Senin, 2009 Mei 04

Menjadi Ayah

kemarin nizar akikah-an.
menyiapkannya bukan mudah, karena memang buanyakkkkk keinginan n harapan + ide2 dari seantero rumah. Tapi satu sisi diproses itu terselit hati berkata, "Yan, elo udah jadi Ayah". wooowwww, sekelebat diri membiarkan uraian-uraian hati mengisi relung otak, menyegarkan pikiran ttg seorang Ayah.


Ini amanah, ingatku di tanggal 25 Maret 2009, saat nizar hadir. Imam Ali berkata, " didiklah anakmu untuk masanya nanti". dan kini akupun berkalkulasi, seperti apa masanya nizar nanti, shg tepat menyiapkan proses pendidikan sesuai jamannya.

Sekelebat hadir pula ingatan itu, 28 Agus 1984.... Ayahku meninggal!!!. saat dimana hari-hari berikutnya adalah masa separuh kasihku hilang.... saat dimana kemudian segenap tawa n canda yg dominan hadir berganti duka n nestapa. meski aku yakin Allah pasti Adil dan akhirnya akupun menyadari keadilan-Nya. Bagaimana mestinya ku bersikap n mensikapinya.

Memandang wajahnya, serasa hidup ini semakin berharga n bermakna, ia menjadi peneguh diri, bahwa setiap dari kita akan mempertanggungjawabkan amanah yg diterima. dan kini, hari-hari kedepan, aku perlu memikirkan memberi yg terbaik dan tepat untuknya. ini bukan kemudian bicara terbaik = termahal. sesuatu yg mendominasi terkait pendidikan n pemenuhan kebutuhan anak. mindset ini telah berhasil kuhindari. aku yakin pendidikan terbaik itu bukan dimana ia nanti sekolah, dimana ia ikut playgroups, dst... tp lebih tepat bagaimana sikap kita sehari-hari selalu memberi yg terbaik kepadanya. terbaik kepadanya juga berarti terbaik untuk mantan pacarku hehehe. Belajar membangun cara pandang yang utuh akan keluarga, bukan parsial memang tidak mudah, terlebih di tengah beragam model hidup yang semakin kompleks. Keterbukaan, kejujuran dan kasih sayang sebagai bentuk realisasi amanah pada orang rumah adalah tiga kata kunci sepertinya....

Ups, saatnya bercengkerama lagi dengannya :)

Read More......

Minggu, 2009 Maret 29

amanah itu bernama M. Nizar Asyshiddiqie



Hari itu, Rabu, 25 Maret 2009, pukul 14.20 Wib, Berat 3 Kg, Panjang 49 Cm, di Klinik Cahaya Ibu..... amanah itu hadir.




Read More......

Sabtu, 2009 Maret 21

Menyoal Modernisasi Pasar Tradisional

Serpihan pembangunan dengan jargon modernisasi kini telah menjadi bagian dari denyut pembangunan, baik nasional maupun lokal/daerah. Modernisasi hmmmm..... top of mind akan istilah ini adalah sosok Koentjaraningrat. Pas semester 1 kuliah tahun 1993, di mata kuliah Ilmu Budaya Dasar waktu itu terurailah butir-butir pemikiran doi disampaikan pak pandil. Dosen yang sangat sederhana alias bersahaja di kampus biru. isu saat itu adalah Modernisasi-Westernisasi-Pembangunanisasi (MWP).
Terlepas dari tali temali MWP, deru perubahan di berbagai titik berkembang dan indikator sepertinya dominan pada aspek materi/fisik, salah satunya kasus Pasar Tradisional. dari MWP itu, sepertinya Modernisasi menjadi kata kunci yang sepertinya mengalami pembiasan makna. Secara merata hampir di seluruh Indonesia, penanganan Pasar Tradisional yang diidentikkan dengan modernisasi adalah betonisasi atau Mal-isasi tempat pasar tradisional.


Pembiasan makna ini menjadi "darurat" untuk dicermati karena menyangkut banyak hal dan nilai. Pertama, nasib pedagang informal di pasar tradisional yang jumlahnya secara akumulasi se-Indonesia cukup signifikan; Kedua, nasib supplier yang sebagian besar juga pedagang, petani n nelayan tradisional; Ketiga, pembeli yang juga dominan kalangan orang awam atau orang-orang biasa; Keempat, kebersahajaan Indonesia sebagai bangsa yang mayoritas dihuni oleh orang-orang biasa akan pupus....
Dengan 4 hal tersebut, menjadi menarik untuk ditinjau secara kritis deru pembangunan yang tengah berjalan. Terlebih kini nyaris miskin diskursus yang dapat berbahaya bila tidak dikembangkan dan dijaga perkembangannya. Manakala dunia ide mati, maka mekanisme check n balances dalam pembangunan akan dominan pada dunia materi dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah maraknya korupsi, proses pembangunan semakin mengarah ke basis tawar menawar harga, bukan tawar menawar prioritas pensejahteraan rakyat.

Bila melihat beberapa hasil modernisasi pasar tradisional di sejumlah tempat, baik di jawa maupun kalimantan, sepertinya modernisasi memang sebatas dimaknai dengan upaya merubah image pasar yang becek n semrawut ke pasar yang ber-ac n ditata. Abai dengan modernisasi perilaku pedagangnya, bahkan pada beberapa tempat modernisasi pasar tradisional mengarah kepada penggusuran pedagang pasar tradisional secara "elegan" dan "sistematis" yang tidak memerlukan bantuan satpol PP atau polisi, melainkan menggunakan mekanisme ekonomi, yaitu harga pintu atau harga sewa.

Modernisasi pasar tradisional yang diniatkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan perbaikan nasib pedagang pasar tradisional menjelma menjadi pembunuh pedagang-pedagang informal yang selama ini dapat survive. Kadang ketika proyek modernisasi akan dilakukan, para pedagang dikumpulkan dan diberi sosialisasi. tentunya sulit berharap logik-bisnis pedagang menerima, kadang mereka terbius dengan maket pasar bila sudah dibangun dan seterusnya. Ada juga yang asal main bangun n pedagangnya diminta pindah dan diprioritaskan untuk menempati tempat semula bila mampu membayarnya hahahahhhaaaaaaaaaaaaa..... Mantap, bukankah ini mirip praktik bisnis John Perkins yang menulis buku ‘Confessions of an Economic Hit Man’. Nah, bila tanda-tandanya sama, maka yang sebagian tengah berjalan sekarang adalah penghancuran bangunan ekonomi tidak hanya dalam skala nasional, tp justru sudah memasuki ceruk-ceruk pembangunan. Maka, bukankah yang akan terjadi adalah kehancuran perekonomian nasional. Wowwwww, sepertinya kalkulasi ini terlalu jauh yah :(.

Mencontoh Pertamina
Pertamina adalah salah satu organisasi bisnis made in indonesia yang tampaknya dapat melakukan transformasi diri dengan lebih tepat lewat slogan PASTI PAS. betapa tidak, semakin hari, kita dapat dengan mudah menemukan SPBU Shell, Petronas, dll. Pertamina tidak gopoh bersikap, justru berhasil cermat bersikap dalam konteks persaingan bisnis.

Apa kaitannya dengan pasar tradisional?. jelas sangat kuat dapat dicontoh apa yang dilakukan oleh pertamina. Sudah banyak dikeluhkan oleh pengunjung pasar tradisional akan timbangan para pedagang pasar tradisional serta kadang sikap berdagang yg kurang marketable. Mulai dari hanya menggunakan celana pendek tanpa baju, tangan yang kurang bersih dan sejenisnya. Nah... ini maksudnya sisi modernisasi yang hilang atau abai dari perhatian pemerintah. Aspek layanan dari para pedagang tersebut. Disinilah pentingnya pendampingan skill marketing para pedagang secara tepat yang merupakan akar masalah. Coba kita andai-andai, kegelisahan banyak kalangan akan nasib pedagang pasar tradisional dan perilakunya dikomunikasikan dan para pedagang diberi sentuhan marketing, akankah pasar tradisional kita sekotor dan sesemrawut sekarang???. (bersambung)





Read More......

Minggu, 2009 Maret 01

Tsunami zakat Indonesia



Berita hari Jum'at/27 Februari 2009 menyentak dan mengejutkan kita, khususnya stakeholder zakat Indonesia karena Menteri Agama menyatakan dalam pertemuan dengan para wakil daerah di Gedung DPD. Beliau memaparkan salah satu agenda kedepan adalah pengelolaan zakat hanya oleh BAZ saja. Pertanyaannya LAZ di apakan ?.

Bukankah klaim BAZNAS menghimpun dana hampir 800 M yang membuat SBY berniat melakukan tasyakuran bila BAZNAS dapat menghimpun 1 Triyun itu pada kenyataannya lebih 75% dana ZIS tersebut dihimpun oleh LAZ, bukan BAZNAS sendiri. Nah, lantas, apakah SBY dibohongi oleh........ ?. atau bagaimana yah ?.


Wacana zakat dikelola negara memang menjadi salah satu pilihan dari sejumlah alternatif. Tapi anehnya, ketika pengelolaan zakat tak dilirik dan tidak "gemuk" waktu dimana LAZ belum berkembang, kalangan di Depag memposisikan zakat sebagai kegiatan ujung alias nomor dua, nomor satu tentunya HAJI dunk.

Namun ketika pada aktivis LAZ se Indonesia dan di daerah2 berhasil secara "berjamaah" membangun kepercayaan publik ala Civil Society, tiba-tiba mereka membentuk BAZNAS baru di tahun 2000... hmmm, sebelumnya kemana saja ?.

Anehnya, ketika sekarang BAZNAS tidak maksimal (lha wong baru berbuat), yang disalahkan "ini gara-gara ada LAZ, jadi BAZNAS tak bisa maksimal" wahhhhh.... aneh bin lumrah. Dari berbagai sisi menjadi kewajaran bila BAZNAS belum maksimal, namun yang aneh kok justru disalahkan "gara-gara LAZ?".

Hmmm, ketika anak-anak muda Indonesia tengah melakukan langkah kecil di tanah kering mulai menuai kepercayaan, Menteri Agama berniat membubarkannya ?. Bayangkan, ribuan mustahik yang tengah dilayani pada berbagai program se Indonesia mau dikemanakan ?. bersamaan dengan itu, apakah ribuan muzakki lantas serta merta mau pindah berdonasi ke BAZ ?. Haruskah sejumlah program pemberdayaan yang masterpiece made in Amil Zakat Indonesia terhapus seketika, Rumah Sakit Gratis, LKC, Pemberdayaan ekonomi, layanan pendidikan gratis dan lainnya. Bahkan sejumlah LAZ telah menuai kepercayaan bukan hanya ditingkat lokal, bahkan sampai Internasional...

Sungguh, Bapak Menteri Agama tengah merencanakan bencana.... Tsunami zakat.

Read More......

Jumat, 2009 Februari 27

Membuat Satu Titik Kecil

“Yan, ini ada zakat fitrah untuk lebaran dari teman-teman kakak di kantor ini….” Ujar seorang wanita kantoran berkulit agak hitam manis, rambut ikal sebahu dengan busana kantoran. Di sebelahnya, seorang anak belia, kurus, tengah duduk di kelas 5 SD dengan raut wajah bingung namun gembira menerima sebuah amplop putih. Amplop pertama yang ia terima berisi zakat fitrah. Bingung karena selama ini dirinya selalu ditempa almarhum ayahnya yang meninggal satu tahun lalu untuk pantang meminta dan apa pula maksudnya dengan zakat fitrah?.


Belum lagi dipikir-pikir orang yang memberinya ini tidak ada hubungan keluarga, pun kenal hanya karena dirinya tinggal bertetangga. Namun kebingungannya tersebut pupus dengan rona gembira. Dirinya gembira karena menerima amplop berisi sejumlah uang yang baginya peristiwa langka. Sudah syukur baginya masih bisa sekolah dan menumpang sekaligus membantu bekerja di rumah keluarga yang kadang untuk jajan di sekolah saja belum tentu ada, tiba-tiba diberi amplop oleh orang yang bukan keluarganya. “terima kasih, Kak….” Hanya ungkapan itu kemudian yang bisa terucap.... “Pembacaan do’a....,” suara MC membuyarkan lamunanku. Kegiatan serah terima beasiswa pada milad Dompet Ummat malam itu mengingatkan seorang sahabat yang kini telah berdiri tegak dengan tangan di atas. Ia dan keluarganya bisa melepaskan diri dari jeratan kemiskinan, bahkan lebih jauh mereka lepas tanpa adanya hasrat balas dendam pada kemiskinan. Iya, balas dendam pada kemiskinan. Seorang teman sempat membuatku terjebak pada diskusi yang nyaris tak berguna menyoal fenomena korupsi pejabat-pejabat yang masa kecilnya hidup susah. Mereka terjebak pada psikologi “takut” miskin harta dan tidak ingin anak-anaknya menjadi miskin. Saking takutnya mereka, hingga melakukan mal-praktik yang justru pada gilirannya memiskinkan diri dan keluarganya. Derita kepapaan dimasa kecil sebegitu kesumat didalam dirinya, sehingga ketika dirinya menjadi pejabat atau punya kesempatan melakukan dengan maksimal, mengambil yang bukan haknya. Padahal orang-orang tersebut memiliki potensi untuk menjadi orang besar dengan paripurna, seperti salah satu pemimpin besar Indonesia yang tak berhasil menjadi orang besar paripurna untuk dikenang yang diduga oleh teman saya tak berhasil menghilangkan psikologi dendam kesumat terhadap kemiskinan.
“Zakat yang aku terima pada masa kecil hingga kini terus terekam dengan baik Vir... Ini pula yang membuat aku jadi memiliki empati yang tinggi pada anak-anak kecil seusia saya waktu menerima zakat dulu”. Ungkap Yayan di satu obrolan saat olahraga bersama penerima beasiswa pelajar di Kampus Untan, Pontianak.
“Coba ente bayangkan, waktu itu buat jajan sekolah saja aku jarang dikasih keluarga tempat aku numpang tinggal, padahal setiap hari aku bangun jam 5 subuh untuk bersihkan rumahnya. Mulai buang sampah, lap kaca, ngepel, cuci mobil. Tak jarang aku telat masuk sekolah gara-gara harus menyelesaikan kerjaan dulu”. Timpalnya sambil menyeruput tes es lepas olahraga. “Tiba-tiba ada orang yang aku cuma kenal ala kadarnya, tak pernah aku kerja pada mereka memberi uang yang jumlah sebegitu besar untuk ukuran aku”. Ujarnya sambil menerawang langit dipagi hari yang cerah itu. “inilah yang mungkin membuat aku dapat terus menahan diri untuk tidak terjerumus dalam perilaku korup vir. Alhamdulillah, dendamku pada kemiskinan tidak membuatku menjadi takut miskin”. Ucapnya mengakhiri bincang ringan di sesi olahraga pagi bersama penerima beasiswa pelajar Dompet Ummat.

Tricle Down (Not) Effect ke Kalbar
“Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Orde Baru itu sudah benar, namun efek menetes ke bawahnya selalu dibuat bendungan di setiap kolam tempat tetesan air pembangunan sehingga pemerataan dari pada masa orde baru tidak berjalan dengan baik” ujar seorang pakar pembangunan Orde Baru yang “agak baik” pada satu sesi acara mencari pola pembangunan nasional efektif. Sementara Dede Arifin, seorang teman kuliah yang cerdas mengutarakan kritikannya pada persiapan untuk diskusi pembangunan daerah tahun 1997 yang digelar Senat Mahasiswa Untan, “Bagaimana mau merata Vir, yang dibagi cuma efek tetesannya, bukan kucuran. Wajar saja kalau Kalbar terus miskin, terisolir dan tidak senasib dengan pulau Jawa atau Sumatera yang infrastruktur pembangunannya lebih baik. Mau ke Kaltim atau ke Kalteng harus pakai pesawat, tidak ada jalan darat. Itupun harus lewat Jakarta”.
Seorang teman dari Fakultas Pertanian (Kehutanan) menggerutu. “Bang, hutan kite sudah gundul, tapi seolah-olah Kalbar tak ade pembangunan. Tak usah heran kalau orang perbatasan lebih dekat dengan orang Malaysia. Mereka nonton TV Malaysia dan hidup dengan orang Malaysia. Eh, pejabat Jakarta tiba-tiba datang dan bicara mempertanyakan nasionalisme orang kite.”
“Itulah bang, memangnya nasionalisme bisa mengenyangkan perut yang lapar, di mana nasionalisme pejabat-pejabat Jakarta di waktu orang-orang kite di perbatasan sana kelaparan?” Timpal Jumadi yang hingga kini menjadi pentolan aktivis mahasiswa. “Jangankan waktu itu, di waktu sekarang saja, ketika krisis nasionalisme tumbuh secara kultural di perbatasan, nyaris belum ada satu intervensi yang efektif yang dilakukan selain bicara akan, akan dan akan!” Lanjutnya dengan mimik kesal.
“Entahlah apa dosa orang-orang kite dengan orang Jakarta, kecuali memang kita bukan saja tidak diperhatikan sehingga menjadi miskin, tapi dimiskinkan akibat perilaku elite yang korup, diskriminasi dan sentralisasi pembangunan,” lanjutku juga jadi ikut kesal. Belum lagi analisis Ichal, teman lainnya yang mencermati dari segi sosial-kultural. “Masyarakat Kalbar kini hidup di tengah keterbelahan sikap atas dasar etnik dan agama. SARA yang dipantangkan oleh Soeharto untuk didialogkan, dibincangkan dan dibangun secara terbuka dengan senjata sebagai panglimanya telah menyuburkan semangat etnisitas, sentimen antar ummat beragama dan budaya kekerasan. Isu putra daerah adalah fakta otentik kegagalan pembangunan jiwa nasionalisme, alih-alih yang terjadi adalah denasionalisasi sikap.”

Pencarian Sebuah Proses
“Kalo tak salah, ada pelatihan zakat aku tengok di internet, webnya www.imz.or.id,” ujar Ichal di tahun 2001 disela kajian “Menjadikan Zakat sebagai Pilar Pemandiri Ummat”. Mungkin aneh, zakat dibincangkan dengan super serius di Waroeng Kemponan, yang sebagian besar dananya berasal dari saweran bulanan orang-orang LSM yang bergerak berkat murah-hatinya luar negeri memberi dana hibah dan mereka yang rada dangkal pemahaman masalah fikih zakat atau nyaris tak pernah bersentuhan dengan zakat, kecuali jelang Idul Fitri setiap tahun dan jadilah aku peserta pelatihan manajemen zakat di bulan juli 2001. Pelatihan yang hanya diikuti oleh tiga orang (hampir batal tuhhh....) selama satu minggu di Ciputat menjadi salah satu jawaban utama atas carut marutnya pengelolaan ummat dan bangsa Ini.
Uraian Pak Hertanto, Mas Teten, Mas Jamil, Ust. Surahman, Ust. Taufik Ridho, dll disebuah ruang lantai 2 kantor IMZ di perkantoran Ciputat permai mengisi sudut cara pandang pencarian. It’s about strong management...!.
Semangat yang terpompa dengan bekal seminggu pelatihan ternyata tidak mudah dikembangkan di tengah krisis kepercayaan masyarakat kepada negara, hal yang juga berdampak pada lembaga-lembaga sosial. Yang berkembang dengan dana luar negeri dicibir sebagai antek asing, sedangkan lembaga lokal bagai hidup segan, matipun tak mau. Dikelola dengan semangat ikhlas dan pantang bekerja penuh waktu.
Ironis memang, sebagai daerah yang hingga kini setelah kayu dan emas habis tereksploitasi yang nyaris tanpa sisa masih menempatkan Kalbar pada peringkat ke 14 provinsi miskin di Indonesia, IPM peringkat 28 dari 33 provinsi, namun anehnya pada pembukaan hari pertama Hypermart di Pontianak, omzet 6 jamnya termasuk yang tertinggi di Indonesia.
Mengurus zakat dengan paradigma baru bukan perkara mudah, tapi juga bukan lantas tak bisa. Meski menuai beragam tanda tanya. Untuk apa mengurus zakat? Tak adakah pekerjaan lainkah sampai mau mengurus zakat dengan bergaya kantoran? Demikian sejumlah kalangan, bahkan ada tokoh masyarakat yang berkata demikian. Kapankah kultur kerumunan berubah menjadi barisan ?. Wowwww, it’s classic question…


Read More......

kotak idaman itu...

"gimana neh supaya dapat duit lagi.." gumam ali dalam hati sambil melihat satu per satu orang lewat di depannya. ia tengah mencari-cari cara menambah uang jajan yang selama ini cuma ia dapat dari sisa kembalian orang-orang yang menyuruhnya. "jualan koran udah susah karena dimarahin tante", lamunnya sambil berpikir keras mencari cara bisa mendapatkan duit tambahan. "li, main dindong yuk, gua ada duit 200 perak neh" ajak parjo sambil menarik tangan ali ke bioskop jaya. "ehh, lo ngagetin gua aja jo" sahut Ali yang terkejut sambil melepaskan tarikan tangan parjo dari belakang dan yang telah membuyarkan lamunannya.


"udahlah, daripada elo bengong ngeliatin orang lewat, mendingan nemenin gua main dindong" sahut parjo lagi sambil kembali menarik tangan Ali. Ali ngikut tarikan tangan parjo. Mereka sahabat dekat, selain kawan main bola kaki yang nyaris tiap sore di lapangan tanah kosong sebelah kuburan, parjo adalah salah satu kawan-karib Ali yang tinggal satu gang di jaya, salah satu sisi kota Jakarta.
Lebih dari 2 jam mereka bermain dindong, satu-satunya hiburan non alami di daerah situ. Yah hanya dindong, selain karena harga per koin 100 perak, juga mereka telah menjadi master di beberapa permainan. Gelar master itu meniru guru film kung fu yang memiliki keahlian tinggi yang sering mereka tonton secara gratisan di Bioskop jaya. Mereka memang tak sempat banyak menyerap pelajaran di sekolah...
Pukul 22.46 Wib, penjaga dindong semakin resah, pasalnya, orang lebih banyak menonton permainan Ali dan ali bergantian dengan parjo terus bermain dengan piawai, sesekali ia menonton permainan dua anak Jaya ini yang memang jago. "yah sialan, abis neh pelornya li" ujar parjo sambel meliuk-liukkan kendali pesawat menghindar pelor musuh. "turun ke ujung kiri pojok jo, disitu aman untuk ronde ini". Ali mengingatkan kelemahan permainan ini. "Oh, iya li" sahut parjo sambil memindahkan dengan sambil menghindar pelor pesawat musuh. "duarrr...." kendali pesawat parjo tak bisa menghindar satu pelor musuh, padahal nyaris sampai ke pojok kiri bawah. "yaahhhhh" koor sejumlah pengunjung lain yang cukup serius menonton permainan parjo sambil bubar.. "udahlah li, kita balik aja, nongkrong di gang belakang". ajak parjo lagi yang cukup kesal karena permainan mereka usai. "ayolah, kali aja di belakang anak-anak pada ngumpul".

"Jo, kita bisnis yuk" sambil berjalan dari ke belakang gang, Ali membuka omongan. "bisnis apaan li, nyari besi tua malem-malem gini, mana bisa dapet" timpal Parjo ke Ali. "gak, maksud gua bukan nyari besi, itu seh gak bisalah malem gini, kan gelap. bukan juga malem ini, tapi gua ". bales Ali. "Nah, bisnis apaan dong, elokan udah gak bisa jualan koran lagi, dilarang ama tante lo". kata parjo. "Gak tau juga tuh, gua seh kesel, padahal gua mau nyari tambahan jo.. dari mana lagi gua dapet duit, padahal jualan koran tuhkan enak, gak payah". ujar Ali. "jadi mau ngapain lagi li ?”. timpal parjo. “kita bisnis semir sepatu yuk jo”. Ujar Ali dengan ekspresif. ”gua dari kemaren ngeliatin mang jali, kayaknya asyik jo. Sekali semir bisa dapet 100 ampe 200 perak”. Lanjut Ali. ”kita nge-tem di depan gang aja jo, dari siang balik sekolah terus lanjut lagi abis isya. Coba dulu aja jo, nah kita patungan, beli semir, sikat ama bikin kotaknya. Papan bekas gua ada dirumah, Cuma buat beli semir ama sikatnya kita ngumpulin dulu jo”. Papar Ali. ”boleh yan... besok kita kerjain dulu kotaknya, nanti lagi kita omongin, tuh anak-anak udah pada ngumpul, kita gabung, tapi masalah ini gak usah dulu diomongin” kata parjo. ”iyalah” balas Ali sambil mereka berdua masuk ngumpul ama teman-temannya di ujung gang dengan petikan gitar dan koor lagu.... yang selalu sampai tengah malam baru usai....

Read More......

Kamis, 2009 Februari 26

Akankah terus mengecat balok es ?

Sebagai bangsa yang jumlah penduduknya salah satu terbesar di dunia, Indonesia tentunya memiliki banyak nama-nama penduduk. Berikut kutipan berita dari sejumlah media, mungkin anda kenal siapa saja mereka, kalaupun anda lupa, silahkan bertanya dengan mbah google atau mbah lainnya, selamat mengenali.....


Haryanto, siswa SDN IV Garut, Jawa Barat; Sembodo, anak muda Kebumen, Jawa Tengah; Eko Haryanto, siswa SD Kepunduhan 01 Kramat, Tegal, Jawa Tengah; Fifi Kusrini (14), siswi SMPN 10 Bekasi; Siti Barkah (87) Rt 001/18 Pamulang Timur, Tangerang, Banten; Iwan di belakang Masjid Istiqlal, jakarta pusat; istri tukang becak di Kelurahan Bunga Eja, Makassar, Sulawesi Selatan; Darniati, Bunga Eja, Makassar; Daeng Basse, Makassar; Dede (38) “Manusia Pohon”; Sumarna, Si Manusia Gerobak...

Read More......