anak belia, kurus, tengah duduk di kelas 5 SD dengan raut wajah bingung namun gembira menerima sebuah amplop putih. Amplop pertama yang ia terima berisi zakat fitrah. Bingung karena selama ini dirinya selalu ditempa almarhum ayahnya yang meninggal satu tahun lalu untuk pantang meminta dan apa pula maksudnya dengan zakat fitrah?.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Belum lagi dipikir-pikir orang yang memberinya ini tidak ada hubungan keluarga, pun kenal hanya karena dirinya tinggal bertetangga. Namun kebingungannya tersebut pupus dengan rona gembira. Dirinya gembira karena menerima amplop berisi sejumlah uang yang baginya peristiwa langka. Sudah syukur baginya masih bisa sekolah dan menumpang sekaligus membantu bekerja di rumah keluarga yang kadang untuk jajan di sekolah saja belum tentu ada, tiba-tiba diberi amplop oleh orang yang bukan keluarganya. “terima kasih, Kak….” Hanya ungkapan itu kemudian yang bisa terucap.... “Pembacaan do’a....,” suara MC membuyarkan lamunanku. Kegiatan serah terima beasiswa pada  milad Dompet Ummat malam itu mengingatkan seorang sahabat yang kini telah berdiri tegak dengan tangan di atas. Ia dan keluarganya bisa melepaskan diri dari jeratan kemiskinan, bahkan lebih jauh mereka lepas tanpa adanya hasrat balas dendam pada kemiskinan. Iya, balas dendam pada kemiskinan. Seorang teman sempat membuatku terjebak pada diskusi yang nyaris tak berguna menyoal fenomena korupsi pejabat-pejabat yang masa kecilnya hidup susah. Mereka terjebak pada psikologi “takut” miskin harta dan tidak ingin anak-anaknya menjadi miskin. Saking takutnya mereka, hingga melakukan mal-praktik yang justru pada gilirannya memiskinkan diri dan keluarganya. Derita kepapaan dimasa kecil sebegitu kesumat didalam dirinya, sehingga ketika dirinya menjadi pejabat atau punya kesempatan melakukan dengan maksimal, mengambil yang bukan haknya. Padahal orang-orang tersebut memiliki potensi untuk menjadi orang besar dengan paripurna, seperti salah satu pemimpin besar Indonesia yang tak berhasil menjadi orang besar paripurna untuk dikenang yang diduga oleh teman saya tak berhasil menghilangkan psikologi dendam kesumat terhadap kemiskinan.&lt;br /&gt; “Zakat yang aku terima pada masa kecil hingga kini terus terekam dengan baik Vir... Ini pula yang membuat aku jadi memiliki empati yang tinggi pada anak-anak kecil seusia saya waktu menerima zakat dulu”. Ungkap Yayan di satu obrolan saat olahraga bersama penerima beasiswa pelajar di Kampus Untan, Pontianak. &lt;br /&gt;“Coba ente bayangkan, waktu itu buat jajan sekolah saja aku jarang dikasih keluarga tempat aku numpang tinggal, padahal setiap hari aku bangun jam 5 subuh untuk bersihkan rumahnya. Mulai buang sampah, lap kaca, ngepel, cuci mobil. Tak jarang aku telat masuk sekolah gara-gara harus menyelesaikan kerjaan dulu”. Timpalnya sambil menyeruput tes es lepas olahraga. “Tiba-tiba ada orang yang aku cuma kenal ala kadarnya, tak pernah aku kerja pada mereka memberi uang yang jumlah sebegitu besar untuk ukuran aku”. Ujarnya sambil menerawang langit dipagi hari yang cerah itu. “inilah yang mungkin membuat aku dapat terus menahan diri untuk tidak terjerumus dalam perilaku korup vir. Alhamdulillah, dendamku pada kemiskinan tidak membuatku menjadi takut miskin”. Ucapnya mengakhiri bincang ringan di sesi olahraga pagi bersama penerima beasiswa pelajar Dompet Ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tricle Down (Not) Effect ke Kalbar&lt;br /&gt;“Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Orde Baru itu sudah benar, namun efek menetes ke bawahnya selalu dibuat bendungan di setiap kolam tempat tetesan air pembangunan sehingga pemerataan dari pada masa orde baru tidak berjalan dengan baik” ujar seorang pakar pembangunan Orde Baru yang “agak baik” pada satu sesi acara mencari pola pembangunan nasional efektif. Sementara Dede Arifin, seorang teman kuliah yang cerdas mengutarakan kritikannya pada persiapan untuk diskusi pembangunan daerah tahun 1997 yang digelar Senat Mahasiswa Untan, “Bagaimana mau merata Vir, yang dibagi cuma efek tetesannya, bukan kucuran. Wajar saja kalau Kalbar terus miskin, terisolir dan tidak senasib dengan pulau Jawa atau Sumatera yang infrastruktur pembangunannya lebih baik. Mau ke Kaltim atau ke Kalteng harus pakai pesawat, tidak ada jalan darat. Itupun harus lewat Jakarta”. &lt;br /&gt;Seorang teman dari Fakultas Pertanian (Kehutanan) menggerutu. “Bang, hutan kite sudah gundul, tapi seolah-olah Kalbar tak ade pembangunan. Tak usah heran kalau orang perbatasan lebih dekat dengan orang Malaysia. Mereka nonton TV Malaysia dan hidup dengan orang Malaysia. Eh, pejabat Jakarta tiba-tiba datang dan bicara mempertanyakan nasionalisme orang kite.” &lt;br /&gt;“Itulah bang, memangnya nasionalisme bisa mengenyangkan perut yang lapar, di mana nasionalisme pejabat-pejabat Jakarta di waktu orang-orang kite di perbatasan sana kelaparan?” Timpal Jumadi yang hingga kini menjadi pentolan aktivis mahasiswa. “Jangankan waktu itu, di waktu sekarang saja, ketika krisis nasionalisme tumbuh secara kultural di perbatasan, nyaris belum ada satu intervensi yang efektif yang dilakukan selain bicara akan, akan dan akan!” Lanjutnya dengan mimik kesal.&lt;br /&gt;“Entahlah apa dosa orang-orang kite dengan orang Jakarta, kecuali memang kita bukan saja tidak diperhatikan sehingga menjadi miskin, tapi dimiskinkan akibat perilaku elite yang korup, diskriminasi dan sentralisasi pembangunan,” lanjutku juga jadi ikut kesal. Belum lagi analisis Ichal, teman lainnya yang mencermati dari segi sosial-kultural. “Masyarakat Kalbar kini hidup di tengah keterbelahan sikap atas dasar etnik dan agama. SARA yang dipantangkan oleh Soeharto untuk didialogkan, dibincangkan dan dibangun secara terbuka dengan senjata sebagai panglimanya telah menyuburkan semangat etnisitas, sentimen antar ummat beragama dan budaya kekerasan. Isu putra daerah adalah fakta otentik kegagalan pembangunan jiwa nasionalisme, alih-alih yang terjadi adalah denasionalisasi sikap.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian Sebuah Proses&lt;br /&gt;“Kalo tak salah, ada pelatihan zakat aku tengok di internet, webnya www.imz.or.id,” ujar Ichal di tahun 2001 disela kajian “Menjadikan Zakat sebagai Pilar Pemandiri Ummat”. Mungkin aneh, zakat dibincangkan dengan super serius di Waroeng Kemponan, yang sebagian besar dananya berasal dari saweran bulanan orang-orang LSM yang bergerak berkat murah-hatinya luar negeri memberi dana hibah dan mereka yang rada dangkal pemahaman masalah fikih zakat atau nyaris tak pernah bersentuhan dengan zakat, kecuali jelang Idul Fitri setiap tahun dan jadilah aku peserta pelatihan manajemen zakat di bulan juli 2001. Pelatihan yang hanya diikuti oleh tiga orang (hampir batal tuhhh....) selama satu minggu di Ciputat menjadi salah satu jawaban utama atas carut marutnya pengelolaan ummat dan bangsa Ini. &lt;br /&gt;Uraian Pak Hertanto, Mas Teten, Mas Jamil, Ust. Surahman, Ust. Taufik Ridho, dll disebuah ruang lantai 2 kantor IMZ di perkantoran Ciputat permai mengisi sudut cara pandang pencarian. It’s about strong management...!. &lt;br /&gt;Semangat yang terpompa dengan bekal seminggu pelatihan ternyata tidak mudah dikembangkan di tengah krisis kepercayaan masyarakat kepada negara, hal yang juga berdampak pada lembaga-lembaga sosial. Yang berkembang dengan dana luar negeri dicibir sebagai antek asing, sedangkan lembaga lokal bagai hidup segan, matipun tak mau. Dikelola dengan semangat ikhlas dan pantang bekerja penuh waktu. &lt;br /&gt;Ironis memang, sebagai daerah yang hingga kini setelah kayu dan emas habis tereksploitasi yang nyaris tanpa sisa masih menempatkan Kalbar pada peringkat ke 14 provinsi miskin di Indonesia, IPM peringkat 28 dari 33 provinsi, namun anehnya pada pembukaan hari pertama Hypermart di Pontianak, omzet 6 jamnya termasuk yang tertinggi di Indonesia. &lt;br /&gt;Mengurus zakat dengan paradigma baru bukan perkara mudah, tapi juga bukan lantas tak bisa. Meski menuai beragam tanda tanya. Untuk apa mengurus zakat? Tak adakah pekerjaan lainkah sampai mau mengurus zakat dengan bergaya kantoran? Demikian sejumlah kalangan, bahkan ada tokoh masyarakat yang berkata demikian. Kapankah kultur kerumunan berubah menjadi barisan ?. Wowwww, it’s classic question… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-7092049316095928722?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/7092049316095928722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=7092049316095928722' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/7092049316095928722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/7092049316095928722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/02/membuat-satu-titik-kecil.html' title='Membuat Satu Titik Kecil'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-1223698703455344371</id><published>2009-02-27T09:34:00.003+07:00</published><updated>2009-02-27T09:41:28.967+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>kotak idaman itu...</title><content type='html'>"gimana neh supaya dapat duit lagi.." gumam ali dalam hati sambil melihat satu per satu orang lewat di depannya. ia tengah mencari-cari cara menambah uang jajan yang selama ini cuma ia dapat dari sisa kembalian orang-orang yang menyuruhnya. "jualan koran udah susah karena dimarahin tante", lamunnya sambil berpikir keras mencari cara bisa mendapatkan duit tambahan. "li, main dindong yuk, gua ada duit 200 perak neh" ajak parjo sambil menarik tangan ali ke bioskop jaya. "ehh, lo ngagetin gua aja jo" sahut Ali yang terkejut sambil melepaskan tarikan tangan parjo dari belakang dan yang telah membuyarkan lamunannya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;"udahlah, daripada elo bengong ngeliatin orang lewat, mendingan nemenin gua main dindong" sahut parjo lagi sambil kembali menarik tangan Ali. Ali ngikut tarikan tangan parjo. Mereka sahabat dekat, selain kawan main bola kaki yang nyaris tiap sore di lapangan tanah kosong sebelah kuburan, parjo adalah salah satu kawan-karib Ali yang tinggal satu gang di jaya, salah satu sisi kota Jakarta. &lt;br /&gt;Lebih dari 2 jam mereka bermain dindong, satu-satunya hiburan non alami di daerah situ. Yah hanya dindong, selain karena harga per koin 100 perak, juga mereka telah menjadi master di beberapa permainan. Gelar master itu meniru guru film kung fu yang memiliki keahlian tinggi yang sering mereka tonton secara gratisan di Bioskop jaya. Mereka memang tak sempat banyak menyerap pelajaran di sekolah... &lt;br /&gt;Pukul 22.46 Wib, penjaga dindong semakin resah, pasalnya, orang lebih banyak menonton permainan Ali dan ali bergantian dengan parjo terus bermain dengan piawai, sesekali ia menonton permainan dua anak Jaya ini yang memang jago. "yah sialan, abis neh pelornya li" ujar parjo sambel meliuk-liukkan kendali pesawat menghindar pelor musuh. "turun ke ujung kiri pojok jo, disitu aman untuk ronde ini". Ali mengingatkan kelemahan permainan ini. "Oh, iya li" sahut parjo sambil memindahkan dengan sambil menghindar pelor pesawat musuh. "duarrr...." kendali pesawat parjo tak bisa menghindar satu pelor musuh, padahal nyaris sampai ke pojok kiri bawah. "yaahhhhh" koor sejumlah pengunjung lain yang cukup serius menonton permainan parjo sambil bubar.. "udahlah li, kita balik aja, nongkrong di gang belakang". ajak parjo lagi yang cukup kesal karena permainan mereka usai. "ayolah, kali aja di belakang anak-anak pada ngumpul". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, kita bisnis yuk" sambil berjalan dari ke belakang gang, Ali membuka omongan. "bisnis apaan li, nyari besi tua malem-malem gini, mana bisa dapet" timpal Parjo ke Ali. "gak, maksud gua bukan nyari besi, itu seh gak bisalah malem gini, kan gelap. bukan juga malem ini, tapi gua ". bales Ali. "Nah, bisnis apaan dong, elokan udah gak bisa jualan koran lagi, dilarang ama tante lo". kata parjo. "Gak tau juga tuh, gua seh kesel, padahal gua mau nyari tambahan jo.. dari mana lagi gua dapet duit, padahal jualan koran tuhkan enak, gak payah". ujar Ali. "jadi mau ngapain lagi li ?”. timpal parjo. “kita bisnis semir sepatu yuk jo”. Ujar Ali dengan ekspresif. ”gua dari kemaren ngeliatin mang jali, kayaknya asyik jo. Sekali semir bisa dapet 100 ampe 200 perak”. Lanjut Ali. ”kita nge-tem di depan gang aja jo, dari siang balik sekolah terus lanjut lagi abis isya. Coba dulu aja jo, nah kita patungan, beli semir, sikat ama bikin kotaknya. Papan bekas gua ada dirumah, Cuma buat beli semir ama sikatnya kita ngumpulin dulu jo”. Papar Ali. ”boleh yan... besok kita kerjain dulu kotaknya, nanti lagi kita omongin, tuh anak-anak udah pada ngumpul, kita gabung, tapi masalah ini gak usah dulu diomongin” kata parjo. ”iyalah” balas Ali sambil mereka berdua masuk ngumpul ama teman-temannya di ujung gang dengan petikan gitar dan koor lagu.... yang selalu sampai tengah malam baru usai....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-1223698703455344371?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/1223698703455344371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=1223698703455344371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/1223698703455344371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/1223698703455344371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/02/gimana-neh-supaya-dapat-duit-lagi.html' title='kotak idaman itu...'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-3240730595286701778</id><published>2009-02-26T18:46:00.004+07:00</published><updated>2009-02-27T13:38:59.407+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Akankah terus mengecat balok es ?</title><content type='html'>Sebagai bangsa yang jumlah penduduknya salah satu terbesar di dunia, Indonesia tentunya memiliki banyak nama-nama penduduk. Berikut kutipan berita dari sejumlah media, mungkin anda kenal siapa saja mereka, kalaupun anda lupa, silahkan bertanya dengan mbah google atau mbah lainnya, selamat mengenali.....&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Haryanto, siswa SDN IV Garut, Jawa Barat; Sembodo, anak muda Kebumen, Jawa Tengah; Eko Haryanto, siswa SD Kepunduhan 01 Kramat, Tegal, Jawa Tengah; Fifi Kusrini (14), siswi SMPN 10 Bekasi; Siti Barkah (87) Rt 001/18 Pamulang Timur, Tangerang, Banten; Iwan di belakang Masjid Istiqlal, jakarta pusat; istri tukang becak di Kelurahan Bunga Eja, Makassar, Sulawesi Selatan; Darniati, Bunga Eja, Makassar; Daeng Basse, Makassar; Dede (38) “Manusia Pohon”; Sumarna, Si Manusia Gerobak...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-3240730595286701778?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/3240730595286701778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=3240730595286701778' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/3240730595286701778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/3240730595286701778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/02/akankah-terus-mengecat-balok-es.html' title='Akankah terus mengecat balok es ?'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-5391335169650596329</id><published>2009-02-24T14:03:00.001+07:00</published><updated>2009-02-24T14:18:25.605+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan reformasi'/><title type='text'>Ngape’ Pulak Golput ?</title><content type='html'>Pada satu kesempatan sore hari di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta, kurang lebih sebulan lalu, sambil menunggu pesawat untuk pulang ke Pontianak, saya bertemu teman seorang wartawan yang slankers. Tentunya salah satu tema pembicaraan tentang pemilu. Saat itu saya mengajukan pendapat, sebagai komisioner pemilu (hehe…), “kita akan menyasar pemilih pemula, dengan basis data hasil survey kompas beberapa waktu yang lalu, pemilih pemula berpotensi untuk mau menggunakan hak pilihnya disbanding dengan pemilih berpengalaman ”. Dan diskusi pun mengalir sampai kepada masalah Golput.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Menurutnya fenomena golput itu dominant karena perilaku pemimpin atau pejabat public yang jauh panggang dari api alias tidak sibuk memikirkan kerja-kerja, tapi sibuk dengan urusan memikirkan kepentingan pribadi. “budak-budak wartawan itu bang rate-rate golput lho, saye juga”. Ungkapnya. “gimane lah budak-budak mau ikut pemilu, kite tau bah tabiat pejabat-pejabat sekarang. Kerje mereke ngape jak, ngomong di Koran begini, kelakuan begitu…..”. dan akhirnya diungkap sejumlah contoh yang telah diketahui kalangan kuli disket dan Saya sementara waktu terdiam, belajar menjadi pendengar yang efektif. Sekitar 15 menit teman saya ini bertutur banyak perilaku diungkap. Puihhhh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba masuk dan meraih kunci-kunci kekecewaan yang tak terucapkannya, meski dari yang diucapkannya itu sudah lebih dari cukup apabila saya pun larut akan jadi kembali golput. Wowww, iya, saya pun mantan golput. Pengakuan saya sedikit meredakan kekesalannya, maklum sesame golput, bisa meraba kondisi kekecewaan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“neh ada roti bang, tampaknye abang lapar”. Ujarnye sambil menyodorkan dua roti nyaman yang tak berpanjang basa-basi langsung satu roti mendarat mulus ke dalam mulut saya. “makasih, memang lapar n lom’ sempat makan siang”. Balasku sekenanya dan selesailah satu roti.&lt;br /&gt;---ooo0ooo---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup golput…. Yan sori gw golput… Ngapain ikut pemilu, kalo udah pasti siapapun yang jadi gak bakalan mikirin nasib kita… bla…bla…&lt;br /&gt;Sohib kuliah dari semester pertama di FE untan ini memuntahkan uneg-unegnya di salah satu kesempatan chatting di YM. Sohib ini orang biasa dan realistic dalam hidup, prinsipnya sederhana, lakukan dan kerjakan yang kita tahu dan kita yakini. Dia sangat bahagia dengan keluarganya tinggal di seberang sungai kapuas (pontianak-timur). Setelah selesai membeli rumah, sekarang tengah ancang-ancang mau memulai usaha, sederhana saja niatnya, mendapat rejeki yang halal serta bisa mempekerjakan 1-2 orang. Kunci kekecewaan lagi-lagi hadir dari chatting hari itu khusus masalah golput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, cara berpikir saya cenderung berbeda. Tidak mudah memang mengubah kekecewaan menjadi mau untuk iktu memilih. Tahun 2003, ketika diumumkan saya terpilih menjadi komisioner pemilu kota pontianak, salah satu hal keras yang saya pikirkan adalah bisakah saya tidak golput. Hari-hari pertama di KPU, ini yang terus mengisi pikiran saya. Saya coba mencari banyak informasi tentang golput serta beragam pernak-perniknya, semata-mata saya mencoba membangun logika berpikir, memilih sebagai sarana kedaulatan diri (rakyat). Terlebih, saya menangani divisi sosialisasi yang tugas utamanya melakukan sosialisasi pemilu dan mengajak masyarakat untuk tidak golput… nah lo… mati neh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menelusuri dengan cermat sejarah golput dan melakukan kontemplasi mendalam sikap politik saya ambil…. Teman komisioner saya yang lain juga rupanya mengalami hal yang sama dan pilihan dia adalah tetap Golput !?. Saya dan teman dekat sejak tahun 1997 selalu berdialog dan saling menghormati pilihan-pilihan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah 05 April 2004, semua kegalauan berakhir…..  Meski sebagai komisioner selalu memperlakukan peserta pemilu dengan sama (adil), pilihan politik sebagai hak saya tunaikan. Saat itulah saya untuk pertamakalinya menggunakan hak pilih di pemilu hehe… dan saya sampaikan kepada para caleg tersebut, bila saya memilih yang bersangkutan. Hal ini penting, dengan pertimbangan, apabila mereka jadi aleg, saya juga punya hak untuk menagih janji-politik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sampai sekarang, 23 Februari 2009, pada banyak kesempatan, teman-teman saya mengaku akan golput, tapi pilihan untuk memilih menurut saya pantas untuk dilakukan. Pertimbangan dan sikap saya tersebut dilakukan karena :&lt;br /&gt;1. Kehadiran golput adalah karena pemilu masa orde baru tidak memberi peluang perubahan (sirkulasi) elit akibat pemilu lebih menjadi kontes politik semu, bukan satu mekanisme rakyat berdaulat. Malpraktik manipulasi secara hegemonic berjalan tanpa dapat dihalang-halangi, nyaris oleh siapapun.&lt;br /&gt;2. Sekarang, dimasa orde reformasi hal tersebut tidak lagi terjadi, distribusi kekuasaan paska Soeharto lengser membuat hegemoni kekuasaan terpolarisasi menjadi faksi-faksi yang saling berkompetisi. Meski kita akui malpraktik pemilu masih ada, tapi prinsip demokrasi berjalan, yaitu mekanisme check and balance kekuasaan terjadi serta suara rakyat semakin terdengar. Sederhananya, yang menjadi anggota dewan tidak serta merta jadi, tapi memerlukan proses transaksi politik langsung dengan rakyat.&lt;br /&gt;3. Kekecewaan politik tidak selesai dengan melakukan Golput. Saya bilang, golput kini tidak relevan. Kalkulasi sederhana saya, apabila semua teman saya dan banyak masyarakat yang baik-baik dan rasional tersebut terus tenggelam dalam larut kekecewaan dan tidak menggunakan hak pilihnya, maka kesempatan caleg-caleg baik untuk menjadi aleg semakin kecil, tinggallah ajang pemilu akan semakin dominan oleh transaksi-politik jangka pendek semata. Saya juga menyampaikan, pada kondisi sekarang ini, pilihan terbaik adalah menjadi pemilih aktif. Ketika kita sulit mendorong kelompok-kelompok masyarakat sipil untuk membangun posisi tawar yang bermartabat dengan para caleg, tapi paling tidak kita bisa melakukannya untuk diri sendiri. Posisi menjadi pemilih aktif penting, agar satu suara kita bisa berharga.&lt;br /&gt;4. Atas pilihan saya, saya menyampaikan kepada aleg terpilih dan kebetulan caleg/parpol yang saya pilih pada 4 surat suara, dua jadi, yaitu untuk aleg DPRD Provinsi dan DPR-RI. Pada keduanya, saya sampaikan bahwa saya memilih beliau dan saya kadang sengaja meluangkan waktu untuk menyampaikan aspirasi politik saya. Bila ada hal-hal yang mengecewakan atau kasus tertentu,tak segan-segan saya berkomunikasi untuk mempertanyakannya dan saya terus mengikut perkembangannya, sampai sekarang dan pada pemilu 09 April 2009, saya akan kembali menggunakan hak memilih tersebut.&lt;br /&gt;Apalagi Leonardo Di Caprio, Steven Spielberg, Angelina Jolie dan lain-lain juga memilih. Kasus pilpres di AS telah menjadi contoh otentik, ketika rakyat bersuara dengan berkualitas, perubahan akan terjadi, so, ngape pulak kite’ maseh golput?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-5391335169650596329?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/5391335169650596329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=5391335169650596329' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5391335169650596329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5391335169650596329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/02/ngape-pulak-golput.html' title='Ngape’ Pulak Golput ?'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-6621077198281105461</id><published>2009-02-24T13:59:00.001+07:00</published><updated>2009-02-24T14:03:01.515+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan di KPU'/><title type='text'>Mengindependenkan KPU di Daerah</title><content type='html'>(Tanggapan opini Yohanes Usfunan, Kompas, 20 februari 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkap sudah suksesi kepemimpinan di daerah, mulai provinsi sampai dengan kabupaten/kota di Indonesia mulai pilkada langsung dilakukan pertama kali di Kutai Kertanegara tanggal 01 Juni 2005 hingga pilkada terakhir di Provinsi Jawa Timur yang dilaksanakan tanggal 21 Januari 2009. Babakan pertama pilkada langsung di seluruh daerah memberi sejumlah pelajaran dalam konteks menjamin keberlanjutan transisi demokrasi di Indonesia sekaligus menguatkan kultur demokrasi di tingkat provinsi, kabupaten dan kota.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Perubahan pendekatan dengan memilih langsung kepala daerah di Indonesia merupakan bagian dari proses transisi demokrasi. Sebagai bangsa yang besar, baik dari segi luas wilayah, jumlah penduduk, keanekaragaman sosial, politik serta budaya tentunya memberi warna yang berbeda atas proses pelaksanaan pilkada langsung tersebut. Tentunya puji sekaligus kekecewaan hadir atas pelaksanaan yang sukses sekaligus yang menimbulkan masalah. Terlepas dari puji dan kekecewaan tersebut, seluruh kepala daerah di Indonesia kini adalah hasil dari proses pemilihan secara langsung oleh rakyat dengan sejumlah janji/agenda politik yang disampaikan secara langsung kepada rakyat, turun langsung ke masyarakat, mulai dari daerah perkotaan hingga ke ujung-ujung daerah guna meraih kepercayaan rakyat. Para kepala daerah tersebut kini lebih memiliki kedekatan dengan masyarakat, lebih terikat untuk secara nyata dan serius mensejahterakan rakyat serta akan kembali dinilai 5 (lima) tahun kemudian dalam pemilihan selanjutnya. Tentunya harapan akan semakin baiknya tata pemerintahan di daerah dari raja-raja kecil menjadi pemimpin-pemimpin kecil dapat menjadi factor kunci yang menjadi bagian dari membangun keutuhan demokrasi di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membubarkan KPUD ?&lt;br /&gt;Opini Yohanes Usfunan (YU) pada harian ini tanggal 20 februari 2009 dengan judul membubarkan KPUD merupakan salah satu wacana dari sejumlah pilihan dalam melakukan perbaikan penyelenggaraan pilkada pada babakan kedua yang akan berjalan mulai tahun 2010. Opini secara keseluruhan serta empat hal yang dijadikan dasar oleh YU untuk membubarkan KPUD kurang tepat serta tidak disertai hasil pengamatan yang memadai. Ada dua pokok yang perlu diklarifikasi atas opini tersebut yang keliru secara mendasar dasar. Pertama, penggunaan Istilah KPUD mencerminkan ketidakpahaman atas proses perubahan kelembagaan KPU secara nasional. Sejak diterapkannya KPU sebagai lembaga yang bersifat nasional, tetap dan mandiri hingga kini telah terjadi 3 kali perubahan kelembagaan KPU di daerah, yaitu :&lt;br /&gt;1. Bagi kalangan KPU di Indonesia sejak tahun 2003 selalu menyebut diri KPU Kabupaten/Kota, karena memang tidak ada teks hukum yang menyebutkan kata KPUD. KPU di daerah senantiasa disebut dan menyebutkan diri KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota. Penyebutan ini sebagai implementasi dari UUD 1945 Pasal 22E akan lembaga KPU yang bersifat nasional, yaitu mencakup seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. &lt;br /&gt;2. Istilah KPUD muncul seiring keluarnya UU No. 32/2004 yang ketika itu menegasikan fungsi kesatuan KPU secara nasional. Sehingga pada masa tersebut, seolah relasi hirarkis KPU hilang yang terlihat dari pelaksanaan sejumlah pilkada pada masa tersebut. Disini berkembang wacana pilkada bukan merupakan rezim pemilu sehingga KPU di daerah (disebut KPUD) sebagai lembaga yang berdiri sendiri dan tidak memiliki relasi koordinasi dan hirarkis dengan KPU diatasnya. &lt;br /&gt;3. Lahirnya UU No. 22/2007 tentang penyelenggara pemilu tanggal 19 April 2007 telah kembali memulihkan aspek kelembagaan KPU sebagai lembaga yang bersifat nasional. Secara tegas pada Pasal 3, ayat 1, wilayah kerja KPU meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya pada Pasal 5, ayat 1 disebutkan KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota bersifat hierarkis. Dengan keluarnya undang-undang ini, menegaskan dua hal penting, yaitu : istilah KPUD tidak lagi dikenal dan menegaskan bahwa pilkada menjadi bagian dari rezim pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oknum KPU (di Daerah)&lt;br /&gt;Tiga hal yang diungkapkan YU selalu menyebut oknum KPUD yang secara prinsip melakukan pelanggaran kode etik sesungguhnya merupakan bagian dari dinamika kelembagaan yang diikuti dengan pemberian sanksi serta hukuman sesuai ketentuan yang ada. Mekanisme dewan kehormatan KPU telah ada dan berjalan, bahkan mungkin hanya KPU yang berhasil mendisiplinkan dirinya sendiri secara cepat dan sederhana, yaitu setiap adanya laporan dugaan pelanggaran kode etik, KPU diatasnya langsung membuat mekanisme Dewan Kehormatan yang memutuskan, beberapa waktu terakhir, Dewan Kehormatan KPU yang dipimpin oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH telah menyidang dan memberi keputusan untuk kasus di 4 (empat) KPU Provinsi (Sumsel, Papua, Sumbar dan Sulut). Dengan peristiwa ini, KPU membuktikan memiliki mekanisme kontrol internal yang cukup efektif untuk menghukum setiap komisioner yang melakukan pelanggaran kode etik. Sayangnya juga, YU tidak berhasil memaparkan data dengan detil jumlah oknum KPU secara nasional tersebut, sehingga didapati pengamatan yang lebih detil dan fokus pada masalah yang muncul, tidak lantas gara-gara satu nyamuk, kelambu dibakar. Klarifikasi penting adalah menyangkut ungkapan bahwa seleksi anggota KPUD yang menjadi wewenang DPRD sesuai dengan Pasal 57 UU No. 12/2008. Ungkapan ini keliru dan dapat menyesatkan, mengingat UU No. 12/2008 sebagai Perubahan Kedua atas UU. No. 32/2004 tidak melingkupi pasal 57. Terkait point seleksi anggota KPU di daerah, telah diatur oleh UU No. 22/2007 tentang Penyelenggara Pemilu. KPU di daerah secara berjenjang dipilih oleh KPU setingkat di atasnya. Mekanisme seleksi tersebut menetralisir konflik kepentingan sekaligus menjamin independensi penyelenggara pemilu, salah satu kasus yang disidangkan oleh Dewan Kehormatan KPU baru-baru ini menyangkut seleksi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KPU di Ad-Hoc-kan ?&lt;br /&gt;Kiprah KPU secara nasional maupun di daerah, tidaklah dapat dipahami secara parsial, terlebih pada semata-mata fungsi kepemiluan, meskipun tugas inti KPU adalah melakukan pemilihan umum, baik legislatif, presiden dan wakil presiden serta kepala daerah dan wakil kepala daerah. Keberadaan KPU dipahami sebagai lembaga yang menjadi bagian dari proses demokrasi yang tengah dalam masa transisi. Suka-tidak suka, mau-tidak mau, KPU telah berhasil melaksanakan pemilihan umum legislatif dan eksekutif di seluruh Indonesia beserta dengan sejumlah catatannya. Rangkaian proses berdemokrasi tersebut dan kedepannya tidaklah semata-mata ditempatkan sebagai satu kepanitiaan pemilihan semata, melainkan sebagai proses sinambung yang akan menjamin independensi KPU. Diluar tugas melaksanakan pemilu, KPU di daerah terlibat dalam PAW anggota DPRD, melakukan pendidikan politik masyarakat, memutakhirkan data pemilih, memelihara logistik pemilu serta tugas lain yang diberikan undang-undang dan KPU diatasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlunya UU Pemilihan Umum Kepala Daerah&lt;br /&gt;Pesan penting yang disampaikan oleh YU adalah bagaimana KPU di daerah dalam pelaksanaan pilkada tahun 2010-2013 tetap terjamin independensinya. Lebih jauh lagi adalah, bagaimana kerangka aturan serta rangkaian proses yang terkait pemilihan kepada daerah menjamin proses penyiapan dan pelaksanaan yang independen. Sejumlah sangkaan kepada oknum anggota KPUD oleh YU akan lebih produktif disajikan dalam konteks mengevaluasi konstuktif serta proporsional. Terkait dengan kacamata melihat KPU dengan KPUD, pada masa sekarang hal tersebut sudah tidak lagi relevan, mengingat UU No. 22/2007 menjamin proses independensi KPU di daerah serta adanya aspek pengawasan yang juga bersifat tetap oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Mencermati proses pilkada di berbagai daerah, khususnya di Kalimantan Barat, sudah saatnya pemilihan umum kepada daerah diatur dalam satu undang-undang tersendiri dengan prinsip-prinsip yang menjamin independensinya rangkaian proses tersebut. Beberapa hal penting untuk menjadi perhatian mulai dari aspek data pemilih (penggunaan data pemilih terakhir dari pemilu untuk digunakan pada pilkada, tidak lagi harus selalu dari discapilduk atau sebutan lainnya), keuangan penyelenggaraan (jaminan ketersediaan dana sejak sebelum dimulainya tahapan pilkada dilakukan, kejelasan besaran anggaran serta pengaturan pelaporan keuangan yang akuntabel dan transparan), hingga penegasan posisi aparat pemerintah daerah (peran sekretariat KPU di daerah, sekretariat PPK serta perlunya ada sekretariat PPS) serta jajaran birokrasi pemerintahan daerah yang diatur sehingga perannya menjadi jelas dan fungsional, tidak masuk pada ranah politik dan tahapan proses yang rentan konflik politik seperti pencalonan (perseorangan), kampanye dan audit dana kampanye serta hal lain. &lt;br /&gt;Adanya UU Pemilihan Umum Kepada Daerah ini diharapkan akan menempatkan kerangka hukum secara menyeluruh, tersistem dan independen serta tidak tersubordinasi dengan UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah atau peraturan lainnya. Contoh masalah aturan yang dapat berdampak pada efektifitas pelaksanaan pilkada adalah: pengaturan yang berbeda tentang sekretariat PPS antara UU No. 22/2007 dengan UU No. 32/2004 dan pengaturan incumbent. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-6621077198281105461?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/6621077198281105461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=6621077198281105461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/6621077198281105461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/6621077198281105461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/02/mengindependenkan-kpu-di-daerah.html' title='Mengindependenkan KPU di Daerah'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-7521299772894714516</id><published>2009-02-14T11:40:00.005+07:00</published><updated>2009-02-24T14:25:58.629+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Pelajaran kebaikan minggu ini (1)</title><content type='html'>Minggu ini penuh dengan hikmah, berkesempatan bertemu orang-orang baik, meski salah satunya justru tau dari istrinya karena yang bersangkutan baru saja meninggal. Ditengah semakin banyaknya kekecewaan masyarakat dengan orang-orang yang tengah mengemban amanah, masih banyak mutiara kecil yang bersinar dan patut dijadikan temnpat belajar. Mulai dari aparat PPS, mantan petinggi lembaga nirlaga terunggul di Indonesia maupun rekan komisioner.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pelajaran pertama, hari rabu malam, tepatnya saat berkunjung ke rumah (alm) Sulaiman, mantan Anggota PPS Benua Melayu Laut yang telah meninggal di usia 63 tahun karena sakit yang tengah dideritanya. Ibu Khalsum, istri beliau bertutur lebih banyak tentang Sulaiman. Disaat kemarin pilwako, beliau tengah sakit-sakitan masih tetap istiqomah menjalankan tugasnya yang notabene sebagai aparat penyelenggara pemilu di tingkat kelurahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat tengah sakit, namun tugas menanti, Sulaiman dibantu istrinya boncengan satu motor menyebarkan undangan atau berkas ke RT-RT untuk kegiatan pilwako. Di Kantor kelurahan atau di rumah secara telaten, beliau menulis dan menyusun berkas-berkas administrasi TPS dan administrasi keuangan. Maklumlah, UU No. 22 Tahun 2007 meniadakan aparat PPS dibantu dengan Sekretariat PPS. Jadi mereka bekerja tiga orang untuk mengurus satu kelurahan (Gileeee bener neh negare...). Sementara untuk kegiatan hajatan pemilu, baru diadakan Sekretariat PPS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tulisan pak sulaiman bagus dan rapih pak" ucap Rio (Anggota PPK Pontianak Selatan) yang mengawankan saya, "Bapak kerja tekun dan tidak pernah meminta-minta atau mengeluh bila tengah bekerja pak. Bahkan bila kerjaan belum dilakukan atau belum selesai tapi sudah diberi uang, beliau cenderung takut menerima". tambah ibu Khalsum yang diaminkan oleh Rio. "Pak Sulaiman orangnya rajin pak, dia tahu rumah-rumah pengurus RT dan RW". Lanjut Khalsum. Subhanallah.... (hatiku bergetar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah beragam tuntutan akan posisi yang seolah-olah berharga dan bahkan belum terbukti kemampuan bekerja, ditengah berlomba-lomba orang menagih bangsa memberi padanya, Pak Sulaiman tidak hirau dan selalu sibuk bekerja. Perlahan hadir kembali wajah itu, ditiap pertemuan dengan KPU Kota, beliau selalu hadir dan dengan tekun serta senyum menyimak pertemuan. Nyaris tanpa tanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"bila tahun baru Imlek, bapak juga mbantu-mbantu pelaksanaan imlek didaerah ini pak". tutur istrinya lirih... matanya menerawang memandang lukisan wajah yg sedikit kusam dan dibawah lukisan itu tertulis nama : Sulaiman.&lt;br /&gt;Diri ini menyesal, baru mengenalnya sekarang, rutinitas ini bisa menghimpit naluri sosial, hilang waktu untuk belajar banyak dari Pak Sulaiman... Selamat jalan Pak Sulaiman, Ya Allah.... Aku bersaksi, Ia adalah hamba-Mu yang baik. (bersambung)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-7521299772894714516?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/7521299772894714516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=7521299772894714516' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/7521299772894714516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/7521299772894714516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/02/pelajaran-kebaikan-minggu-ini-1.html' title='Pelajaran kebaikan minggu ini (1)'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-2330410510036867996</id><published>2009-01-18T22:31:00.004+07:00</published><updated>2009-01-18T22:47:19.828+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pikiran jernih'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/SXNN5-7MFbI/AAAAAAAAALo/ezZD40ji8ZM/s1600-h/michael-heart.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/SXNN5-7MFbI/AAAAAAAAALo/ezZD40ji8ZM/s320/michael-heart.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292659645629601202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)&lt;br /&gt;(Composed by Michael Heart)&lt;br /&gt;Copyright 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A blinding flash of white light&lt;br /&gt;Lit up the sky over Gaza tonight&lt;br /&gt;People running for cover&lt;br /&gt;Not knowing whether they’re dead or alive&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They came with their tanks and their planes&lt;br /&gt;With ravaging fiery flames&lt;br /&gt;And nothing remains&lt;br /&gt;Just a voice rising up in the smoky haze&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In the night, without a fight&lt;br /&gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;br /&gt;But our spirit will never die&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In Gaza tonight&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Women and children alike&lt;br /&gt;Murdered and massacred night after night&lt;br /&gt;While the so-called leaders of countries afar&lt;br /&gt;Debated on who’s wrong or right&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But their powerless words were in vain&lt;br /&gt;And the bombs fell down like acid rain&lt;br /&gt;But through the tears and the blood and the pain&lt;br /&gt;You can still hear that voice through the smoky haze&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In the night, without a fight&lt;br /&gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;br /&gt;But our spirit will never die&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In Gaza tonight &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-2330410510036867996?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/2330410510036867996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=2330410510036867996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/2330410510036867996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/2330410510036867996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/01/we-will-not-go-down-song-for-gaza.html' title=''/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jli4g1i2l2Y/SXNN5-7MFbI/AAAAAAAAALo/ezZD40ji8ZM/s72-c/michael-heart.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-4131761476164279050</id><published>2009-01-15T21:46:00.006+07:00</published><updated>2009-01-15T22:13:45.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Si Miskin Yang Tak Miskin</title><content type='html'>Tiap pagi berangkat kerja, dalam hitungan waktu cukup sering, aku selalu bertemu dengan seorang wanita tua dengan langkah terseok-seok memikul bakul di punggung membawa sesuatu di ujung gang sebelum masuk ke Jalan M. Sohor. Pakaian lusuh dan raut wajah nyeri selalu hadir. "hmm... pengemis ternyata jam kerjanya sama denganku.." demikian gumamku dalam hati dipertamakali jumpa. Dengan semakin menjamurnya perusahaan-pengemis di Pontianak, kini semakin sulit mendapat pasar sedekah di perempatan jalan dan sekitarnya. Ia lebih lusuh dan tidak sesegar dari peminta-minta berbekal map yang entah panti asuhannya di pulau lain tersebut benar ataw tidak...&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Awalnya aku pikir dia memang satu dari banyak pengemis yang terkoordinir karena waktu kerjanya nyaris selalu sama setiap bertemu, dipagi hari ketika matahari mulai menampakkan wajahnya...&lt;br /&gt;Hampir saja virus "beda-kelas-sosial" meracuni hati ini, sempat terbersit kekesalan dengan Perusahaan-Pengemis Simpang Empat. Lama-lama "pengemis-gang" ini menjadi perhatian diriku, kadang muncul iba bercampur kesal. Tapi pertempuran sikap ini berakhir ketika kulihat ia tengah memberi sayuran kepada salah satu tetangga... subhanallah, wanita setua itu yang setiap hari berjalan kaki terseok, pakaian lusuh, ternyata satu dari sedikit orang yang sedemikian tegar dan menguatkan diri untuk hidup dengan tidak meminta-minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, engkau ingatkan diri ini untuk terus belajar menjaga diri dengan hidup dari kerja-kerja yang "baik". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, entah mengapa keesokan harinya kembali bertemu, diriku berhenti dan memberi sejumlah infak untuknya... Justru ketika diri ini tahu bahwa ia bukanlah pengemis, ia mungkin miskin, tp ia nyatanya tidak miskin. Ditengah banyaknya orang yang ikut dalam barisan menjadi pengemis, bahkan kadang sengaja memiskinkan diri, wanita tua itu setiap pagi tetap ada berjalan dengan langkah terseok, peluh membasahi wajahnya, pakaian lusuh dengan tetap menjajakan sayuran kepada warga sekitar Puri Indah dan Sumatera Indah, entah sampai kapan..... &lt;br /&gt;Pertemuan terakhir dengannya kemarin, entah mengapa, diriku tersenyum melihatnya... bukan menertawakan kemiskinannya, tapi bahagia karena Ia insya Allah akan mendapatkan tempat yg baik disisi-Nya. Dibalik atribut dunia yg miskin padanya, tersirat kekayaan spiritual di tiap langkahnya dan kenyataannya, bukankah dunia ini hanya persinggahan belaka untuk menuju kampung kekal akhirat. Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-4131761476164279050?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/4131761476164279050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=4131761476164279050' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/4131761476164279050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/4131761476164279050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/01/si-miskin-yang-tak-miskin.html' title='Si Miskin Yang Tak Miskin'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-3492602771298382947</id><published>2009-01-07T19:58:00.002+07:00</published><updated>2009-01-07T20:42:09.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan di KPU'/><title type='text'>Suara Terbanyak dan Kampanye Caleg Yang Mencerdaskan</title><content type='html'>Kampanye caleg untuk pemilu 09 April 2009 semakin menarik dikurun waktu pemilu dalam hitungan kurang dari 100 hari terkait dengan adanya putusan MK tentang penentuan calon terpilih berdasarkan suara terbanyak. Dalam konteks menimbang potensi hadirnya aleg yang lebih peka dan lebih mau memperjuangkan rakyat dengan efektif menemukan momentumnya, karena secara sistem pemilihan, caleg yang dipilih dengan suara terbanyak akan duduk di parlemen dengan asumsi partai tersebut mendapatkan kursi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyoal Kapasitas Caleg&lt;br /&gt;Problemnya adalah dengan sistem yang sekarang terlihat justru caleg kurang memiliki kesiapan untuk berkampanye dengan efektif. Hingga hari ini, nyaris belum ada caleg yang secara terkonsep menawarkan agenda yang akan dilakukan atau diperjuangkan sebagai bentuk transaksi-kepercayaan/mandat dari rakyat-caleg, selain menampilkan foto, nama dan gambar parpol serta nama dan nomor urut caleg tsb. Padahal bila para caleg mampu menawarkan agenda politiknya, bukan tidak mungkin akan menuai suara yang banyak, mengingat hal ini belum ada yang melakukannya, khususnya di Pontianak dan mungkin ini fenomena di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Memahami Keberadaan Lembaga Legislatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerti fungsi dan tugas bila menjadi aleg adalah kata kunci sebagai langkah awal menyusun dan menawarkan agenda politik kepada pemilih sesuai dapil (daerah pemilihannya) masing-masing. Tidak sedikit caleg yang belum mengetahui dengan persis fungsi dan tugas lembaga legislatif dan celakanya, yang tengah menjadi aleg pun membuat bahan kampanye yang kurang lebih sama, so.... dimana diferensiasi mereka?.&lt;br /&gt;Secara pokok, legislatif memiliki tiga fungsi, yaitu : legislasi (membuat perda), pengawasan (pembangunan) dan anggaran (APBD). Ada beberapa cara pilihan agenda/isu kampanye yang mencerdaskan dan sesungguhnya bisa dilakukan para caleg dengan syarat adanya kemauan untuk mengetahui proses pembangunan yang tengah berjalan di dapilnya. Kegiatan politik ini menjadi penting dilakukan, baik dari sisi pendidikan politik maupun marketing politik, antara lain :&lt;br /&gt;1. Menunjukkan kesungguhan untuk memperjuangkan aspirasi politik berbasis pemilih di dapilnya;&lt;br /&gt;2. Adanya nilai lebih dari sekian banyak caleg yang ada dan dominan hanya mempublikasikan hal2 bersifat tampangisme;&lt;br /&gt;3. Pilihan agenda/isu akan membuat fokus sasaran pemilih yang dituju;&lt;br /&gt;4. Terbangunnya budaya demokrasi yang rasional (dengan akal sehat);&lt;br /&gt;5. Mendorong transaksi politik berbasis agenda politik bukan berbasis money-politic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih Agenda/Isu Politik&lt;br /&gt;Dengan terpahaminya fungsi legislatif, caleg bisa mulai memilih satu, dua atau ketiga fungsi itu dengan agenda yang ditawarkan secara spesifik, realistis dan unik. Spesifik maksudnya masalah/isu pembangunan sangatlah banyak, sehingga sudah bukan masanya lagi menawarkan isu-isu politik/pembangunan yang umum. realistis maksudnya isu/agenda tersebut sebagai hasil dari sebuah proses merumuskan kebijakan publik, hal mana akan dengan sendirinya meningkatkan nilai-jual caleg dimata pemilih, isu/agenda bukan hal yang mimpi. karena isu/agenda dapat diperjuangkan dalam masa kerja 5 (lima) tahun. Unik dimaksud, rumusan isu/agenda politik bukan sesuatu yang lama alias itu-lagi-itu-lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjual Agenda/Isu Politik&lt;br /&gt;Kemampuan memilih agenda/isu bila tidak dibarengi dengan kemampuan menjualnya juga akan percuma. Dalam rumus marketing. "barang bagus, dipasarkan dengan cara jelek tak bakal laku" dan sebaliknya. Tapi tidak lantas memilikirkan cara jual saja (maka akan sebatas salon politik). &lt;br /&gt;....bersambung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-3492602771298382947?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/3492602771298382947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=3492602771298382947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/3492602771298382947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/3492602771298382947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2009/01/suara-terbanyak-dan-kampanye-caleg-yang.html' title='Suara Terbanyak dan Kampanye Caleg Yang Mencerdaskan'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-8596660941099902688</id><published>2008-12-17T00:38:00.003+07:00</published><updated>2008-12-17T01:00:36.457+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan reformasi'/><title type='text'>Caleg muda, Kreatiflah berkampanye...</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pemilu 2009 akan dilaksanakan (rencananya) serempak pada hari Kamis, 09 April. Menariknya, nuansa caleg tua-muda mengemuka seiring dengan menguatnya keinginan regenerasi elit politik baik di eksekutif maupun di legislatif. Tarik-menarik tua-muda tentunya tidak pantas hanya terjadi pada aras slogan politik atau jargon antar mereka yang diposisikan sebagai kaum tua dan yang menempatkan diri sebagai kaum muda. Namun lebih penting lagi bila mereka yang mengaku muda melakukan kerja-kerja politik ditengah waktu yang telah singkat... Kuncinya: Kreatif !!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bila dicermati, isu tua-muda yang berkembang tidak diikuti dengan bentuk turunannya yang mencerminkan pertarungan dua generasi. Alih-alih, bila hal ini terus berjalan, kaum muda tergerus oleh kaum tua. Wajar saja, karena mereka telah membuat pola dan menggelutinya selama ini dan kaum muda seolah tak mampu mengembangkan kreatifitas politiknya guna mengembangkan pola kampanye yang mencerminkan...."saya caleg muda".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar caleg muda, melakukan hal kurang lebih sama.... sibuk membuat kartu nama, kalender, stiker, spanduk, baleho. Kalaupun agak kreatif membuat fb, fs, mp, dan sejenisnya dengan menggunakan media maya. Minus media internet, semua yang dilakukannya nyaris tak berbeda dengan cara kerja politisi sejak pemilu 2004, bahkan 1999. Padahal, cukup banyak celah atau hal baru yang dapat dilakukan guna meraih kepercayaan rakyat secara nyata. Mulai dari sejak sekarang memperjuangkan aspirasi sesuai target pemilih terfokus, tidak generalis; mengadvokasi kebijakan publik yang ditengah hujan masalah dampak krisis ke lembaga perwakilan, mengembangkan jajak pendapat politik yang diartikulasikan menjadi daftar tuntutan dan diperjuangkan, dll. Tentunya secara paralel, masyarakat perlu juga kembali diingatkan sejati demokrasi yang tak ada untungnya dijual seharga Rp. 10.000, Rp. 20.000, Rp. 30.000, dst. Memang tidaklah mudah, namun peluang itu ada... Sehingga, peran caleg muda tidak sebatas membangun kepercayaan publik, namun juga melakukan pendidikan politik, sehingga pada akhirnya dapat bersama membangun demokrasi yang efektif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-8596660941099902688?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/8596660941099902688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=8596660941099902688' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/8596660941099902688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/8596660941099902688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/12/caleg-muda-kreatiflah-berkampanye.html' title='Caleg muda, Kreatiflah berkampanye...'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-6092837594734533812</id><published>2008-09-14T14:16:00.002+07:00</published><updated>2008-09-14T14:43:12.684+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan reformasi'/><title type='text'>Saatnya Kaum Muda Nyalip...</title><content type='html'>"...tiada tempat berhenti di jalan ini&lt;br /&gt;sikap lamban berarti mati.&lt;br /&gt;Mereka yang bergerak,&lt;br /&gt;merekalah yang maju.&lt;br /&gt;yang berhenti walau sesaat,&lt;br /&gt;Pasti akan tergilas..."&lt;br /&gt;(Sir M. Iqbal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kini saatnya kaum muda menyalip....&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;transisi kehidupan bangsa Indonesia kini berada pada masa yang semakin baik, meski nyaris senantiasa teropinikan oleh kita sendiri pada posisi yang ketakjelasan arah. Pertama, Betapa tidak, kini kebebasan yang saling kontrol telah terbangun, kekuasaan yang absolut telah hilang, yang bermakna mekanisme check n balance terbangun.&lt;br /&gt;Monopoli kebenaran dengan segala tafsirnya tak lagi bersifat tunggal. Keberadaan MK merepresentasi hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, otonomi daerah dengan segala kekurangannya telah menghasilkan model daerah seperti jembrana, gorontalo, sragen, dll. Bersama dengan itu juga hadir daerah-daerah yang gagal membangun. pointnya : masyarakat di daerah yang menentukan nasibnya sendiri, ini adalah bibit baik untuk membangun kemandirian komunitas daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, demokrasi politik yang meski belum asyik karena masih ada oligarkhi di elit partai, namun fenomena suara terbanyak adalah anomali-positif. terlebih pilkada secara langsung telah berlangsung yang akan rampung seluruhnya di akhir tahun ini. Dari kurang lebih 500 pilkada langsung, kalau dihitung-hitung, yang bermasalah tidaklah banyak, mungkin dibawah 5%. kasus depok, malut, sulsel, sumsel tidaklah dapat dijadikan justifikasi akan pilkada = keributan. Sejatinya pilkada langsung telah berhasil mendekatkan elit dengan rakyat langsung, malah kini rakyat berada pada posisi tawar yang cukup bermartabat. tinggal bagaimana kounitas2 sipil yang ada bisa memenpatkan diri secara proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, keniscayaan perubahan semakin jelas manakala kalangan muda masih cukup banyak yang baik, tentunya tetaplah ada kekurangannya. kalangan muda yang bertebaran di seantero republik ini terkondisikan disiapkan oleh lingkungannya untuk menggantikan kalangan tua dengan segala kelebihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tinggal pekerjaan besarnya, bagaimana kaum muda mau berkomitmen melakukan kebaikan, dengan cara baik di waktu kini, khususnya di PEMILU 2009. Bagaimana caranya nyalip?.... (bersambung)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-6092837594734533812?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/6092837594734533812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=6092837594734533812' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/6092837594734533812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/6092837594734533812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/09/saatnya-kaum-muda-nyalip.html' title='Saatnya Kaum Muda Nyalip...'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-2278655359128553001</id><published>2008-09-14T14:07:00.002+07:00</published><updated>2008-09-14T14:11:15.883+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan di KPU'/><title type='text'>Panwascam Sepi Peminat</title><content type='html'>Minggu, 14 September 2008 , 13:16:00&lt;br /&gt;www.pontianakpost.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PONTIANAK - Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) untuk di Kota Pontianak sepi peminat. Karena itu, KPU Kota Pontianak memperpanjang pendaftaran sampai Rabu, 17 September 2008.&lt;br /&gt;Hingga kemarin calon anggota panwascam untuk Pilwako Pontianak masih belum memenuhi ketentuan UU No. 22 tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sesuai Undang-Undang tersebut, pada pasal 95 disebutkan bahwa calon anggota panwascam diusulkan KPU Kabupaten/Kota kepada Panwaslu Kabupaten/Kota sebanyak enam orang untuk selanjutnya dipilih sebanyak tiga orang sebagai anggota Panwaslu Kecamatan dan ditetapkan dengan keputusan Panwaslu Kabupaten/Kota. &lt;br /&gt;Menurut Ketua Pokja Pembentukkan Panwas yang juga anggota KPU Kota Pontianak Viryan Azis, baru ada 29 pendaftar yang terdistribusi merata pada 6 kecamatan. &lt;br /&gt;Setengah dari pendaftar tersebut belum memenuhi kualifikasi atau persyaratan undang-undang yaitu kriteria berumur 35 tahun dan berpendidikan minimal SLTA/sederajat. &lt;br /&gt;“Persyaratan usia kini tengah menjadi kendala proses pembentukan panwascam di hampir seluruh daerah. Bahkan ketika proses pembentukan panwas kabupaten/kota memerlukan waktu yang agak lama untuk terpenuhinya proses seleksi sesuai undang-undang,” katanya.&lt;br /&gt;Viryan mengatakan, kondisi ini memang berdampak tidak baik pada proses pelaksanaan pilwako secara utuh. Betapa tidak, panwaslu yang sekarang ada harus melakukan kerja-kerja pengawasan hanya bertiga saja. &lt;br /&gt;“Untuk itu KPU Kota Pontianak memperpanjang pendaftaran untuk panwascam sampai dengan 17 September,” katanya , sembari menambahkan bahwa bagi yang berminat dapat mengambil formulir pendaftaran ke Kantor KPU Kota Pontianak Jalan Zainuddin, di belakang Kantor Bappeda Kota Pontianak. (zan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-2278655359128553001?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/2278655359128553001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=2278655359128553001' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/2278655359128553001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/2278655359128553001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/09/panwascam-sepi-peminat.html' title='Panwascam Sepi Peminat'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-4258398333181898874</id><published>2008-08-31T00:04:00.000+07:00</published><updated>2008-08-31T00:06:53.438+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pikiran jernih'/><title type='text'>Jalan Politik Hillary</title><content type='html'>By Thobias Tubulau, on 29-08-2008 19:26  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Published in : Deputi I, ARTIKEL&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Denver, Hillary menunjukkan indahnya demokrasi. Bahkan jika hanya dianggap sebagai tontonan sekalipun, pidatonya --sebagai ekspresi dari sikap politik-- tetap saja indah dan menarik. Dengan jelas dia menegaskan, yang intinya adalah bahwa: "sebagai seorang demokrat, sebagai seorang senator New York, sebagai seorang warga Amerika, dengan bangga mendukung kemenangan Obama". Bahwa Obama harus didukung untuk memastikan jalan ke Gedung Putih.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Betapa hebatnya dia. Matang, dewasa, ikhlas dan menampilkan diri sebagai demokrat sejati. Bayangkan, setelah berbulan-bulan bertarung amat sangat keras dengan Obama, termasuk dengan saling ejek dan ledek, dan kemudian kalah, Hillary mampu menerima kekalahan dengan sangat elegan. Bukan saja sanggup menunjukkan diri sebagai pecundang yang terhormat, tetapi bahkan bisa tampil sebagai pihak yang kalah dengan cara "penuh kemenangan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kalah dari Obama, justru Hillary mengambil jalan sebagai pendukung Obama yang sejati. Dia tampil sebagai penyokong, pembela dan habis-habisan untuk meyakinkan pendukung fanatiknya yang sebagian masih marah kepada Obama, untuk mendukung rival utamanya tersebut. Ego politik Hillary ditempatkan di bawah akal sehatnya. Kekecewaan politiknya ditutup oleh kedewasaan dan kapasitasnya untuk melihat kepentingan yang lebih besar, yakni kemenangan calon dari partainya dan masa depan negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berpolitik Hillary sejatinya adalah cermin dari politisi demokrat yang sesungguhnya. Jika Pele, Maradona, Ronaldinho, Messi mampu memainkan sepak bola indah, Hillary tengah menjadi aktor hebat untuk "politik indah". Bahwa politik sangat jauh hari dendam dan permusuhan. Bahwa politik harus dijaga dari sikap dan perilaku yang rendah dan merendahkan. Bahwa pertarungan politik, sekeras apa pun, tidak dimaksudkan untuk kalah dan menang, meskipun harus ada yang kalah dan menang. Bahwa politik diabdikan untuk kemenangan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya para politisi di Indonesia belajar dari Hillary. Tuntutlah cara berpolitik yang sehat dan matang, meskipun dari seorang yang kalah konvensi. Rumusnya tidak terlalu sulit. Jika kalah, jangan dendam dan merawat permusuhan, dan jangan pongah jika menjadi pemenang. Menang dan kalah adalah sekadar produk dari game yang aturan mainnya telah disepakati bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, amat menyedihkan jika di negeri ini, pilpres atau pilkada kemudian melahirkan permusuhan dan dendam tak berkesudahan. Silaturahmi diputus dan permusuhan dirawat, atau bahkan dikembangkan. Yang kalah bersemangat untuk mengganggu dan menjatuhkan yang menang. Segala macam cara ditempuh untuk agar pemenang tidak berhasil menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika itu yang terjadi, maka demokrasi sesungguhnya tidak sedang dipraktikkan. Demokrasi hanya menjadi aturan formal dan tidak pernah diresapi, diyakini, dan dijalankan. Mengapa? Fisiknya seorang demokrat, tetapi jiwanya antidemokrasi. Sampulnya demokrat, tetapi ruhnya otoriter. Artinya, demokrasi hanya berlaku untuk menuntut orang lain, tetapi mati di dalam diri sendiri. Maka, tak salah jika kita yang merasa belum mampu menjadi pelaku demokrasi, untuk rela belajar dari seorang Hillary. Wallahu a`lam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-4258398333181898874?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/4258398333181898874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=4258398333181898874' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/4258398333181898874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/4258398333181898874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/08/jalan-politik-hillary.html' title='Jalan Politik Hillary'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-3151717019543781366</id><published>2008-08-24T19:45:00.002+07:00</published><updated>2008-08-24T19:56:23.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Tiap Orang Bisa Berubah, Maka Berubahlah... Satria Baja Hitam</title><content type='html'>Satria baja hitam... figur tokoh yang dikagumi sinchan, sederhana, ia hadir di film anak-anak yang nyaris luput dari perhatian kecuali kenakalan dan kedegilannya. Tapi kata berubah yang berkali-kali terucapkan mengingatkan satu sikap positif. &lt;br /&gt;Setiap orang bisa berubah, tak peduli seberapa baik ataw jahatnya orang itu sebelumnya, bila tekad berubah kuat, maka anda bisa berubah, tak terkecuali bimbim...&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbim Slank : Pertolongan Allah di Puncak Sakaw        &lt;br /&gt;Tuesday, 14 February 2006 06:04  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keringat bermanik-manik di wajahnya. Tubuhnya menggigil. Wajahnya yang tirus dan kuyu menyemburatkan rasa sakit yang sangat. Napasnya pun tersengal-sengal. Di puncak rasa sakit yang tak terperikan, anakmuda yang sakaw (ketigahan narkoba), teringat pada Allah. ''Ya, Allah, sembuhkan aku dari rasa sakit ini, bebaskan aku dari jerat narkoba,'' hatinya mengerung, memanjatkan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong, ia merasa ada kesejukan, mengaliri jiwanya. Kesejukan itu bagaikan air yang merendam rasa sakit pada jasmaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbim, demikian anak muda yang sakaw itu, tak dapat melupakan pengalaman tersebut. Pengalaman itu, tak sekadar membekas di bilik hatinya, tetapi memicunya untuk mendekatkan diri pada-Nya sekaligus lebih menghayati agama Islam. Sepotong doa, baginya di puncak kritis, menjadi obat yang mengeluarkannya dari jerat narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbim, siapa tak mengenal nama itu? Nama itu terpahat di benak para slanker, penggemar grup rock Slank. Bimbim bersama personel Slank, seperti jamaknya bagi sebagaian rocker pada kala itu, memang sempat menjadi budak narkoba. Narkoba bagaikan setan. Awalnya, mengiming-iming kebebasan berekspresi dan kekayaan kreativitas, sehingga mereka menggunakan narkoba untuk eksis di blantika musik Indonesia. ''Dulu dengan menggunakan narkoba memang bisa membantu,'' kisah Bimbim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan, narkoba menjadi gaya hidup, awak Slank. Tak hanya Bimbim, Kaka dan Irfan pun mengonsumsinya.Maka dengan mata celong, kelakukan tak terkontrol, mereka lebih mirip monster di panggung. Ironisnya, penggemarnya mengelu-elukannya. ''Yang ganjil malahan orang luar yang melihat kita. Kita sih ngerasa benar juga,'' kenang Bimbim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, narkoba itu laiknya setan. Setelah terjerumus kepada narkoba, Bimbim maupun Kaka belakangan merasa daya 'sihir' narkoba, berkurang. Sebaliknya, mereka merasa fisik dan jiwa kian layu, bahkan, mengutip istilah mereka, ''hampir mati.'' Merasakan dampak buruknya, awak Slank pun sepakat untuk keluar dari jebakan narkoba. Semula, mereka mencoba mengurangi dosis, dengan harapan kelak dapat berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya? Hingga lima tahun, mereka tak kunjung berhenti. ''Jadi kalau mau berhenti harus mendadak. Hari ini mau berhenti, ya hari itu juga nggak lagi mau bersentuhan dengan narkoba,'' jelas penabuh drum itu. Kaka, sang vokalis, berpendapat demikian. Ia melukiskan, obat dan dokter hanya pembantu, yang utama ialah niat untuk berhenti. Irfan, pemain bass, menambahkan dari semua itu kemauan memohon petunjuk Allah. ''Tanpa berdoa nggak mungkin kita bebas dari narkoba.'' Mereka yang tak percaya Allah mustahil keluar dari jerat narkoba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bantuan Allah dan dukungan keluarga, para awak Slank itu meyakini, mustahil dapat sembuh. ''Kita nggak lupa berdoa. Ya berdoa untuk karier kita dan supaya lepas dari narkoba. Alhamdulillah akhirnya dijawab oleh Allah dan kita diberi kesempatan sekali lagi,'' kisah Bimbim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, menurut Kaka, peran keluarga terutama Bunda (orangtua Bimbim) menyebabkan mereka sembuh. Bunda begitu sabar dan telaten merawat mereka. Menghadapi awak-awak Slank, Bunda memperlakukan mereka, tak ubahnya bayi. Berkat doa mereka sendiri maupun Bunda sekaligus ketawakkalan orangtua tersebut, mereka sembuh dari narkoba, pada 2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelimanya -- Bimbim, Kaka, Ridho, Abdi dan Ifan -- kini merasa lebih sehat jasmani maupun rohani dibandingkan dulu. Berhasil keluar dari kungkungan 'setan' tersebut, merupakan pengalaman ruhani yang terbesar, bagi awak Slank. ''Kalau dipikir-pikir mustahil kami dapat keluar, tanpa pertolongan Allah.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat pertolongan-Nya - yang jika Cuma menggunakan logika manusia mustahil mereka mendapatkan hidayah-Nya akibat keburukan perilaku - mereka menyadari betapa Allah maha pengasih. Mereka pun semakin berupaya mendekatkan diri kepada agama. Salah satu bentuknya berdoa sebelum konser. ''Ya bayangin aja, kita sering konser di banyak kota hanya dalam waktu tiga bulan. Kasarnya kalau bukan karena pertolongan Allah, kita pasti nggak akan kuat. Alhamdulillah konser berjalan lancar, '' ujar Bimbim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengaku telah memulai ritual doa sebelum manggung sejak awal, Kaka mengisahkan, dengan semua awak Slank muslim, justru membuat kompak. ''Doanya bismillah dan baca fatihah,'' kisah Kaka. Slank pun lebih dewasa, bahkan, kini berupaya menanamkan kesadaran bagi penggemarnya di sela-sela pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman berkesan lainnya bagi para rocker ini saat turut memeriahkan Konser Hijriyah yang diselenggarakan Republika pada dua tahun silam. ''Tanpa pikir panjang kami iyakan, ini berkah tersendiri,'' kenang Bimbim. Merupakan pengalaman musikal relijius pertama Slank, pada perhelatan keislaman itu, grup rock ini berkolaborasi dengan Hadad Alwi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dipetik dari pengalaman musikal relijius itu? mengandaikan konser itu merupakan bentuk lain ibadah Slank, Kaka mengakui ada nuansa berbeda karena sebelumnya tidak pernah menyanyikan lagu religius. Penjiwaan terhadap lagu inilah yang agak sulit dilakukan dalam tempo singkat. Bila untuk tembang pop rock biasanya hanya butuh waktu satu hari, tetapi menjiwai lagu religius baru bisa dua hari. Itupun setelah banyak bertanya kepada Hadad Alwi dan sejumlah orang yang memahami bahasa Arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseharian mereka pun kini kian islami terutama karena semua personelnya pemeluk Islam. Ini menciptakan suasana kondusif bagi Slank. Masing-masing menjadi bisa saling memberitahu dan memberi arah. Kadang salah satu dari kelimanya mengingatkan untuk shalat. Kendati kegiatan rutin keagamaan belum dilaksanakan, namun ada momen-momen tertentu yang mereka gunakan untuk berkumpul bersama. Semisal berbuka puasa, sahur dan takbiran bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbim pun kini lebih bening membandingkan masyarakat maju di negara sekuler. Di sana, menurutnya, sebagian penduduknya memang tak percaya Tuhan. Di Indonesia? Kendati hidup modern, masyarakatnya masih mengingat Allah. Bimbim pun berharap, mereka dapat mewujudkan impian di masa datang, yaitu menyelipnya nuansa reliji pada album-album barunya. Namun, Bimbim menegaskan, Islam tak harus identik dengan Arab, begitupun dengan musiknya. ''Bagi Slank, musik Islam dapat dibungkus dengan corak apapun, pop modern misalnya,'' ujarnya. (Yusuf Assidiq/Republika Online&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-3151717019543781366?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/3151717019543781366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=3151717019543781366' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/3151717019543781366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/3151717019543781366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/08/tiap-orang-bisa-berubah-maka-berubahlah.html' title='Tiap Orang Bisa Berubah, Maka Berubahlah... Satria Baja Hitam'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-9001983748802439501</id><published>2008-08-24T19:30:00.001+07:00</published><updated>2008-08-24T19:37:30.167+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pikiran jernih'/><title type='text'>Wawancara dengan Anies Baswedan: Benturan Peradaban atau Kalkulasi Kepentingan</title><content type='html'>oleh Wahyuana&lt;br /&gt;08 Agustus 2008&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jakarta – Usianya baru 39 tahun, namun pemikiran Anies Baswedan dianggap begitu berpengaruh, sehingga majalah Foreign Policy menempatkan rektor Universitas Paramadina ini dalam urutan ke 60 dari 100 intelektual top dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkritisi dominasi pendekatan kebudayaan terhadap konflik-konflik Muslim-Barat, ia meyakini bahwa konflik-konflik itu tak dipicu oleh identitas budaya, agama atau peradaban, melainkan oleh sebuah kalkulasi kepentingan. Ia menjelaskan konsep ini ketika diwawancarai oleh jurnalis dari Jakarta, Wahyuana. &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang Anda maksud dengan “kalkulasi kepentingan” dalam konflik Muslim — Barat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baswedan: Pilihan untuk menggunakan kekerasan itu bukan merupakan cermin dari faktor ideologi, agama atau kultural tapi merupakan cermin dari faktor kalkulasi strategis atau kalkulasi kepentingan. Sebuah kelompok memilih untuk menggunakan pendekatan kekerasan atau kedamaian bergantung pada kalkulasinya terhadap insentif dan disinsentif atas tiap-tiap pendekatan itu. Lawan dan metode perlawanan sering ditentukan oleh kalkulasi itu, daripada karena kalkuasi ideologi, agama dan kultural. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marik kita lihat hubungan antara Amerika Serikat (AS)dan apa yang secara umum dikenal kita kenal sebagai mujahidin Afghanistan. Berbagai kelompok oposisi Afghanistan ini sebelumnya berada dalam barisan yang sama dengan AS saat berperang melawan pendudukan Soviet di Afghanistan pada tahun 1980-an. Masa itu AS memandang mereka sebagai pejuang kemerdekaan atau pahlawan. Kini, sebagian dari kelompok-kelompok itu berperang melawan AS, kekuatan pendudukan baru, sehingga tanpa pandang bulu mereka dicap sebagai teroris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang masing-masing pihak terhadap tantangan, kepentingan, dan posisi masing-masing membuat mereka bersekutu atau bermusuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu berarti isu benturan peradaban omong kosong belaka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baswedan: Saya kira terminologi itu terlalu dipaksakan. Sesungguhnya yang terjadi adalah polarisasi, dan itu selalu muncul sepanjang sejarah manusia, dalam berbagai bentuk. Ada polarisasi budaya, ideologi, ras, dan agama. Polarisasi merupakan bagian dari fitrah kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benturan peradaban Samuel P. Hutington itu terlalu dipaksakan, seakan-akan ada sebuah situasi konflik yang spesifik antara Muslim dan Barat. Tapi itu tak benar. Sepanjang sejarah, konflik-konflik yang dinyatakan sebagai benturan peradaban tak pernah menyangkut agama semata. Perang Salib contohnya, juga memiliki kepentingan politik dan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan motif-motif ideologis atau religius di balik konflik Muslim-Barat? Apakah Anda menafikan motif-motif itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baswedan: Saya tidak menafikannya. Motif-motif ideologis atau agama itu tentu ada, hanya saja mereka berjalan di tingkat mikro, ada pada motif-motif individual. Agama atau ideologi hanya alat yang dibajak untuk merekrut, memotivasi, dan menciptakan solidaritas pada para pelaku yang merasakan hal itu sebagai semacam legitimasi. Konflik-konflik itu didengungkan sebagai bersifat ideologis atau religius untuk menginspirasi para pengikut, melegitimasi perang tersebut sebagai just war, menarik sekutu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pentingnya kita menggunakan analisa strategis rasional, agar kita tahu potensi konflik kekerasan yang mungkin timbul, sehingga bisa segera menemukan cara pencegahannya. Jika kita hanya menggunakan pendekatan kultural (sebuah pendekatan yang melihat tindakan seseorang atau kelompok dipengaruhi oleh variabel-variabel psiko-religius-kultural), kita akan berputar-putar saja, tanpa tahu bagaimana cara menangani konflik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bukankah pembajakan ideologi, kebudayaan, atau agama untuk kepentingan-kepentingan strategis itu menunjukan bahwa mereka dapat menjadi senjata yang berbahaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baswedan: Tepat sekali. Ideologi, kebudayaan, dan agama adalah senjata yang sangat ampuh dalam menciptakan solidaritas dan integritas yang tinggi, karena ketransendentalan dan kemesiahannya. ia dipergunakan untuk tujuan-tujuan di luar dirinya. Ketika tujuan di luar dirinya itu tercapai, ia bisa dipergunakan untuk kepentingan-kepentingan strategis lainnya, yang ketika terjadi perubahan-perubahan geopolitik, bukan tak mungkin merubah sekutu menjadi musuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah menurut Anda, masa depan hubungan Muslim-Barat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baswedan: Sekarang ini ada situasi yang menarik. Islam sedang tumbuh dan hadir di pusat-pusat peradaban yang menonjol, seperti di kota-kota utama Amerika atau Eropa. Sebagai minoritas, Muslim di sana harus mampu menunjukan kepribadian yang baik , menegosiasikan nilai-nilai Islam melalui bahasa peradaban tuan rumah, menjadi bagian dari kekayaan peradaban tersebut. Hal yang sama pun dialami oleh orang-orang Barat yang tinggal di negara-negara Muslim. Di tangan duta besar-duta besar inilah masa depan hubungan Muslim-Barat terletak, karena mereka memiliki posisi istimewa untuk menjadi bagian dari masyarakat Muslim maupun Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;###&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wahyuana adalah jurnalis dari Jakarta dan pendiri Maluku Media Center (MMC), sebuah organisasi yang mempromosikan dan memfasilitasi resolusi konflik dan jurnalisme perdamaianan. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Agustus 2008, www.commongroundnews.org &lt;br /&gt;Telah memperoleh hak cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-9001983748802439501?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/9001983748802439501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=9001983748802439501' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/9001983748802439501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/9001983748802439501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/08/wawancara-dengan-anies-baswedan.html' title='Wawancara dengan Anies Baswedan: Benturan Peradaban atau Kalkulasi Kepentingan'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-1710926583930758608</id><published>2008-08-24T19:13:00.003+07:00</published><updated>2008-08-24T19:29:07.274+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan di KPU'/><title type='text'>Melihat Pen-caleg-an Pemilu 2009 (1)</title><content type='html'>Tanggal 14-19 Oktober 2008 serentak di seluruh Indonesia dapat dipastikan, ribuan orang bertransaksi politik untuk pemilu 2009. Ada 44 Parpol peserta pemilu, 6 parpol lokal di aceh, 34 parpol yang ditetapkan gelombang pertama dan 4 parpol gelombang kedua. Hingar bingar pesta demokrasi 09 April 2009 semaking terasa. Ditengah pengapnya dan beragam pandangan minus orang pada ruang politik, terdapat beberapa fenomena menarik dari dinamika pen-caleg-an di berbagai tingkatan... &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;pertama&lt;/strong&gt;, nampak terjadi transformasi budaya politik yang semakin sehat yang ditandai dengan keinginan sejumlah parpol besar menerapkan ketentuan suara terbanyak untuk menentukan caleg yang nantinya akan duduk di kursi parlemen, yang diwakili oleh P.Golkar, P.Demokrat, PAN, &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;kedua&lt;/strong&gt;, adanya sikap parpol yang berani menempatkan peran sebagai oposisi politik terhadap pemerintahan sekarang secara konsisten nyaris hampir genap lima tahun, yang diwakili oleh PDI-P.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;, perubahan signifikan wajah caleg yang ditawarkan parpol ke pemilih pemilu 2009 yang mencerminkan adanya upaya kaderisasi dan regenerasi politik.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt;, mulai digunakannya ruang virtual sebagai sarana kampanye yang terukur adanya sejumlah parpol yang secara serius mengembangkan website, seperti Partai Matahari Bangsa dan Partai Hanura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat fenomena ini penting juga ditimbang dari banyaknya cibiran publik terhadap parpol. Nilai positif dari keempat point tersebut adalah, adanya sikap positif parpol merespon opini publik terhadap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencalegan tengah berjalan, hal terakhir adalah, seberapa berani para caleg unjuk-kiprah kepada pemilih dengan jujur dan atraktif-proporsional, sehingga membangun dan dapat mempersuasi publik untuk tetap mau menggunakan hak pilihnya. Khusus kepada para caleg muda... &lt;strong&gt;it's time for change!&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-1710926583930758608?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/1710926583930758608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=1710926583930758608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/1710926583930758608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/1710926583930758608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/08/melihat-pen-caleg-pemilu-2009-1.html' title='Melihat Pen-caleg-an Pemilu 2009 (1)'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-6460272573274149938</id><published>2008-06-21T02:16:00.000+07:00</published><updated>2008-06-21T02:17:01.233+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan reformasi'/><title type='text'>Democrazy</title><content type='html'>Di saat para ‘’demokrat’’ dan ‘’pengusaha demokrasi’’ tengah hiruk pikuk bermandi uang, banyak orang merasa kalah dan menyingkir dari dunia. Dalam tempo empat bulan saja, di sebuah wilayah sudah 28 orang bunuh diri karena miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demokrasi itu mahal Bung. Untuk pemilihan internal saja, Obama sudah habis Rp 2 trilyun,” kilah Rizal Mallarangeng, bos Fox Indonesia yang me-manage iklan pencitraan diri Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir (SB).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, Amerika memang pujaan para darling-nya. "I love The United States, with all its faults. I consider it my second country," ikrar Pak SBY sebelum menjadi Presiden RI, seperti dikutip The International Herald Tribune. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah heran bila harga BBM kita ‘’harus’’ mirip Amerika punya. Misalnya, di AS bensin harganya 3,2 USD per gallon atau Rp 8.000/liter. Di Indonesia, harga Pertamax Rp 7.800/liter. Bensin sementara ini memang masih Rp 6000/liter. Tapi, nantinya bakal disamakan dengan harga dunia, sehingga para buruh kita di SPBU-SPBU asing itu tidak lagi banyak nganggur seperti sekarang ini. Tunggu saja tanggal mainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita agak kurang tahu diri, Indonesia tekor jauh bila harus mengejar Amerika. Sebab, contohnya, GNP Indonesia cuma 1.110 USD/kapita dibanding AS yang mencapai 37.870 USD/kapita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garis kemiskinan di Indonesia hanya Rp 166.697 per kapita per bulan (0,58 USD/hari). Atau untuk keluarga dengan 2 orang anak sekitar 850 USD/ tahun. Sedangkan di AS 20.444 USD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan garis kemiskinan yang sangat rendah itu, jumlah penduduk Indonesia yang dikategorikan miskin ‘’cuma’’ 37 juta. Jika mengikuti garis kemiskinan mutlak versi Bank Dunia US$ 1 per hari, jumlahnya sekitar 63 juta lebih. Malah mencapai 126 juta jiwa atau sekitar separo penduduk keseluruhan bila memakai garis kemiskinan moderat Bank Dunia US$ 2 per hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di AS, upah minimum rata-rata (UMR) besarnya 5,85 USD per jam atau 982 USD/bulan (Rp 9,2 juta). Sementara UMR di Jakarta hanya sekitar Rp 900.560/bulan, dan di Yogyakarta cuma Rp 500 ribu/bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun, seperti di-helah Rizal tadi, demokrasi kita tak mau kalah dari Amerika. Lihat saja biaya Pilgub Jabar, yang lebih dari Rp 500 miliar. Ketua Harian Panitia Anggaran DPRD I Jabar, HMQ Iswara, memperkirakan biaya politik tiap pasangan cagub-cawagub mencapai Rp 60 miliar (Pikiran Rakyat, 1/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pesta demokrasi 2008-2009, KPU (Komisi Pemilihan Umum) menganggarkan biaya Rp 47,9 trilyun. Berasal dari APBN Rp 22,3 trilyun dan dari APBD Rp 25, 6 trilyun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Associate Media Director Hotline Advertising, Zainul Muhtadin, untuk Pemilu 2009 biaya iklan kampanye tiap calon minimal Rp 100 milyar (tempointeraktif.com 24/01/08). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu berapa ratus milyar duit yang digelontorkan SB lewat Fox untuk mejeng ratusan kali sehari di televisi dan radio pada jam utama, juga di media cetak, media luar ruang, hingga bioskop kelas atas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biar tak pusing sendiri, Anda sebaiknya tak usah tanya berapa uang yang saya keluarkan. Toh, Anda tak akan mampu menghitung," ujar Soetrisno kepada kader PAN. "Kalau banyak orang kesulitan mencari uang, alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk terus mencari celah mengeluarkan uang," ucap pengusaha ini (Jawapos, 26/5). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, Presiden SBY pernah mengeluhkan ongkos demokrasi Indonesia yang kelewat mahal. Lebih mahal dibanding anggaran mengentaskan orang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden mengungkapkan, biaya mengentaskan kemiskinan mencapai Rp 57 triliun pada 2007. Naik dari Rp 17 triliun pada 2004, Rp 24 triliun pada 2005, dan Rp 41 triliun pada 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa iya pemilihan umum legislatif dan pilpres sampai puluhan triliun rupiah, masya Allah, kok mahal bener," kata Presiden, saat membekali peserta Program Pendidikan Regular Angkatan ke-40 Lembaga Ketahanan Nasional, di Istana Negara (6/12/07).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, korupsi pejabat marak sebagai akibat perjudian politik yang mereka lakukan untuk mengejar jabatan. Apa tidak memalukan, bila banyak pejabat dan mantan pejabat pusat maupun daerah menjadi pesakitan korupsi. Bahkan kamar kerja anggota dewan yang terhormat pun sampai digeledah segala rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat para ‘’demokrat’’ dan ‘’pengusaha demokrasi’’ tengah hiruk pikuk bermandi uang, banyak orang merasa kalah dan menyingkir dari dunia. Kepala Kepolisian Wilayah (Kapolwil) Banyumas, Kombes Pol Boy Salamudin, misalnya, terperanjat dengan banyaknya kasus bunuh diri di wilayah kerjanya. Bayangkan saja, hanya dalam tempo empat bulan, Januari-April 2008, sudah 28 orang bunuh diri. Padahal, sepanjang tahun 2007 terjadi ‘’hanya’’ 59 kasus bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Semua kasus bunuh diri yang terjadi di jajaran Polwil Banyumas, ternyata karena kemiskinan. Kita harus berbuat sesuatu untuk menghentikannya,'' ujar Kapolwil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kata pepatah: Al faqr huwa al maut al akbar. Kefakiran adalah kematian besar. Bahkan seperti diingatkan Nabi SAW: Kaadza al faqr an yakuna kufra. Kefakiran tak jauh dari kekufuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, pemimpin yang bertanggungjawab seperti para Khalifah, memilih menjadi orang yang pertama lapar dan terakhir kenyang. Pertama miskin, terakhir cukup. Mereka adalah negarawan, bukan pembunuh rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Abu Bakar misalnya, hanya bersedia menerima gaji dan fasilitas jabatan yang pas-pasan saja. Kalaulah tidak dilarang karena bakal menimbulkan konflik kepentingan dan fitnah, ia lebih suka berdagang sendiri untuk menafkahi keluarganya. Ketika mendapati istrinya masih sempat menabung dari sisa uang belanja, Abu Bakar terkejut. Ia langsung meminta pengurangan gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang wafat, beliau berpesan kepada Abdurrahman putranya, ‘’Aku sudah bilang kepada Umar kalau aku tidak mau makan harta kaum muslimin. Tapi dia memaksaku memberi gaji dari Baitul Maal selama aku menjadi khalifah. Aku telah menerima gaji 8000 dirham selama memerintah, tolong kembalikan semuanya ke Baitul Maal.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Abu Bakar wafat, Abdurrahman menyampaikan wasiat ayahnya kepada Khalifah Umar. Ia menyerahkan ke kas negara uang sebesar 8000 dinar berikut fasilitas yang pernah diterima Khalifah Abu Bakar berupa seorang budak, seekor unta, dan sebuah permadani usang. Maka menangislah Khalifah Umar seraya berkata, ‘’Semoga Allah memberkati Abu Bakar. Sungguh, ia telah mempersulit para khalifah penggantinya.’’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khattab pun sama saja. Ketika harga sembako naik, anggota dewan syura seperti Ali bin Abi Tahlib, Usman bin Affan, Thalhah, dan Zubair, berunding. Mereka sepakat, Khalifah Umar selayaknya mendapat gaji yang lebih sesuai dengan biaya hidup. Istilah sekarang mah: Cola (cost of living adjusment). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika Hafsah menyampaikan keputusan Majelis Syura itu, Umar bin Kahttab justru marah besar. ‘’Siapa yang mengajarimu ngomong begini? Demi Allah, kalau aku tahu siapa yang menyuruhmu, niscaya akan kuhajar dia,’’ hardik Umar pada putrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar memberi teladan elok, sehingga pada masanya sejumlah gubernur membersihkan kekayaan mereka dengan menyerahkan setengah hartanya ke Baitul Maal. Mereka adalah Gubernur Amr bin Ash (Mesir), Nu’man bin Adiy (Meisan), Nafi bin Amar (Mekah), Sa’ad bin Abi Waqqash (Kufah), Ya’laa bin Munabbih (Yaman), dan Gubernur Khalid bin Walid (Syam). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, kita lebih suka berkiblat ke Amerika ketimbang ke Abu Bakar atau Umar bin Khattab. (Pane Fakhri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-6460272573274149938?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/6460272573274149938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=6460272573274149938' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/6460272573274149938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/6460272573274149938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/06/democrazy.html' title='Democrazy'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-5480206814399236898</id><published>2008-06-21T02:03:00.000+07:00</published><updated>2008-06-21T02:05:44.517+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan reformasi'/><title type='text'>Meet Barack</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SFv_dXSMjDI/AAAAAAAAAIk/u2mDZ-v8KxM/s1600-h/header_l_meetc.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SFv_dXSMjDI/AAAAAAAAAIk/u2mDZ-v8KxM/s400/header_l_meetc.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214041873543105586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Early Years&lt;br /&gt;Barack Obama was born in Hawaii on August 4th, 1961. His father, Barack Obama Sr., was born and raised in a small village in Kenya, where he grew up herding goats with his own father, who was a domestic servant to the British. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barack's mother, Ann Dunham, grew up in small-town Kansas. Her father worked on oil rigs during the Depression, and then signed up for World War II after Pearl Harbor, where he marched across Europe in Patton's army. Her mother went to work on a bomber assembly line, and after the war, they studied on the G.I. Bill, bought a house through the Federal Housing Program, and moved west to Hawaii. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;It was there, at the University of Hawaii, where Barack's parents met. His mother was a student there, and his father had won a scholarship that allowed him to leave Kenya and pursue his dreams in America. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barack's father eventually returned to Kenya, and Barack grew up with his mother in Hawaii, and for a few years in Indonesia. Later, he moved to New York, where he graduated from Columbia University in 1983. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The College Years&lt;br /&gt;Remembering the values of empathy and service that his mother taught him, Barack put law school and corporate life on hold after college and moved to Chicago in 1985, where he became a community organizer with a church-based group seeking to improve living conditions in poor neighborhoods plagued with crime and high unemployment. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The group had some success, but Barack had come to realize that in order to truly improve the lives of people in that community and other communities, it would take not just a change at the local level, but a change in our laws and in our politics. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He went on to earn his law degree from Harvard in 1991, where he became the first African-American president of the Harvard Law Review. Soon after, he returned to Chicago to practice as a civil rights lawyer and teach constitutional law. Finally, his advocacy work led him to run for the Illinois State Senate, where he served for eight years. In 2004, he became the third African American since Reconstruction to be elected to the U.S. Senate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Political Career&lt;br /&gt;It has been the rich and varied experiences of Barack Obama's life - growing up in different places with people who had differing ideas - that have animated his political journey. Amid the partisanship and bickering of today's public debate, he still believes in the ability to unite people around a politics of purpose - a politics that puts solving the challenges of everyday Americans ahead of partisan calculation and political gain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the Illinois State Senate, this meant working with both Democrats and Republicans to help working families get ahead by creating programs like the state Earned Income Tax Credit, which in three years provided over $100 million in tax cuts to families across the state. He also pushed through an expansion of early childhood education, and after a number of inmates on death row were found innocent, Senator Obama worked with law enforcement officials to require the videotaping of interrogations and confessions in all capital cases. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the U.S. Senate, he has focused on tackling the challenges of a globalized, 21st century world with fresh thinking and a politics that no longer settles for the lowest common denominator. His first law was passed with Republican Tom Coburn, a measure to rebuild trust in government by allowing every American to go online and see how and where every dime of their tax dollars is spent. He has also been the lead voice in championing ethics reform that would root out Jack Abramoff-style corruption in Congress. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a member of the Veterans' Affairs Committee, Senator Obama has fought to help Illinois veterans get the disability pay they were promised, while working to prepare the VA for the return of the thousands of veterans who will need care after Iraq and Afghanistan. Recognizing the terrorist threat posed by weapons of mass destruction, he traveled to Russia with Republican Dick Lugar to begin a new generation of non-proliferation efforts designed to find and secure deadly weapons around the world. And knowing the threat we face to our economy and our security from America's addiction to oil, he's working to bring auto companies, unions, farmers, businesses and politicians of both parties together to promote the greater use of alternative fuels and higher fuel standards in our cars. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whether it's the poverty exposed by Katrina, the genocide in Darfur, or the role of faith in our politics, Barack Obama continues to speak out on the issues that will define America in the 21st century. But above all his accomplishments and experiences, he is most proud and grateful for his family. His wife, Michelle, and his two daughters, Malia, 9, and Sasha, 6, live on Chicago's South Side. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-5480206814399236898?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/5480206814399236898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=5480206814399236898' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5480206814399236898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5480206814399236898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/06/meet-barack.html' title='Meet Barack'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SFv_dXSMjDI/AAAAAAAAAIk/u2mDZ-v8KxM/s72-c/header_l_meetc.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-50327945234813646</id><published>2008-06-01T23:23:00.001+07:00</published><updated>2008-06-01T23:25:35.540+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pikiran jernih'/><title type='text'>Revrisond Baswir: Kenaikan BBM Cuma Alasan untuk Ciptakan Liberalisasi Sektor Migas</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SELNQFaLSiI/AAAAAAAAAIU/d1cLhj1NAvg/s1600-h/rev(1).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SELNQFaLSiI/AAAAAAAAAIU/d1cLhj1NAvg/s400/rev(1).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206949795407284770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan harga BBM sebenarnya merupakan satu bagian kecil dari upaya liberalisasi sektor migas di negeri ini. Nantinya, Pertamina, perusahaan miyak yang selama ini menjadi pengelola tunggal itu akan bersaing dengan lebih dari 40 perusahaan migas asing yang sudah mengantongi izin untuk membuka 20.000 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia, dengan harga standar internasional.&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Berikut ini perbincangan dengan Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada Drs. Revrisond Baswir, M.B.A, yang ditemui dalam Seminar Peringatan Hari Lahir Pancasila, di Gedung DPR, Jakarta. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan BBM ini kedepannya akan berdampak seperti apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui dampak kenaikan harga BBM, kita harus tahu persis latar belakang dan motivasi. Kalau menurut pemerintah, latar belakangnya apakah untuk mengoreksi yang tidak tepat sasaran, untuk menghemat konsumsi BBM, termasuk untuk menghindari penyelundupan dan sebagainya. Saya kira itu alasan yang dicari-cari, bukan penjelasan namun justru mengaburkan dari motif sebenarnya. Alasan yang sebenarnya adalah sejak pemerintah menandatanganani LOI 1998 di mana kita tunduk pada IMF untuk melepas harga BBM ke harga internasional. Ini sebenarnya bukan soal kenaikan, tapi soal proses bertahap melepas harga BBM ke harga pasar sesuai garis IMF, dan itu sudah difollow up oleh pemerintah yang sejak 1999 sudah membuat draft UU Migas yang baru, tapi pada waktu itu bentrok dengan Pertamina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada tahun 2000, Amerika masuk lewat USAID menyediakan utang untuk memulai proses liberalisasi sektor migas itu. Salah satu yang dikerjakan USAID dalam rangka liberalisasi itu adalah menyiapkan draft UU yang baru, bekerjasama dengan IDB dan World Bank menyiapkan reformasi sektor energi secara keseluruhan. Dalam UU Migas jelas, pasal 28 ayat 2 UU migas mengatakan harga BBM dilepas ke mekanisme pasar, sudah jelas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi masalah kemudian, segera setelah UU Migas keluar, pemerintah segera membuka izin bagi perusahaan-perusahaan asing untuk masuk ke berbagai tahap dalam proses migas di tanah air, mulai dari hulu sampai ke hilir. Dan bahkan mereka mengendalikan izin untuk perusahaan asing untuk membuka SPBU, sampai lebih dari 40 perusahaan yang sudah pegang izin untuk membuka SPBU itu. Masing-masing perusahaan diberi kesempatan membuka sekitar 20.000 SPBU di seluruh Indonesia. Target mereka sebenarnya pada 2005 harga BBM sudah bisa dilepas ke pasar, hanya saja di tengah jalan UU migas dibawa ke Mahmakah Konstitusi (MK) oleh serikat pekerja pertamina, disidangkan di MK. Dan pasal 28 tentang pelepasan harga ke pasar itu dibatalkan MK, karena bertentangan dengan konstitusi. Itu sebenarnya yang menggganjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya mereka kan tidak mau menyerah, setelah dinyatakan UU itu bertentangan dengan konstitusi, mereka jalan terus dengan istilah baru, dari istilah harga pasar menjadi “harga keekonomian”, itu hanya untuk berkelit saja. Karena harga pasar dilarang MK, maka ganti yang lain, tetapi maksudnya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu yang tepat dalam kasus ini adalah liberalisasi sektor migas dan pelepasan harga BBM ke harga pasar. Jadi kalau kita lihat, setelah rencana itu gagal tahun 2005, dan muncul istilah harga keekonomian. Maka kini target pemerintah sesuai dengan apa yang diakatakan oleh Pak Budiono (Menko Perekonomian, dulu), setelah naik pada 24 Mei kemarin, diperkirakan pada September 2008 akan naik lagi secara bertahap, sampai ditargetkan selambat-lambatnya 2009 sudah sesuai dengan harga pasar minyak dunia. Sama dengan patokan di New York, kalau dieceran mencapai Rp 12.000 per liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan apa yang akan diambil dari kebijakan melepas harga BBM ke pasar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu isunya. Isunya hanya dengan melepas harga BBM ke pasar, hanya dengan cara itu SPBU-SPBU asing itu mau beroperasi di sini. Kalau harga bersubsidi bagaimana SPBU asing bisa beroperasi dan bersaing dengan Pertamina, ini masalahnya. Masalahnya soal menangkap peluang investasi. Ada perusahaan asing ingin membuka SPBU asing, berarti SPBU asing ini mau melakukan investasi, tetapi SPBU asing hanya bisa jualan BBM, kalau BBM-nya sesuai dengan harga pasar. Jadi masalah ini saja, soal pasar. Pengakhiran monopoli Pertamina, pembukaan peluang bagi asing untuk berbisnis eceran BBM, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sekarang ini Petronas dan Shell sudah membuka SPBU-nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya akibat kenaikan BBM tahun 2005, Shell buka, Petronas juga buka. Tapi apakah masuk akal kalau orang membuka SPBU itu hanya Jabotabek saja, gak mungkinkan, izin yang mereka peroleh, mereka boleh buka 20.000 SPBU di seluruh Indonesia, nah ada 40 perusahaan lebih yang punya izin. Bisa dibayangkan, berapa banyak SPBU yang akan berdiri, dan bukan hanya Jabodetabek, tapi juga seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertamina sendirisudah memperkirakan hanya akan mampu menjual maksimal 50 persen saja, 50 persennya akan diambil oleh SPBU-SPBU asing itu. Nah kalau 2009 dilepas ke pasar, rencana terakhir pemerintah adalah bahwa sektor swasta bisa masuk ke bisnis eceran migas dilakukan secara penuh baru pada tahun 2010. Jadi bukan masalah BBM naik, kemiskinan, BLT, bukan isu itu, tapi mereka menganggap ini hanya dampak saja. Lalu kemudian bagaimana dampak itu diperlunak. Tetap saja mereka akan jalan terus dengan agendanya, bagaimana membuat sektor migas hingga terpenuhi sesuai harga pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira isu lifting tidak relevan, karena ini isunya bukan naiknya berapa persen, bukan itu. Isunya adalah soal melepas harga itu, jadi pemerintah ingin lepas tangan dari urusan harga BBM. Dia gak mau mengatur mau naik, mau gak naik, dia mau lepaskan, jadi isu lifting menjadi tidak penting. Apalagi kalau SPBU beroperasi di sini, gak penting lagi, sumber migasnya darimana, mau impor 100 persen, ya boleh. Itu dia, justru itu malah mengaburkan masalah dari pokok masalah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini sekarang sudah mulai masuk ke ranah politik, ada wacana mengimpeach Presiden. Bagaimana ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pemakzulan Presiden, kalau kita bicara UU migas, kemudian UU Kelistrikan, kemudian UU APBN, yang terkait dengan subsidi dan lain-lain itu kan atas persetujuan DPR, jadi proses liberalisasi ini juga berlangsung atas persetujuan DPR. Kalau akan dimakzulkan bukan saja Presiden, tapi juga DPR-nya juga dimakzulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu terbukti di MK, jadi yang melanggar konstitusi bukan hanya pemerintah, tapi juga DPR. Inilah yang menjadi problem sekarang, jadi secara politik masalah ini sangat kompleks, karena belum ada aturan, bagaimana apabila pelanggaran konstitusi dilakukan Presiden dan DPR. Nah ini tidak ada UU-nya, saya sudah menanyakan hal ini kepada hakim agung, celakanya pelanggaran konstitusi ini tidak hanya sekali. UU Listrik batal demi hukum, karena melanggar konstitusi, UU Migas pasal mengenai harga pasar batal karena melanggar konstitusi, UU Penanaman Modal pasal mengenai Hak Guna Usaha karena melanggar konstitusi, UU APBN tiga tahun berturut-turut melanggar konstitusi, ini masalah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar permasalah dari kebijakan melepas BBM ke harga pasar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah apa yang disebut dengan Neokolonialisme dan Neoliberalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusinya bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusinya, kita harus memperteguh kembali komitmen sebagai bangsa terhadap cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi, ini harus ditegakan kembali. Setelah ini baru mengoreksi semua penyimpangan-penyimpangan, apakah itu kebijakan, peraturan pemerintah, UU, semua itu harus ditertibkan kembali. Karena menurut perkiraan Ketua Mahmakah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, 27 persen UU melanggar konstitusi, harus dibereskan dulu. Dari situ baru kita lihat dampak turunannya apakah kepada kontrak bagi hasil, harga BBM, harga listrik, dan lain-lain. (novel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-50327945234813646?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/50327945234813646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=50327945234813646' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/50327945234813646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/50327945234813646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/06/revrisond-baswir-kenaikan-bbm-cuma.html' title='Revrisond Baswir: Kenaikan BBM Cuma Alasan untuk Ciptakan Liberalisasi Sektor Migas'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SELNQFaLSiI/AAAAAAAAAIU/d1cLhj1NAvg/s72-c/rev(1).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-5638230987037626316</id><published>2008-05-29T19:49:00.001+07:00</published><updated>2008-05-29T19:55:59.173+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>Dengan 3 JARI</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SD6nySP30tI/AAAAAAAAAH8/0-V19ZwoGbc/s1600-h/3jari_dlm.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SD6nySP30tI/AAAAAAAAAH8/0-V19ZwoGbc/s400/3jari_dlm.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205782701620581074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;www.dompetdhuafa.or.id&lt;br /&gt;Lelah betul hari-hari ini kita membicarakan beban hidup. Belum juga mentas Bangsa Indonesia dari keterpurukan akibat hajaran krismon sejak 1997, ditambah hantaman dua kali kenaikan harga BBM sebesar 150% pada 2005, kini harus menerima palu godam kenaikan harga BBM hampir 30%. Dengan BLT Rp 100 ribu sebulan, rakyat kebanyakan dipaksa menyiasati hidup menghadapi lonjakan harga kebutuhan hidup di hampir semua sektor. Efek domino, disebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sudah banyak pakar yang menghitung bertambahnya angka kemiskinan, melemahnya daya beli, dan menurunnya daya tahan ekonomi bangsa akibat kebijakan tersebut. Kondisi ini semakin menjauhkan kita dari upaya untuk mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan. Idealita kita untuk membangun kemandirian ekonomi bangsa juga akan semakin berjarak. Ketimpangan antara cita-cita dan realita menjadi semakin nyata hadir di hadapan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the show must go on. Hidup harus terus berjalan. Sambil tetap menagih nurani, kecerdasan, dan kerja keras para pemimpin bangsa, marilah kembali fokus pada cita-cita kita. Meminjam taushiyah Aa Gym, kalaupun nasi sudah menjadi bubur, kita upayakan bubur itu selezat mungkin untuk bisa disantap.&lt;br /&gt;Mesti ada langkah-langkah fundamental guna memperbaiki kondisi ini. Jalan baru harus diretas untuk menajamkan harapan, sekaligus membimbing kita meraih kemandirian. Jalan ini kami bentangkan sebagai 3 Jari (Tiga Jalan Kemandirian), yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tiap keluarga menjamin satu keluarga tak mampu. Dengan menggunakan standar kemiskinan Bank Dunia, jumlah penduduk miskin kita mencapai 40%. Sementara penduduk strata ekonomi sedang (tidak memiliki kelebihan banyak untuk menolong orang lain) sebesar 30%. Sisanya 30% lagi adalah kelompok masyarakat berkecukupan, yang memiliki kemampuan besar untuk menolong keluarga lain. Nah, bila setiap keluarga kategori ketiga ini mau menjamin kehidupan satu keluarga miskin, maka kita bisa memangkas angka kemiskinan 30%. Sehingga tinggal 10% lagi tersisa untuk ditanggulangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kurangi konsumsi, khususnya produk impor. Langkah ini bukan sekadar berhemat untuk sendiri, tapi juga keberpihakan pada karya bangsa sendiri. Produk impor jelas menerbangkan devisa keluar negeri. Sebagiannya juga mematikan potensi produksi dalam negeri. Jangan lagi ada yang terus memuaskan syahwat konsumsinya secara demonstratif, sementara lebih banyak lagi masyarakat lainnya tengah terpuruk dan kehilangan daya beli, bahkan sekadar untuk makan sehari-hari sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bangun lapangan kerja. Untuk menjamin bahwa setiap kepala keluarga bisa terus produktif atau mendapatkan penghasilan, maka ketersediaan lapangan kerja yang cukup adalah prasyaratnya. Kita semua harus terus berupaya untuk terus berkreasi menciptakan lapangan kerja. Pengembangan usaha-usaha baru dan pengembangan investasi yang menumbuhkan sektor riil, harus terus digalakkan. Kewirausahaan, baik di sektor bisnis, sosial dan pemerintahan harus dikembangkan. Setelah ditumbuhkan harus dijaga agar kesinambungannya terus terkawal, sehingga kelangsungan jaminan penghasilan masyarakat berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan tebar janji jelang pilkada, pilpres atau pesanan partai politik, namun murni himbauan sesama anak negeri. Harapannya jelas, semoga ia tercatat sebagai niat jihad, dan Allah SWT membimbing kita dalam mewujudkannya. Sebab kami tidak akan mampu menjalankannya sendiri, Mari Berbuat dan Jadi Bagian dari SOLUSI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-5638230987037626316?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/5638230987037626316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=5638230987037626316' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5638230987037626316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5638230987037626316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/05/dengan-3-jari.html' title='Dengan 3 JARI'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SD6nySP30tI/AAAAAAAAAH8/0-V19ZwoGbc/s72-c/3jari_dlm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-6111229662155604994</id><published>2008-05-25T22:41:00.005+07:00</published><updated>2008-05-25T23:11:31.092+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>ersatz-capitalizm dan kenaikan BBM</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDmPaSP30rI/AAAAAAAAAHs/0Y6oPqo2Vm8/s1600-h/images3.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDmPaSP30rI/AAAAAAAAAHs/0Y6oPqo2Vm8/s400/images3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204348526141100722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;pagi tadi secara kebetulan mata menangkap buku kapitaslisme semu asia tenggara karya Yoshihara Kunioyang dikata pengantar-kan oleh Arief Budiman. tanpa pikir panjang, kuambil buku itu, membuka-buka ditengah kegeraman atas kenaikan BBM yang sepertinya akan lagi naik. Barangkali bisa menjaga kejernihan logika atas iklan-manipulatif bahwa kenaikan BBM adalah kondisi dharuroh untuk menyelamatkan APBN (negeri).&lt;br /&gt;dihalaman awalnya, Kunio menyebutkan setidaknya ada dua indikator kapitalisme di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) menjadi tidak sehat, yaitu : campur tangan pemerintah yang tidak berkualitas serta teknologi yang tidak menjadi basis industrialisasi di negara ini.&lt;br /&gt;Lantas, apa hubungannya dengan kenaikan BBM?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Jelas dunk berhubungan, masih ingat dengan skenario Bung Karno merekayasa eksploitasi minyak bumi yang dalam jangka panjang menjadi salah satu modal kemandirian bangsa. Bung Karno menginginkan kerjasama eksplorasi minyak bumi dilakukan secara bertahap dengan asing yang kala itu (hingga kini) memiliki teknologi eksplorasi. Setelah sekian tahun, harus terjadi alih teknologi dan ketika saatnya tiba Indonesia mengeksplorasi sendiri minyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa..........&lt;br /&gt;bila hal tersebut terjadi, maka terlepas dari masyarakat kita diomeli pemimpinnya sendiri sebagai boros BBM, kita tak mungkin mengalami situasi kini, baik rakyat susah atau pun menjadi "PENGIMPOR-BBM" !!!..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila skenario Soekarno jalan, seperti Yoshihara Kunio akan berpikir panjang untuk memasukkan Indonesia sebagai ersatz capitalizm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah pada hampir seluruh negara maju, perusahaan pengeksplorasi minyak bumi menjadi pilar utamanya, yang oleh Rhenald Kasali disebut sebagai POWERHOUSE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sejatinya ersatz-capitalizm tersebut semakin nyata dan memiskinkan kita....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya masih cukup mampu bangsa ini mengoreksi diri dan melakukan kebijakan2 strategis yang memandirikan kedaulatan dasar negara. Tapi apakah SBY-JK berani melawan SHELL, EXXON, dll........ yang telah nyata menjadi neo-VOC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagi-lagi dalam suasana 100 tahun kebangkitan nasional.... mudah-mudahan negara ini tidak menjadi hantu bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-6111229662155604994?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/6111229662155604994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=6111229662155604994' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/6111229662155604994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/6111229662155604994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/05/ersatz-capitalizm-dan-kenaikan-bbm.html' title='ersatz-capitalizm dan kenaikan BBM'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDmPaSP30rI/AAAAAAAAAHs/0Y6oPqo2Vm8/s72-c/images3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-7118945739236567461</id><published>2008-05-25T22:28:00.000+07:00</published><updated>2008-05-25T22:29:46.486+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pikiran jernih'/><title type='text'>Buatlah Orang Menderita “Meloncat &amp; Teriak” Kegirangan</title><content type='html'>(Pidato Bill Gates di Acara Wisuda Harvard 07 Juni 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Bok, mantan presiden Rudenstine, presiden terpilih Faust, para anggota Harvard Corporation dan Dewan Pengawas, dosen-dosen, para orang tua dan khususnya mahasiswa yang lulus:&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Saya telah menunggu lebih dari 30 tahun untuk mengatakan hal ini, “Ayah, saya selalu bilang bahwa saya akan kembali untuk mengambil gelar saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin berterimakasih ke Harvard untuk penghargaan yang diberikan tepat pada waktunya ini. Tahun depan saya akan memulai pekerjaan baru dan sangat senang untuk akhirnya bisa mencantumkan gelar universitas di resume saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengucapkan selamat kepada semua yang lulus hari ini karena berhasil mendapat gelar kalian lewat cara yang langsung. Saya sendiri cukup senang ketika Crimson menjuluki saya sebagai “Harvard drop out yang paling sukses.” Sepertinya ini membuat saya peringkat pertama (valedictorian) angkatan yang spesial . . . saya yang terbaik di antara orang-orang yang gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya juga mau dianggap sebagai orang yang membuat Steve Ballmer untuk drop out dari sekolah bisnis. Saya rupanya punya pengaruh yang buruk. Oleh karena itu saya diundang untuk berbicara pada acara wisuda kalian. Jika saya berbicara pada acara orientasi kalian, mungkin jumlah kalian jadi lebih sedikit hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harvard merupakan pengalaman sangat fenomenal bagi saya. Kehidupan akademik sangat mempesona. Saya dulu suka ikut kuliah kelas-kelas yang tidak pernah saya daftar. Kehidupan asrama juga sangat menyenangkan. Ketika itu saya tinggal di Radcliffe, di Currier House. Selalu saja ada banyak orang di kamar saya mendiskusikan berbagai hal sampai larut malam, karena semua orang tahu saya tidak perlu khawatir untuk bangun di pagi hari. Begitu ceritanya yang membuat saya menjadi pemimpin grup anti sosial. Kami jadi bergantung satu sama lain sebagai suatu bentuk penolakan kami terhadap orang-orang sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radcliffe merupakan tempat yang sangat asyik untuk ditinggali. Ada banyak mahasiswi di sana dan kebanyakan merupakan tipe saintis-matematikawan. Kombinasi ini memberikan peluang yang terbaik bagi saya, jika anda mengerti apa yang saya maksud. Di sini saya mengambil pelajaran berharga bahwa memperbaiki peluang tidak memberikan jaminan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ingatan terbesar saya tentang Harvard terjadi di bulan Januari 1975, ketika saya menelpon dari Currier House ke perusahaan di Albuquerque yang baru saja mulai membuat komputer pribadi. Saya menawarkan piranti lunak ke mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya khawatir mereka akan sadar bahwa saya hanya seorang mahasiswa yang tingal di asrama dan akan menutup telpon. Tetapi ternyata mereka bilang “kami belum siap, coba hubungi kami lagi dalam sebulan,” yang ternyata merupakan suatu hal yang bagus, karena kami belum menulis software tersebut. Sejak saat itu, saya bekerja siang malam di projek ekstra kredit ini, yang menandai tamatnya pendidikan tinggi saya dan mulainya perjalanan luar biasa saya dengan Mircosoft.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya ingat di atas segalanya tentang Harvard adalah keberadaan saya di tengah-tengah energi dan inteligen yang luar biasa. Pengalaman ini bisa menyenangkan, menakutkan, kadang-kadang bahkan mematahkan semangat, tetapi selau menantang. Betul-betul merupakan kesempatan yang luar biasa—dan walaupun saya pergi meninggalkannya sangat cepat, saya telah terbentuk oleh pengalaman saya di Harvard, perkawanan yang saya ciptakan dan ide-ide yang saya kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi melihat ke masa lalu secara serius . . . ada satu hal besar yang saya sesalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meinggalkan Harvard tanpa memiliki kesadaran mengenai kesenjangan buruk yang melanda dunia- ketimpangan antara kesehatan, dan kekayaan, dan kesempatan yang mengutuk jutaan manusia hidup dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belajar banyak di Harvard mengenai ide-ide baru di bidang ekonomi dan politik. Saya terkekspos banyak terhadap kemajuan-kemajuan di bidang sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pencapaian terbesar kemanusiaan bukanlah pada penemuan-penemuannya—melainkan bagaimana penemuan-penemuan tersebut digunakan untuk mengurangi kesenjangan. Baik itu lewat demokrasi, pendidikan publik yang kuat, kesehatan yang berkualitas maupun kesempatan ekonomi yang luas—mengurangi ketimpangan merupakan keberhasilan tertinggi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meninggalkan kampus tanpa banyak tahu tentang jutaan orang muda yang tercurangi oleh kesempatan mengeyam pendidikan di negara ini. Dan saya tidak tahu apa-apa mengenai jutaan orang yang hidup dalam jeratan kemiskinan dan penyakit di negara-negara berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu puluhan tahun untuk membuat saya sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian datang ke Harvard pada era yang sangat berbeda. Kalian tahu mengenai ketimpangan dunia ketimbang para lulusan yang datang sebelum kalian. Dalam waktu kalian di sini, saya harap kalian memiliki kesempatan untuk memikirkan bagaimana—dalam era kemajuan teknologi yang pesat—kita dapat memecahkan masalah ketimpangan-ketimpangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, katakanlah untuk sekedar diskusi, kalian punya ekstra waktu setiap minggu dan beberapa dolar lebih dalam sebulan untuk disumbangkan pada hal tertentu—dan kalian ingin menghabiskan waktu dan uang tersebut untuk suatu hal yang memiliki hasil yang terbesar dalam menyelematkan dan meningkatkan hidup orang banyak. Dimana kalian ingin menghabiskannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Melinda dan saya, tantangannya sama: bagaimana kami bisa melakukan suatu hal yang baik dalam jumlah besar dengan sumber yang kami miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berdiskusi soal ini, Melinda dan saya membaca sebuat artikel mengenai jutaan anak-anak yang melarat kesakitan di negara-negara miskin dari penyakit-penyakit yang lama telah kita basmi di negara ini. Measles, malaria, pneumonia, hepatitis B, yellow fever. Satu penyakit yang tidak pernah saya dengar sebelumnya, rotavirus, membunuh setengah juta anak-anak setiap tahun—tidak satupun dari mereka di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat terkejut. Kami sebelumnya berasumsi jika jutaan anak-anak melarat kesakitan dan mereka bisa ditolong, dunia akan memprioritaskan penemuan dan penyebaran obat-obatan untuk membantu mereka. Tetapi ini tidak terjadi. Untuk kurang dari satu dolar, ada beberapa intervensi yang dapat menyelamatkan jiwa tetapi tidak disalurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda percaya bahwa setiap kehidupan memiliki harga yang sama, sangat mengusik hati untuk menyadari bahwa beberapa jiwa dilihat penting untuk diselamatkan, sedangkan beberapa yang lain tidak. Kami akhirnya bilang kepada diri kami: “Tidak mungkin begini kenyataannya. Tetapi jika ini benar, maka ini harus jadi prioritas kedermawanan kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kami mulai usaha kami dengan cara yang sama dengan setiap orang yang ada di sini memulai sesuatu. Kami bertanya: “Bagaimana sampai dunia membiarkan anak-anak ini meninggal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya mudah, dan kejam. Pasar tidak memberikan apa-apa dengan menolong anak-anak ini, dan pemerintahan tidak mensubsidinya. Jadi banyak anak meninggal karena ibu-ibu dan bapak-bapak mereka tidak memiliki kekuasaan di pasar dan tidak memiliki suara di sistem ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalian dan saya memiliki keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat membuat kekuatan-kekuatan pasar bekerja lebih baik untuk orang-orang miskin jika kita dapat mengembangkan kapitalisme yang lebih kreatif—jika kita dapat memperpanjang jangkauan kekuatan-kekuatan pasar sehingga lebih banyak orang dapat mengambil untung, atau setidaknya dapat mencari nafkah dengan memberikan pelayanan kepada orang-orang yang dilanda ketimpangan terburuk. Kita juga bisa menekan pemerintahan di segala penjuru dunia untuk membelanjakan uang pajak rakyatnya dengan cara-cara yang lebih sesuai dengan nilai-nilai orang-orang yang membayar pajak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita dapat menemukan berbagai cara yang dapat membantu orang-orang miskin sehingga dapat menghasilkan untung bagi bisnis dan suara bagi politisi, kita akan dapat menemukan cara yang sustainable untuk mengurangi ketimpangan-ketimpangan dunia. Kerjaan ini tidak akan pernah selesai. Tetapi usaha yang serius untuk menjawab tantangan ini akan merubah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya optimis kita bisa melakukan hal ini, tetapi saya juga bicara denga para skeptik yang mengklaim bahwa tidak ada harapan. Mereka bilang: “Ketimpangan telah ada dengan kita sejak dari awal, dan akan ada bersama kita sampai akhir jaman—karena orang-orang . . . tidak . . . peduli.” Saya sama sekali tidak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya kita memiliki kedermawanan yang lebih banyak dari apa yang bisa kita perbuat dengan kedermawanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua di Halaman (Harvard Yard) ini, pada satu saat atau lainnya, telah melihat tragedi kemanusiaan yang menyanyat hati, tetapi kita tidak melakukan apa-apa—bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kita tidak tahu harus berbuat apa-apa. Kalau kita tau bagaimana menolong, pasti kita akan bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halangan untuk berubah bukanlah ketidakpedulian, melainkan karena terlalu banyak kompleksitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merubah kepedulian menjadi aksi, kita perlu melihat suatu masalah, solusinya dan hasil dari solusi tersebut. Tetapi kompleksitas memblokir ketiga langkah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dengan adanya internet dan berita 24 jam, tetap saja merupakan usaha yang sangat rumit untuk membuat orang-orang melihat masalah-masalah yang sebenarnya. Ketika pesawat jatuh, para pejabat seketika memanggil konferensi pers. Mereka berjanji untuk menginvestigasi, mencari penyebabnya dan menghindari kecelakaan yang sama di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika para pejabat benar-benar mau jujur, mereka akan bilang, “ Dari semua orang di dunia ini dari hal-hal yang bisa dihindari, setengah persen dari mereka adalah penumpang pesawat ini. Kami akan melakukan semua usaha untuk memecahkan masalah yang merengut jiwa setengah persen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang lebih besar bukanlah pesawat jatuh, tetapi jutaan kematian yang bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak banyak membaca soal kematian-kematian ini. Media hanya meliput hal-hal yang baru—dan jutaan orang meninggal bukanlah hal yang baru. Jadi berita ini hanya mengendap di belakang, dimana lebih mudah untuk tidak diperhatikan sama sekali. Tetapi ketika kita melihat atau membacanya, sulit untuk tetap memusatkan perhatian kita pada masalah ini. Sangat pelik untuk melihat penderitaan jika situasinya sangat kompleks sehingga kita tidak tahu bagaimana mau menolong. Dan jadinya kita berpaling muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita benar-benar dapat melihat masalahnya, yang merupakan langkah pertama, kita dihadapkan pada langkah kedua: mengurai benang kusut untuk menemukan solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menemukan solusi sangat penting jka kita ingin benar-benar menggunakan kepedulian kita secara maksimal. Jika kita memiliki jawaban-jawaban yang jelas dan teruji setiap kali sebuah organisasi atau individu bertanya “Bagaimana saya bisa bantu?”, makan kita dapat bertindak—kita dapat memastikan tidak ada satupun kepedulian di dunia ini yang terbuang sia-sia. Tetapi kompleksitas menjadikannya sangat sulit untuk membuat telusuran tindakan bagi orang-orang yang peduli—dan ini membuat kepedulian mereka menjadi sangat sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerobos kompleksitas untuk mencari solusi harus melewati empat langkah yang bisa diramalkan: rumuskan suatu tujuan, cari pendekatan yang menggunakan daya pengungkit yang tinggi, temukan teknologi ideal untuk pendekatan tersebut, dan untuk saat ini, gunakan teknologi yang sudah ada secara cerdik—baik itu yang mutakhir seperti obat-obatan, atau yang lebih sederhana seperti kelambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epidemik AIDS dapat dijadikan contoh. Tujuan yang luasnya, tentu saja, untuk memusnahkan penyakit ini. Pendekatan dengan daya ungkit yang tinggi adalah penghindaran. Teknologi ideal adalah vaksin yang memberikan imunitas sepanjang hidup dengan satu dosis. Jadi pemerintah, perusahaan farmasi, dan yayasan mendanai riset vaksin. Tetapi hasil kerja mereka biasanya akan makan waktu puluhan tahun, jadi saat ini, kita harus bekerja dengan apa yang kita miliki—dan cara preventif yang paling baik yang kita miliki saat ini adalah untuk menyerukan kepada orang-orang untuk menghindari tingkah laku yang beresiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan tersebut perlu siklus empat-langkah lagi. Ini polanya. Yang paling penting adalah untuk tidak pernah berhenti berpikir dan bekerja—dan jangan pernah melakukan apa yang kita pernah lakukan terhadap malaria dan tuberculosis di abad ke-20—yaitu menyerah kepada kompleksitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah terakhir—setelah melihat masalah dan menemukan suatu pendekatan—adalah untuk mengukur hasil dari kerja kalian dan membagi kesuksesan dan ketidakberhasilan sehingga orang lain dapat belajar dari usaha-usaha kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu anda perlu statistik. Anda harus dapat menunjukkan bahwa suatu program adalah untuk memvaksinasi jutaan anak-anak. Anda harus dapat menunjukkan pengurangan jumlah anak-anak yang meninggal dari berbagai penyakit ini. Hal ini sangat esensial bukan saja untuk memperbaiki program tersebut, tapi juga untuk mendapatkan investasi dari bisnis dan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika kalian ingin memberikan inspirasi bagi orang-orang untuk berkecimpung, kalian harus dapat menunjukkan lebih dari angka-angka; kalian harus dapat menyalurkan sisi kemanusiaan dari hasil usaha kalian—sehingga orang-orang dapat merasakan apa artinya menyelamatkan jiwa bagi keluarga yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat pergi ke Davos beberapa tahun lalu dan duduk di panel kesehatan dunia yang mendiskusikan berbagai cara menyelematkan jutaan jiwa. Jutaan! Coba pikir perasaan yang dialami menyelamatkan satu jiwa saja—lantas kalikan dengan jutaan . . . Sayangnya panel ini merupakan panel yang paling membosankan yang pernah saya hadiri. Sangat jenuhnya saya sendiri tidak tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat pengalaman itu benar-benar beda adalah sebelum ke sana, saya baru saja menghadiri acara dimana kami memperkenalkan versi ke-13 sebuah piranti lunak, dan kita melihat orang-orang meloncat dan teriak kegirangan. Saya senang sekali membuat orang meloncat kegirangan tentang software—tetapi kenapa kita tidak bisa menghasilkan kegembiraan yang lebih besar untuk menolong jiwa orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak dapat membuat orang meloncat kegirangan kecuali anda dapat menolong mereka melihat dan merasakan hasilnya. Dan bagaimana caranya itu—merupakan problem yang kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu, saya tetap optimis. Memang betul, ketimpangan telah berada bersama kita sejak dulu, tetapi peralatan yang kita miliki yang dapat dipakai untuk menerobos kompleksitas baru-baru saja muncul. Alat-alat baru ini—mereka dapat membantu kita memaksimalkan bentuk kepedulian kita—dan ini yang dapat membuat masa depan bisa berbeda dari masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inovasi-inovasi penting dan yang masih terus berlanjut saat ini—bioteknologi, komputer, internet—memberikan kita kesempatan yang tidak pernah kita miliki sebelumnya untuk membasmi kemiskinan akut dan menghentikan kematian dari penyakit yang bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam puluh tahun lalu, George Marshall datang ke acara wisuda ini dan mengumumkan sebuah rencana untuk membantu bangsa-bangsa Eropa pasca perang. Dia bilang: “Saya pikir salah satu kesulitannya adalah masalah ini merupakan suatu yang sangat kompleks sehingga jumlah fakta-fakta yang diberikan ke publik oleh pers dan radio membuatnya sangat sulit untuk orang biasa di jalanan untuk mengerti situasinya secara jelas. Hampir mustahil pada jarak ini untuk dapat mengerti pentingnya situasi ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun setelah Marshall memberikan pidatonya, pada saat teman-teman sekelas saya lulus tanpa saya, teknologi baru mulai muncul yang dapat membuat dunia menjadi lebih kecil, lebih terbuka dan berkurang jaraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya komputer pribadi yang murah harganya menumbuhkan jaringan kuat yang telah merubah kesempatan untuk belajar dan berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling ajaib dari jaringan ini bukan hanya ia mengurangi jarak dan membuat setiap orang bertetangga dengan yang lainnya. Ia juga menambah jumlah otak-otak cemerlang yang dapat berkolaborasi memecahkan masalah yang sama—dan ini meningkatkan skala jumlah inovasi yang dikeluarkan beberapa derajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan, untuk setiap orang di dunia yang memiliki akses ke teknologi ini, lima orang tidak punya akses. Ini artinya banyak otak-otak yang kreatif tidak dapat ikut serta dalam diskusi ini—orang-orang pandai dengan ilmu praktikal dan pengalaman yang berhubungan yang tidak memiliki teknologi untuk mengasah bakat mereka atau menyumbang ide-ide mereka ke seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu sebanyak-banyaknya orang yang dapat mengakses teknologi ini, karena kemajuan ini dapat memicu revolusi dalam apa yang dapat diperbuat oleh manusia untuk satu sama lain. Kemajuan-kemajuan teknologi ini juga dapat membuat bukan hanya pemerintah, tetapi universitas, perusahaan, organisasi yang lebih kecil dan bahkan individu untuk melihat masalah, melihat solusi, dan mengukur hasil kerja usaha mereka untuk mengatasi kelaparan, kemiskinan, dan kemeleratan yang George Marshall bicarakan 60 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anggota keluarga Harvard: Di Halaman ini merupakan koleksi besar talenta intelektual di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa para pengajar, dekan, alumni, mahasiswa dan penyokong Harvard telah menggunakan kekuasaan mereka untuk memperbaiki kehidupan banyak orang di sini dan di dunia. Tetapi apakah kita dapat berbuat lebih banyak? Dapatkan Harvard mendedikasikan intelektualitasnya untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tidak akan pernah mendengar nama universitas ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijinkan saya mengajukan permintaan kepada para dekan dan profesor—pemimpin intelektual di Harvard. Ketika anda merekrut profesor, memberikan tenure, mengulas kurikulum dan menentukan syarat kelulusan, tolong tanya diri anda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah otak-otak terbaik kita perlu didedikasikan untuk memecahkan masalah-masalah terbesar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Harvard harus mendorong para dosennya untuk memecahkan ketimpangan-ketimpangan dunia? Apakah mahasiswa Harvard perlu belajar tingkat kedalaman kemiskinan global . . . meluasnya kelaparan dunia . . . kurangnya air bersih . . . anak-anak perempuan yang tidak diberikan kesempatan bersekolah . . . anak-anak yang meninggal karena penyakit-penyakit yang kita dapat sembuhkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah orang-orang yang memiliki hak istimewa terbesar di dunia perlu belajar tentang kehidupan orang-orang yang tidak memiliki kesempatan yang sama di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan ini bukan retorikal—kalian akan menjawabnya dengan kebijakan-kebijakan kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu saya, yang sangat bangga ketika saya diterima oleh Harvard—tidak pernah berhenti mendorong saya untuk berbuat lebih banyak untuk yang lain. Beberapa hari sebelum hari pernikahan saya, dia mengundang orang-orang dimana dia membacakan keras-keras semua surat yang dia telah kirim ke Melinda tentang pernikahan. Ibu saya menderita kanker saat itu, tetapi dia melihat satu kesempatan lagi untuk menyebarkan lagi pesan dia, dan di akhir surat dia berujar: “Dari mereka yang telah menerima banyak, banyak yang diharapkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kalian yang berada di Halaman ini memikirkan apa saja yang telah kita dapat—dalam talenta, hak istimewa dan kesempatan—hampir tidak ada batas dari apa yang dunia berhak harapkan dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan janji-janji yang ada pada jaman ini, saya ingin mendesak setiap yang lulus hari ini untuk mendalami satu isu—suatu problem yang kompleks, suatu ketimpangan yang mendalam, dan menjadi seorang spesialis dalam hal itu. Kalau anda dapat menjadikannya sebagai fokus karir anda, fantastik. Tapi anda tidak perlu melakukan hal itu untuk membuahkan hasil. Anda dapat menggunakan internet beberapa jam setiap minggu untuk belajar, menemukan orang-orang lain dengan ketertarikan pada hal yang sama, melihat rintangan, dan menemukan cara untuk menerobos rintangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan biarkan kompleksitas menahan anda. Jadilah seorang aktivis. Pecahkan masalah ketimpangan yang besar. Ini akan menjadi pengalaman paling berharga dalam hidup kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian tumbuh besar dalam era yang menakjubkan. Ketika kalian meinggalkan Harvard, kalian memiliki teknologi yang tidak dimiliki oleh para anggota angkatan saya. Kalian mengetahui soal ketimpangan dunia, yang kami dulu tidak tahu. Dan dengan pengetahuan tersebut, kalian juga memiliki suara batin yang akan menyiksa kalian jika kalian tidak memperdulikan orang-orang ini yang hidupnya bisa kalian rubah dengan usaha yang kecil. Kalian memiliki lebih banyak dari apa yang kami miliki; kalian harus memulainya lebih dulu dan melakukannya lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan apa yang kalian ketahui, bagaimana kalian tidak melakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya harap kalian akan kembali ke Harvard 30 tahun mendatang dan merenungkan apa yang kalian telah lakukan dengan bakat dan energi kalian. Saya harap kalian tidak mengukur prestasi kalian hanya dengan keberhasilan karir kalian, tapi juga dari apa yang telah kalian lakukan untuk mengatasi ketimpangan dunia yang paling dalam . . . dari perlakuan yang kalian berikan pada orang-orang yang tinggal di seberang lautan yang tidak memiliki kesamaan apapun dengan kalian kecuali nilai kemanusiaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi asli pidato bisa dibaca di: http://www.news.harvard.edu/gazette/2007/06.14/99-gates.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-7118945739236567461?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/7118945739236567461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=7118945739236567461' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/7118945739236567461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/7118945739236567461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/05/buatlah-orang-menderita-meloncat-teriak.html' title='Buatlah Orang Menderita “Meloncat &amp; Teriak” Kegirangan'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-1273596352624184614</id><published>2008-05-25T21:50:00.003+07:00</published><updated>2008-05-25T21:54:03.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pikiran jernih'/><title type='text'>100 Tahun Kebangkitan atau ‘Kebangetan’ Nasional</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDl9KiP30qI/AAAAAAAAAHk/5bv5INve2tI/s1600-h/thumb_m_eri_kcl.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDl9KiP30qI/AAAAAAAAAHk/5bv5INve2tI/s320/thumb_m_eri_kcl.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204328464348861090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;oleh : Erie Sudewo (Social Entrepreneur)&lt;br /&gt;Seorang karib dari Yogya kirim sms. Isinya: “Mas, yang benar Kebangkitan atau Kebangetan atau Kebangkrutan Indonesia 100 Tahun?” TETAP SEMANGAT (huruf kapital) di akhir sms-nya. Tersirat rasa frustasinya. Padahal dia lulusan FE UGM. Pernah menjabat Ketua BEM. Ogah jadi PNS meski difasilitasi. Terbukti sekarang punya usaha sendiri. Dan kini sering menulis opini. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Malam 20 Mei 2008, seluruh stasiun televisi tayangkan pergelaran ‘100 Tahun Kebangkitan Nasional’ dari Istora Senaya. Ada tiga soal berkait acara ini. Pertama isi acara. Alur tema dengan yang digelar agaknya terputus. Yang diperagakan, ternyata sekadar penggalan tarian daerah. Jakarta dengan ondel-ondel, Bali dengan Barongnya. Sesuatu yang biasa disaksikan sehari-hari. Lantas, bisakah ini jelaskan pertanyaan: ‘Apanya yang bangkit?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kedua saat pergelaran. Dalam kondisi rakyat yang makin terhimpit, dalam keresahan BBM dan BLT, tepatkah gelar perhelatan seakbar itu? Sense of crisis kita memang dangkal. Dan ketiga, perhelatan ini punya pesan ke seluruh Indonesia. Bahwa Indonesia baik-baik saja. Maka yel-yel pun digelegar. ‘Indonesiaaaa Bisaaa’. Sekali lagi, ‘Indonesiaaa Bisaaa’. Pertanyaanya: ‘Bisa apa?’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhelatan ‘100 Tahun Kebangkitan Nasional’ memang kaburkan kondisi nyata Indonesia. Kita memang kebangetan. Sesungguhnya Indonesia saat ini tengah menghadapi tiga soal besar. Pertama krisis identitas. Kedua spirit korupsi yang begitu tinggi. Dan ketiga lemahnya berkorban untuk bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis Identitas &lt;br /&gt;Kata lain krisis identitas, tak lain krisis jati diri. Jati diri dapat disingkap dari lima pertanyaan: siapa kita, dari mana asal usul kita, apa tujuan kita, dimana posisi sekarang dan kini tengah mengerjakan apa. Lima pertanyaan ini harus dijawab dengan jujur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa kita dan asal usul, jelas Indonesia. Tujuan kita, tentu untuk kemakmuran bangsa. Soalnya kini, mengapa hanya segelintir pihak yang nikmati kemakmuran. Dimana posisi Indonesia, ini juga soal besar. Utang Indonesia total sudah capai US$ 150-an milyar lagi. Sumber daya alam, perbankan dan industri strategis, sudah dicaploki asing. BMI yang kita banggakan, toh kepemilikan lokal saat ini hanya 14%. Lantas untuk menjawab kini tengah kerjakan apa, cukup menyimak pergelaran 20 Mei’08. Temanya ‘100 Tahun Kebangkitan Nasional’, tapi isinya tarian daerah. Apa yang dilakukan memang kerap tak nyambung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis identitas sudah dimulai sejak SD. Yang diburu cuma kepintaran. Yang punya hubungan ke luar negeri, makin ciamik. Dengan kefasihan Inggris, anak-anak disiapkan untuk tak lagi canggung jual negara jika sudah besar nanti. Sekolah yang tekankan karakter cuma satu dua. Lagu-lagu perjuangan jarang lagi terdengar di telinga anak-anak. Berbagai training motivasi pun tumbuh. Manusia Indonesia memang unik. Untuk jadi baik perlu dimotivasi. Namun yang ditawarkan lebih pada pengalaman pribadi. Manfaatnya baru sebatas pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya amat tampak di sebagian politisi. Durasi politisi kita cuma antar pilkada dan pemilu. Sulit dicari yang punya pemikiran 25 tahun ke depan. Yang tua-tua buat partai, bukan untuk majukan yang muda-muda. Dulu waktu menjabat, ngapain. Negarawan makin sulit dicari di Indonesia. Sebagian akademisi kita juga begitu. Larut dalam hingar bingar pemilu, hingga tak sungkan terjun ke berbagai model center para pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit of Corruption &lt;br /&gt;Ada karikatur yang menggambarkan seorang koruptor terengah-engah di kejar massa. Dimanapun tempat tak aman. Hingga tergiringlah ke pengadilan. Tapi justru koruptor itu berkata: ‘Nah di sini tempat yang paling aman’. Maka gelar HAKIM yang mulya pun diplesetkan. Singkatannya jadi begini: Hubungi Aku Kalau Ingin Menang. JAKSA pun disingkat jadi: Jika Akan Kalah Sisipkan Amplop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya masyarakat sudah amat pesimis. Korupsi di Indonesia memang akut. Bukan hanya massal tapi juga dilakukan secara berjamaah. Korupsi bukan hanya gelapkan uang. Secara psikologis membuat demotivasi massal. Yang baik jadi tak peduli. Yang tak baik, termotivasi untuk berlomba korupsi. Mustahil sih tidak. Tapi untuk sementara ini, membasmi korupsi di corruptors’ country bagai menggantang asap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemah Berkorban untuk Bangsa&lt;br /&gt;Dalam setiap organisasi ada tiga kepentingan: pribadi, kelompok dan lembaga. Bagi negara, kepentingan lembaga identik dengan kepentingan rakyat. Bagi yang beriman, inti kepentingan tak lepas kaitnya dengan akhirat. Yang harus diusung, tentu kepentingan lembaga. Namun kepentingan ini sering merugikan kepentingan pribadi. Maka pribadi-pribadi pun membentuk kelompok. Akibatnya kepentingan lembaga disisihkan. Di negara ini, rakyat jadi tumbal karena sudut pandang dan kepentingan sebagian politisi dan sebagian partai. Ujung-ujungnya ada pengusaha di sana. Rakyat hanya ada saat pilkada dan pemilu. Setelah itu nyaris tak ada yang peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perhelatan 20 Mei’08, presenter berteriak: ‘Bersama kita pertahankan kedaulatan bangsa’. Kedaulatan hakiki itu terletak dimana? Kekuatan politik sebuah bangsa, sesungguhnya terletak di ekonomi. Jika berbagai asset jatuh ke asing, kedaulatan kita ambruk. Lihat Singapura. Lebih kecil dibanding Jakarta. Tapi kekuatan ekonominya yang diperhitungkan dunia, jadi kekuatan politik. Siapa berani lecehkan Singapura. Kabarnya, penerbangan di Indonesia pun dikendalikan dari Changi. Sementara Indonesia, membantu TKW pun tak sanggup. Memburu kapal ikan Thailand, juga kerap gagal karena peralatan kalah canggih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka 100 Tahun Kebangkitan atau Kebangetan Nasional?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-1273596352624184614?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/1273596352624184614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=1273596352624184614' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/1273596352624184614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/1273596352624184614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/05/100-tahun-kebangkitan-atau-kebangetan.html' title='100 Tahun Kebangkitan atau ‘Kebangetan’ Nasional'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDl9KiP30qI/AAAAAAAAAHk/5bv5INve2tI/s72-c/thumb_m_eri_kcl.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-7831506861549847212</id><published>2008-05-25T10:08:00.006+07:00</published><updated>2008-05-25T10:22:31.022+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>"Makan apa kita hari ini?"</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDjbHSP30oI/AAAAAAAAAHU/78qFy8sNNNM/s1600-h/images%5B26%5D.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDjbHSP30oI/AAAAAAAAAHU/78qFy8sNNNM/s400/images%5B26%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204150287630586498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dapat dipastikan hari-hari ini semakin banyak rumah-rumah yang bertanya, harga-harga terus menaik dan pastinya teman, ini bukan yang terakhir loo..... liat saja nanti!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sehingga jangan kaget bila tidak berapa lama lagi saudara kita akan bahkan kita sendiri akan seperti mereka yang dietiophia.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDjY3CP30kI/AAAAAAAAAG0/M1d4va80ANs/s1600-h/images%5B18%5D.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDjY3CP30kI/AAAAAAAAAG0/M1d4va80ANs/s320/images%5B18%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204147809434456642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;solusinya tidak lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDjaSCP30nI/AAAAAAAAAHM/NW-FkcqnGXA/s1600-h/images%5B17%5D.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDjaSCP30nI/AAAAAAAAAHM/NW-FkcqnGXA/s400/images%5B17%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204149372802552434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-7831506861549847212?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/7831506861549847212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=7831506861549847212' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/7831506861549847212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/7831506861549847212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/05/makan-apa-kita-hari-ini.html' title='&quot;Makan apa kita hari ini?&quot;'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_jli4g1i2l2Y/SDjbHSP30oI/AAAAAAAAAHU/78qFy8sNNNM/s72-c/images%5B26%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-4221096365856385879</id><published>2008-05-25T09:54:00.002+07:00</published><updated>2008-05-25T09:59:33.288+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan reformasi'/><title type='text'>......mengerjakan-perubahan</title><content type='html'>kemarin banyak orang muak dengan evolusi mengingat akutnya rumah bangsa ini, terlebih kemarin BBM kembali dinaikkan, namun untuk revolusi pun tak berani karena kadung rapuhnya modal sosial kita.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;kegamangan ini tak boleh dibiarkan terus berlanjut tanpa kepastian ritme perubahan. ketidak pastian ritme perubahan dapat mengacaukan pola dan arus perubahan bagaikan barang produksi pabrik yang memiliki keteraturan kerja yang tersistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak mudah menserempakkan ritme perubahan pada saat semua merasa patut menjadi pemimpin perubahan (sekalipun itu diiklankan besar-bsaran), semakin besar diiklankan semakin banyak kita tahu akan satu hal, hati-hati berteman untuk mengerjakan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-4221096365856385879?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/4221096365856385879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=4221096365856385879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/4221096365856385879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/4221096365856385879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/05/mengerjakan-perubahan.html' title='......mengerjakan-perubahan'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-1092863859674057631</id><published>2008-05-25T09:39:00.000+07:00</published><updated>2008-05-25T09:40:36.904+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan reformasi'/><title type='text'>Reformasi (dan) kenaikan harga BBM</title><content type='html'>10 tahun reformasi menuju tata hidup yang anti KKN, demokratis dan humanis nyaris dibunuh sendiri oleh bayi yang dilahirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para elit politik yang memiliki kesempatan untuk melakukan perbaikan nasib bangsa justru terjerat pada kelindan kapitalisme-global yang memiskinkan. Kapitalsime-global dimaksud sebagai jejaring super konspirasi yang hegemonik.&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Harga BBM naik lagi, bensin Rp. 6.000, Solar Rp. 5.500 dan Mita Rp. 4.500, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sesungguhnya hal ini mudah ditebak bakal kejadian, tapi tetap saja moment dinaikkannya harga BBM menunjukkan pemerintahan sekarang semakin tidak efektif untuk memberi layanan hak-hak dasar sekaligus penguatan kedaulatan bangsa. Terlebih mengurangi indikator sebagai failure-state yang ditujukan ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekwensinya adalah, ketahanan sosial dan modal sosial semakin merosot dan multiplier effectnya sangat cepat terasa. Berita pagi tadi di Trans-7, seorang Ibu membunuh anahnya yang berusia 1,5 tahun dengan memotong dari belakang leher anak laki-lakinya dengan pedang. Ada juga seorang laki-laki yang bunuh diri. Untuk yang laki-laki bunuh diri mungkin dapat dianggap mengada-ada bila dikaitkan sebagai dampak kenaikan BBM. Tapi Ibu yang membunuh anaknya tersebut (yang tak berhasil bunuh diri) adalah kenyataan, ia mengatakan membunuh anaknya karena himpitan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini mencerminkan hal tersebut, bahwa modal sosial dan ketahanan sosial semakin rapuh dan ini langkah selanjutnya dari failure-state menuju broken-state.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusinya satu.... &lt;br /&gt;reformasi kenaikan harga BBM secara utuh. bukan rahasia lagi ketakmampuan negara berkata tidak terhadap para global-capitalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi kenaikan harga BBM tidaklah sederhana, terlebih pemerintah membangun rasionalisasi-publik yang manipulatif dan cenderung membodohkan. Segelintir para intelektual serta ekonom yang membaptiskan diri sebagai kuli tinta penguasa memberi argumen2 pendukung sekaligus argumen-argumen faktor ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya kaum menengah kita menginfakkan sebagian waktunya untuk melawan upaya-upaya ini dengan memberi penerangan kepada publik hal sesungguhnya sekaligus melakukan kerja-kerja sosial yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak elok 10 tahun reformasi di hadiahi kenaikan harga BBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-1092863859674057631?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/1092863859674057631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=1092863859674057631' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/1092863859674057631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/1092863859674057631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/05/reformasi-dan-kenaikan-harga-bbm.html' title='Reformasi (dan) kenaikan harga BBM'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-5978684372523560609</id><published>2008-05-07T06:59:00.003+07:00</published><updated>2008-05-07T07:21:02.196+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan bangsa'/><title type='text'>100 tahun Kebangkitan Nasional</title><content type='html'>20 Mei 1908, segelintir anak muda Indonesia, mendirikan organisasi yang sederhana dan kemudian dikenal dengan nama, Boedi Oetomo. Bila pikiran kita bawa keluar dari kotak sekarang dan kembali ke tahun 1908, bagaimana rasanya? &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Yang jelas, Mal A. Yani, Masjid Raya Mujahidin, Katedral, Yayasan-yayasan hingga pengemis di simpang 4 lampu merah pasti belum ada. Ini dipontianak, bagaimana di tempat berdirinya Boedi Oetomo?. Mungkin tidak jauh berbeda.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Budi utomo&lt;/strong&gt;    &lt;br /&gt;Setiap 20 Mei, segenap bangsa Indonesa memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan ini tidak dipisahkan dari Budi Utomo. Inilah organisasi pergerakan pertama yang lahir sembilan puluh delapan tahun yang lalu, tepatnya 20 Mei 1908. Tak lama setelah itu lahir pula pergerakan perjuangan lainnya, seperti Serikat Islam, Indiche Partij, Partai Nasional Indonesia dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks penjajahan Belanda, lahirnya Budi Utomo sangatlah besar artinya. Ketika itu peraturan pemerintah, yaitu Regeerings Reglement pasal 111, melarang didirikannya perkumpulan politik atau perkumpulan yang dianggap bisa menganggu ketenteraman umum. Bahkan pembicaraan yang menyangkut masalah-masalah politik dianggap tabu. Beberapa pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlahdsche Artsen) dengan kelihaiannya mampu menembus peraturan tersebut melalui Pembentukan Budi Utomo di Jakarta. Taktik yang digunakan guna menembus peraturan itu adalah dengan mencantumkan tujuan organisasinya pada segi sosial budaya. Jadi, mereka berusaha menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal yang bersifat politis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan pembicaraan berkisar pada berbagai masalah watak, bakat, kesusasteraan, kesenian, kesejahteraan, dan cara-cara mencapai cita-cita. Sekolah yang didirikan dimaksudkan untuk menarik para cendikiawan ikut bergabung dengan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tanggal 28 Desember 1908 Budi Utomo memperoleh pengakuan (rechts persoon) pemerintah Hindia Belanda. Walaupun ruang lingkup organisasi ini lebih menekankan terhadap kemajuan di Jawa dan Madura, namun mampu memberi ilham bagi tumbuhnya organisasi bumi putera lainnya. Inilah kiranya yang dapat dipandang sebagai bangunnya pergerakan bumiputera di Hindia Belanda. Dengan kata lain, timbul semangat dan tekad untuk maju dalam jiwa bumiputera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemahaman di atas wajarlah apabila para tokoh pendiri Budi Utomo dipandang sebagai, tokoh angkatan 08. Sebab, merekalah yang telah membaca nilai-nilai baru dalam kehidupan rakyat Hindia Belanda yang pada akhimya bermuara pada tercapainya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Memang harus pula diakui bahwa pada tahun-tahun berikutnya peranan Budi Utomo agak mengalami kemunduran. Ini disebabkan karena munculnya Serikat Islam yang lebih bersifat kerakyatan. Di samping itu para pengurus Budi Utomo kemudian lebih banyak berada di tangan golongan bangsawan dan pamong praja. Status yang dipegangnya itu membuat mereka lebih berhati-hati dalam menghadapi pemerintah Hindia Belanda. Meski demikian, upaya menanamkan rasa kebangsaan masih melekat pada Budi utomo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di diatas jelas kiranya bahwa lahirnya Budi Utomo telah mempelopori timbulnya kesadaran rakyat Hindia Belanda akan nasibnya itu. Upaya memperbaiki nasibnya itu semakin keras dengan lahirnya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda yang menginginkan adanya Indonesia yang berbangsa, berbahasa dan bertanah air satu itu menegaskan pentingnya arti persatuan dan kesatuan. Dengan kedua puncak perjuangan itulah yang telah menyertai dicetuskannya kemerdekaan Indonesia. "Mata Rantai" itu mudah-mudahan tetap mengikat kita melalui pembangunan nasional yang kini semakin dipertegas oleh Orde Reformasi Pembangunan. Makna Peringatan Harkitnas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh Mei tahun ini, berarti Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) genap berusia seratus tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Serpihan Makna&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menyoal boedi oetomo tentunya paling penting mengambil nilai-nilai gerakan yang dilakukannya. Paling engga kita bisa melihat sisi menariknya :&lt;br /&gt;1. Keberanian melakukan terobosan sosial secara terorganisir.&lt;br /&gt;2. Kemauan berbuat untuk lingkungan yang lebih baik.&lt;br /&gt;3. Kemampuan transformasi dari Daerahisme ke Nasionalisme&lt;br /&gt;4. Menginspirasikan&lt;br /&gt;Mereka telah menebar energi positif, bagaimana dengan kita?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-5978684372523560609?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/5978684372523560609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=5978684372523560609' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5978684372523560609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/5978684372523560609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/05/100-tahun-kebangkitan-nasional.html' title='100 tahun Kebangkitan Nasional'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-3420070298433435972</id><published>2008-05-07T06:42:00.002+07:00</published><updated>2008-05-07T06:54:43.822+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serpihan di KPU'/><title type='text'>Seleksi KPU di Pontianak</title><content type='html'>Puihhhh, akhirnya selesai sudah seleksi anggota KPU Kota Pontianak masa kerja 2008-2013. Tepat pukul 21.00 Wib semalam (06/05) di aula Rohana Muthalib. Proses yang cukup melelahkan, terlebih untuk incumbent yang tinggal 3 ekor (bahasa Pak Rousdy-sang ketua timsel) di Kota Pontianak. Saya dengan sujadi masih ikut seleksi untuk masa kerja tersebut. Apa motivasi saya dan Sujadi?&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Bicara motivasi, tentunya banyak argumen sebagaimana diungkapkan oleh 19 orang calon anggota KPU Kota Pontianak yang kemarin diwawancara satu hari full. Mulai dari ibadah, ingin membantu peningkatan kapasitas KPU Kota Pontianak sampai dengan karena saya perempuan ?!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, bicara motivasi penting, namun lebih penting lagi ditrack lewat rekam jejak serta kiprahnya selama ini. Motivasi kini terkadang lebih banyak menjadi lips-servive belaka. Lebih jauh lagi menjadi semakin prihatin bila melihat banyak seleksi yang dilakukan untuk beragam insitusi negara dan publik, setelah mereka bekerja tidak sedikit yang jauh dari MOTIVASI awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kenapa Mulut, Kuping dan Mata satu tempat?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Analogi ini diungkapkan oleh Mas Erie seorang social entrepreneur disatu kesempatan di Hotel Kini beberapa waktu lalu. Betapa tidak, semakin hari semakin jauh kita dari sunnatullah. Mulut, kuping dan mata ditempat-Nya secara berdekatan dan pada satu bagian, yaitu kepala memiliki makna tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut berbicara setelah dicerna otak atas masukan penglihatan (mata) dan pendengaran (kuping). Apa yang dibicarakan mulut pada gilirannya mustilah sinkron dengan input, yaitu mata dan kuping. Terlebih lagi ketika mulut telah berbicara, maka mata dan kuping berkomitmen pada hal tersebut dengan otak sebagai sentral-komando gerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, lantas bagaimana dengan mulut bicara lain, organ tubuh lainnya melakukan hal lain?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak mudah merekrut orang sehingga dalam Peraturan KPU No. 13 Tahun 2008 dilakukan yang namanya seleksi ketat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups, lantas apa motivasi saya mengikuti kembali seleksi KPU Kota Pontianak?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Kita lihat saja proses dan kerja bila nanti terpilih kembali...." viryan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 07 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-3420070298433435972?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/3420070298433435972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=3420070298433435972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/3420070298433435972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/3420070298433435972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/05/seleksi-kpu-di-pontianak.html' title='Seleksi KPU di Pontianak'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-2821795886695373856</id><published>2008-03-26T12:03:00.001+07:00</published><updated>2008-03-26T12:04:50.251+07:00</updated><title type='text'>Memandirikan Sektor Ketiga</title><content type='html'>(Saatnya Dana Sosial Menjadi Mengurangi Pajak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diyakini banyak kalangan, terdapat tiga pilar masyarakat demokrasi, salah satunya adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Konteks LSM disini adalah lembaga-lembaga nirlaba yang memang tumbuh dari masyarakat sipil dalam artian diorganisir, dikerjakan dalam keseharian, keberpihakan dan pendanaannya berbasis pada masyarakat sipil, bukan pemerintah dan partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai negara yang memiliki penduduk besar di dunia sebenarnya bangsa ini berpotensi besar untuk menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan dengan tangan ataw kekuatan sendiri. Tentunya dengan kerja berjamaah antar kelompok-kelompok masyarakat sipil. Bila mencermati perkembangannya, telah tumbuh ribuan LSM di seluruh Indonesia dengan beragam jenis sumber dana dan fokus aktifitas. Setidaknya dapat dikelompokkan pada beberapa, yaitu :&lt;br /&gt;1. LSM asing yang memiliki perwakilan di Indonesia yang hidup dana asing.&lt;br /&gt;2. LSM local yang hidup dari dana asing.&lt;br /&gt;3. LSM local yang hidup dari dana pemerintah.&lt;br /&gt;4. LSM local yang hidup dari dana masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengelompokkan pada empat tersebut, arah kedepan untuk kepentingan bangsa adalah membangun kemandirian pembangunan. Sudah bukan barang baru bila dana asing masuk ke LSM local atau LSM asing hadir, sulit untuk diterima 100% bahwa kehadiran mereka tanpa agenda ikutan. Dalam pertarungan pilkada, berkembang salah satu strategi mengalahkan lawan adalah dengan mematikan sumber logistic calon, karena biasanya hampir semua calon memiliki Investor-Politik. Nyaris tidak ada investor-politik yang tidak memiliki kepentingan, terlepas apakah kepentingan tersebut baik atau buruk. Apakah mungkin ada investor-politik yang bilang, “saya membantu anda supaya anda berpihak membela dan mensejahterakan rakyat, saya tidak punya agenda-pribadi dengan anda” ???!!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks ini sejatinya founding-father (Bung Karno) kita telah mengingatkan pentingnya berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Ironis memang, sebuah bangsa yang sempat disegani dan memainkan peran penting dalam peta politik dunia masa lalu kini terseret menjadi pemain figuran yang nyaris tanpa posisi tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin Negara Lain&lt;br /&gt;Lain ladang, lain ilalang. Satu lagi petuah orang tua kita yang penting. Ditengah bangsa ini memiskinkan dirinya dengan menjual harga diri bangsa dan ketakberdayaan, bangsa lain semakin mampu mandiri dan tegak berdikari. Salah satu intrumen social penting yang tak boleh diremehkan adalah penguatan kapasitas sector ketiga yang dilakukan secara sadar bagi semaian masyarakat sipil. Negara seperti Australia sampai dengan tetangga-kecil kita Singapura sangat sadar akan hal ini. Mereka pun tanpa ragu memberlakukan pengurangan pajak untuk individu dan perusahaan yang memiliki komitmen derma-sosial. Salah satu prinsip dasarnya adalah negara tak mungkin mengurus semua kepentingan masyarakat sipil dan dengan keunikannya masyarakat sipil sesungguhnya mampu mengurus dirinya sendiri. Namun demikian, bukan berarti negara tak berperan, justru negara sangat berperan dalam konteks sebagai pengatur secara konsisten pengembangan kapasitas makro social rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, mereka melakukan itu juga termasuk untuk zakat, sehingga bila anda warga negara Australia atau Singapura, anda muslim dan anda menunaikan zakat, struk tunai zakat anda bisa anda gunakan untuk mengurangi zakat penghasilan anda atau zakat perusahaan anda. Ini ada di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim dan bukan pada negara yang penduduknya mayoritas muslim, presiden, wakil presiden, menteri keuangan dan banyak pejabat terkait serta anggota DPR-nya masih muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda Advokasi &lt;br /&gt;Hari-hari yang seolah berjalan semakin cepat kini semakin nyata bahwa arus besar bangsa ini dapat semakin mengkeroposkan kemandirian yang sesungguhnya masih dimiliki oleh nusantara ini. Dengan segala kekurangannya, reformasi memberi ruang kepada siapa saja untuk memperjuangkan apa saja lewat cara-cara konstitusional. Sehingga pada tempatnyalah dilakukan upaya penataan sector ketiga dengan lebih sungguh-sungguh oleh stakeholder sector ketiga guna menguatkan bangunan masyarakat sipil sebagai pra-syarat mandirinya nusantara.&lt;br /&gt;Setidaknya terdapat dua agenda utama yang penting untuk dilakukan, yaitu pertama, transformasi kelembagaan sector ketiga menjadi utuh organisasi yang mandiri dan independent dalam artian 100% hidup untuk dan oleh masyarakat sendiri, sehingga secara agregat sector ketiga akan melayani kepentingan masyarakat sejati, bukan lagi pada agenda-agenda luar yang alih-alih memandirikan malah menjadikannya sebagai sekrup kapitalisme-global. Kedua, mengajak negara untuk mengurangi peran-perannya secara nyata untuk kemudian menjadi pengatur saja. Kedepannya peran-peran social dan pemberdayaan rakyat secara mikro cukup dilakukan oleh sector ketiga, pemerintah bila terlibat pada kebijakan dan program umum yang bersifat implementatif UUD, seperti program jaminan kesejahteraan social. Selain itu juga yang bersifat prinsip adalah memberlakukan pemotongan pajak untuk pribadi dan entitas bisnis yang memberi donasi untuk sector ketiga ini. Telah cukup banyak lembaga-lembaga kemasyrakatan yang memiliki kemampuan manajerial mumpuni layaknya perusahaan dalam mengelola dana social masyarakat dan bukankah kerja-kerja mereka sejatinya meniscayakan upaya pemandirian masyarakat. Dengan belum terakomodasinya dana social sebagai pengurang pajak, kenapa tidak para praktisi lembaga social melakukan judicial review ke mahkamah konstitusi dengan dasar Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945. Mungkin point ini bisa nantinya menguatkan masyarakat sipil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paal Lima, 23 Maret 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-2821795886695373856?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/2821795886695373856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=2821795886695373856' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/2821795886695373856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/2821795886695373856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2008/03/memandirikan-sektor-ketiga.html' title='Memandirikan Sektor Ketiga'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8899060523943425430.post-54427335948300431</id><published>2007-09-20T06:41:00.000+07:00</published><updated>2007-09-21T02:30:16.364+07:00</updated><title type='text'>Membuat GARIS</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;saat kanak-kanak, pertama kenal alat tulis, setiap kita pasti langsung membuat garis sekenanya. Ada yang lurus, melengkung, melingkar-lingkar hingga benang kusut. saat mulai menguasai alat tulis, garis yang dibuat mulai berbentuk gambar, biasanya kotak-kotak, rumah, orang-orangan.....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;saat jelang masuk sekolah, kita mulai belajar membuat garis dalam bentuk huruf dan angka. saat sekolah, tak terbilang garis telah kita buat.... hanya buku-buku catatan sekolah yang entah kini berada dimana atau tepatnya telah menjadi apa yang dapat bersaksi...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;saat tengah/telah usai sekolah dan kuliah, kita membuat garis dalam lingkungan sosial kita. saat memasuki "dunia-nyata" kita terus membuat garis sosial, bekerja untuk sebuah cita atau bekerja untuk hidup atau bekerja untuk mencari uang atau entah untuk apa, tapi setiap pilihan adalah kita membuat garis. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;saat ini entah seperti apa garis itu, tapi inilah garis-kehidupan kita kini....terus tertulis hingga tiba saatnya garis ini harus berhenti, &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;entah kapan...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8899060523943425430-54427335948300431?l=viryan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viryan.blogspot.com/feeds/54427335948300431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8899060523943425430&amp;postID=54427335948300431' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/54427335948300431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8899060523943425430/posts/default/54427335948300431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viryan.blogspot.com/2007/09/membuat-garis.html' title='Membuat GARIS'/><author><name>viryan azis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
