“Yan, ini ada zakat fitrah untuk lebaran dari teman-teman kakak di kantor ini….” Ujar seorang wanita kantoran berkulit agak hitam manis, rambut ikal sebahu dengan busana kantoran. Di sebelahnya, seorang anak belia, kurus, tengah duduk di kelas 5 SD dengan raut wajah bingung namun gembira menerima sebuah amplop putih. Amplop pertama yang ia terima berisi zakat fitrah. Bingung karena selama ini dirinya selalu ditempa almarhum ayahnya yang meninggal satu tahun lalu untuk pantang meminta dan apa pula maksudnya dengan zakat fitrah?.
Belum lagi dipikir-pikir orang yang memberinya ini tidak ada hubungan keluarga, pun kenal hanya karena dirinya tinggal bertetangga. Namun kebingungannya tersebut pupus dengan rona gembira. Dirinya gembira karena menerima amplop berisi sejumlah uang yang baginya peristiwa langka. Sudah syukur baginya masih bisa sekolah dan menumpang sekaligus membantu bekerja di rumah keluarga yang kadang untuk jajan di sekolah saja belum tentu ada, tiba-tiba diberi amplop oleh orang yang bukan keluarganya. “terima kasih, Kak….” Hanya ungkapan itu kemudian yang bisa terucap.... “Pembacaan do’a....,” suara MC membuyarkan lamunanku. Kegiatan serah terima beasiswa pada milad Dompet Ummat malam itu mengingatkan seorang sahabat yang kini telah berdiri tegak dengan tangan di atas. Ia dan keluarganya bisa melepaskan diri dari jeratan kemiskinan, bahkan lebih jauh mereka lepas tanpa adanya hasrat balas dendam pada kemiskinan. Iya, balas dendam pada kemiskinan. Seorang teman sempat membuatku terjebak pada diskusi yang nyaris tak berguna menyoal fenomena korupsi pejabat-pejabat yang masa kecilnya hidup susah. Mereka terjebak pada psikologi “takut” miskin harta dan tidak ingin anak-anaknya menjadi miskin. Saking takutnya mereka, hingga melakukan mal-praktik yang justru pada gilirannya memiskinkan diri dan keluarganya. Derita kepapaan dimasa kecil sebegitu kesumat didalam dirinya, sehingga ketika dirinya menjadi pejabat atau punya kesempatan melakukan dengan maksimal, mengambil yang bukan haknya. Padahal orang-orang tersebut memiliki potensi untuk menjadi orang besar dengan paripurna, seperti salah satu pemimpin besar Indonesia yang tak berhasil menjadi orang besar paripurna untuk dikenang yang diduga oleh teman saya tak berhasil menghilangkan psikologi dendam kesumat terhadap kemiskinan.
“Zakat yang aku terima pada masa kecil hingga kini terus terekam dengan baik Vir... Ini pula yang membuat aku jadi memiliki empati yang tinggi pada anak-anak kecil seusia saya waktu menerima zakat dulu”. Ungkap Yayan di satu obrolan saat olahraga bersama penerima beasiswa pelajar di Kampus Untan, Pontianak.
“Coba ente bayangkan, waktu itu buat jajan sekolah saja aku jarang dikasih keluarga tempat aku numpang tinggal, padahal setiap hari aku bangun jam 5 subuh untuk bersihkan rumahnya. Mulai buang sampah, lap kaca, ngepel, cuci mobil. Tak jarang aku telat masuk sekolah gara-gara harus menyelesaikan kerjaan dulu”. Timpalnya sambil menyeruput tes es lepas olahraga. “Tiba-tiba ada orang yang aku cuma kenal ala kadarnya, tak pernah aku kerja pada mereka memberi uang yang jumlah sebegitu besar untuk ukuran aku”. Ujarnya sambil menerawang langit dipagi hari yang cerah itu. “inilah yang mungkin membuat aku dapat terus menahan diri untuk tidak terjerumus dalam perilaku korup vir. Alhamdulillah, dendamku pada kemiskinan tidak membuatku menjadi takut miskin”. Ucapnya mengakhiri bincang ringan di sesi olahraga pagi bersama penerima beasiswa pelajar Dompet Ummat.
Tricle Down (Not) Effect ke Kalbar
“Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Orde Baru itu sudah benar, namun efek menetes ke bawahnya selalu dibuat bendungan di setiap kolam tempat tetesan air pembangunan sehingga pemerataan dari pada masa orde baru tidak berjalan dengan baik” ujar seorang pakar pembangunan Orde Baru yang “agak baik” pada satu sesi acara mencari pola pembangunan nasional efektif. Sementara Dede Arifin, seorang teman kuliah yang cerdas mengutarakan kritikannya pada persiapan untuk diskusi pembangunan daerah tahun 1997 yang digelar Senat Mahasiswa Untan, “Bagaimana mau merata Vir, yang dibagi cuma efek tetesannya, bukan kucuran. Wajar saja kalau Kalbar terus miskin, terisolir dan tidak senasib dengan pulau Jawa atau Sumatera yang infrastruktur pembangunannya lebih baik. Mau ke Kaltim atau ke Kalteng harus pakai pesawat, tidak ada jalan darat. Itupun harus lewat Jakarta”.
Seorang teman dari Fakultas Pertanian (Kehutanan) menggerutu. “Bang, hutan kite sudah gundul, tapi seolah-olah Kalbar tak ade pembangunan. Tak usah heran kalau orang perbatasan lebih dekat dengan orang Malaysia. Mereka nonton TV Malaysia dan hidup dengan orang Malaysia. Eh, pejabat Jakarta tiba-tiba datang dan bicara mempertanyakan nasionalisme orang kite.”
“Itulah bang, memangnya nasionalisme bisa mengenyangkan perut yang lapar, di mana nasionalisme pejabat-pejabat Jakarta di waktu orang-orang kite di perbatasan sana kelaparan?” Timpal Jumadi yang hingga kini menjadi pentolan aktivis mahasiswa. “Jangankan waktu itu, di waktu sekarang saja, ketika krisis nasionalisme tumbuh secara kultural di perbatasan, nyaris belum ada satu intervensi yang efektif yang dilakukan selain bicara akan, akan dan akan!” Lanjutnya dengan mimik kesal.
“Entahlah apa dosa orang-orang kite dengan orang Jakarta, kecuali memang kita bukan saja tidak diperhatikan sehingga menjadi miskin, tapi dimiskinkan akibat perilaku elite yang korup, diskriminasi dan sentralisasi pembangunan,” lanjutku juga jadi ikut kesal. Belum lagi analisis Ichal, teman lainnya yang mencermati dari segi sosial-kultural. “Masyarakat Kalbar kini hidup di tengah keterbelahan sikap atas dasar etnik dan agama. SARA yang dipantangkan oleh Soeharto untuk didialogkan, dibincangkan dan dibangun secara terbuka dengan senjata sebagai panglimanya telah menyuburkan semangat etnisitas, sentimen antar ummat beragama dan budaya kekerasan. Isu putra daerah adalah fakta otentik kegagalan pembangunan jiwa nasionalisme, alih-alih yang terjadi adalah denasionalisasi sikap.”
Pencarian Sebuah Proses
“Kalo tak salah, ada pelatihan zakat aku tengok di internet, webnya www.imz.or.id,” ujar Ichal di tahun 2001 disela kajian “Menjadikan Zakat sebagai Pilar Pemandiri Ummat”. Mungkin aneh, zakat dibincangkan dengan super serius di Waroeng Kemponan, yang sebagian besar dananya berasal dari saweran bulanan orang-orang LSM yang bergerak berkat murah-hatinya luar negeri memberi dana hibah dan mereka yang rada dangkal pemahaman masalah fikih zakat atau nyaris tak pernah bersentuhan dengan zakat, kecuali jelang Idul Fitri setiap tahun dan jadilah aku peserta pelatihan manajemen zakat di bulan juli 2001. Pelatihan yang hanya diikuti oleh tiga orang (hampir batal tuhhh....) selama satu minggu di Ciputat menjadi salah satu jawaban utama atas carut marutnya pengelolaan ummat dan bangsa Ini.
Uraian Pak Hertanto, Mas Teten, Mas Jamil, Ust. Surahman, Ust. Taufik Ridho, dll disebuah ruang lantai 2 kantor IMZ di perkantoran Ciputat permai mengisi sudut cara pandang pencarian. It’s about strong management...!.
Semangat yang terpompa dengan bekal seminggu pelatihan ternyata tidak mudah dikembangkan di tengah krisis kepercayaan masyarakat kepada negara, hal yang juga berdampak pada lembaga-lembaga sosial. Yang berkembang dengan dana luar negeri dicibir sebagai antek asing, sedangkan lembaga lokal bagai hidup segan, matipun tak mau. Dikelola dengan semangat ikhlas dan pantang bekerja penuh waktu.
Ironis memang, sebagai daerah yang hingga kini setelah kayu dan emas habis tereksploitasi yang nyaris tanpa sisa masih menempatkan Kalbar pada peringkat ke 14 provinsi miskin di Indonesia, IPM peringkat 28 dari 33 provinsi, namun anehnya pada pembukaan hari pertama Hypermart di Pontianak, omzet 6 jamnya termasuk yang tertinggi di Indonesia.
Mengurus zakat dengan paradigma baru bukan perkara mudah, tapi juga bukan lantas tak bisa. Meski menuai beragam tanda tanya. Untuk apa mengurus zakat? Tak adakah pekerjaan lainkah sampai mau mengurus zakat dengan bergaya kantoran? Demikian sejumlah kalangan, bahkan ada tokoh masyarakat yang berkata demikian. Kapankah kultur kerumunan berubah menjadi barisan ?. Wowwww, it’s classic question…
Read More......